Misteri Mati Suri yang Fenomenal

0
201

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Al-Qur’an menyebut terma kematian sebagai ajal (batas) dan wafat (memenuhi atas janji). Dalam sebuah ayat-Nya, Allah menyebut kata wafat dan ajal digandeng dengan kata mati sekaligus (Az-Zumar : 42).
الله يتوفى الانفس حين موتها والتى لم تمت في منامها فيمسك التى قضى عليها الموت ويرسل الاخرى الى اجل مسمى . ان فى ذالك لايات لقوم يتفكرون
Artinya: Allah mewafatkan jiwa seseorang pada saat kematiannya dan jiwa seseorang sebelum mati ketika tidur. Maka Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan ditentukan (ajalin musamman)….

Dari sini Al-Hafidz Ibnu Katsir membagi terma wafat menjadi dua. Pertama, wafat sughra (tidur). Kedua, wafat kubra (kematian).

Di era 1980-an, saya membaca Harian Suara Karya, yang melaporkan kejadian mati suri di Roma yang fenomenal. Seorang ibu (36) bernama Maria, tiba-tiba gagal jantung dan mati. Suaminya memanggil dokter untuk mendiagnosanya. Menurut dokter, nyonya Maria betul-betul sudah wafat. Maka ia dikuburkan sesuai agamanya; Katholik.

Pada malam pertama dari penguburan itu, dokter merasa didatangi Maria yang berteriak. “Doook, saya belum mati”. Dokternya mendengar suara itu, tetapi abai, karena dianggap irasional. Ini berjalan tiga malam.

Singkat cerita, dokter minta izin wali kota Roma untuk menggali kubur nyonya Maria. Dengan disaksikan polisi, ternyata Maria sudah mati dan peti mati sebelah dalam bagian atas ada goresan-goresan kuku dari jari-jari Maria yang disimpulkan sebagai meronta ingin keluar dari peti kubur.

Pertanyaannya. Apakah pesan yang diterima dokter dari nyonya Maria hanyalah kerja otak dengan kapasitas ESP (Extra Sensory Perception), yang berupa clairaudience (mendengar tanpa via HP) dan clairvoyance (melihat tanpa alat lihat)? Padahal pada malam ketiganya, tidak mustahil Maria sudah mati sungguhan.

Yang fenomenal, kebanyakan ahli menyimpulkan, bahwa kondisi Near Death Experiences itu belum benar-benar mati. Sehingga pengalaman orang mati suri sebenarnya kerja otak si mati suri yang masih aktif.

Sementara Prof Komarudin Hidayat dalam tayangan Kick Andy, ketika mewancarai Aslina asal Bengkalis yang mati suri itu, mengaitkannya dengan kehidupan setelah mati (eskatologis).

Kasus lain, saya pernah mewancarai Mr Y. Suatu malam, ia kecelakaan tunggal di Bogor setelah berdakwah di sebuah desa pegunungan. Dia merasa, diri Mr Y sendiri keluar dari jasadnya. Ia melihat dirinya terbujur di jalan raya. Ia khawatir kalau jasadnya terlanggar mobil melintas, bisa mati, pikirnya. Maka ia berusaha menghubungi sopir yang mau melewati jasadnya.

Namun tiap supir yang ia tanpa raga itu masuk ke kabin untuk menghubungi agar bisa menolongnya, ternyata mereka ada reaksi tetapi tidak memahami (abai). Mereka lewat saja. Baru setelah ada mobil jeep dengan supir pakai jaket kulit cokelat dan topi koboi, ia bereaksi untuk menolongnya.

Mr Y yang jasad ini dibawa ke puskesmas Leuliyang. Tiba di situ, dokter mendiagnosis Mr Y sudah mati. Mr Y mendengar diagnosis dokter itu. Ia merasa dilawat orang bejubah yang datang via tembok, dan yang berjas via pintu.

Begitu shif kerja, dokter yang baru masuk bertanya. “Ada sesuatu?” “Ada jenazah kecelakaan”. Kata dokter malam. “Jangan dulu dikatakan mati”, kata dokter pagi. Setelah itu Mr Y merasa gelap dan tak ada ingatan. Baru setelah siang, ia bangun dan kaget karena sudah dipasang infus dan lainnya.

Baru kaget itu, lewatlah seseorang yang menoleh ke arah Mr Y. Begitu menoleh, mereka saling pandang dan sapa, karena ternyata dia adalah sopir jeep yang semalam membawa ke puskesmas.

Lalu, bagaimana kontak dari otak yang sudah divonis mati dengan si jaket kulit cokelat itu? Nampaknya perlu riset yang lebih mendalam untuk menelusuri tafsir satu ayat al-Quran tersebut. Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi al-‘Aliyyi al-‘Adziim!!! (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM

Penulis adalah Rektor Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

Comments