
Oleh Dr H Nur Said SAg MA
Setiap kali bulan Suci Ramadan datang menjelang, umat Islam di Kudus dan sekitarnya menyambut dengan suka dan cita. Maka mementum kehadiran bulan Ramadan menjadi sesuatu yang istimewa.
Bahkan penanda masuknya bulan Ramadan ini menjadi sebuah tradisi penting bagi umat Islam di Kudus yang kehadirannya tak lepas dari peran Sunan Kudus. Tradisi tersebut populer di masyarakat dikenal dengan Dhandangan, yang menurut cerita dicetuskan oleh Sunan Kudus.
Tradisi itu bermula dari kebiasaan mendengarkan pengumuman dari sesepuh masjid Menara Kudus (baca: Sunan Kudus) mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa.
Pengumuman tersebut diawali dengan pemukulan beduk yang berbunyi dhang-dhang-dhang. Bunyi beduk itulah yang memunculkan kata Dhandangan, sehingga kebiasaan tersebut dikenal dengan tradisi Dhandangan.
Salah satu fenomena budaya bagi masyarakat Kudus Kulon dalam tradisi tradisi Dhandangan terutama pada puluhan tahun yang lalu adalah menjadikan momentum ini sebagai ajang silaturrahim antar sanak saudara.
Bahkan tak jarang momentum Dhandangan juga menjadi media ta’aruf agar orang tua yang memiliki putra putri (gadis) segera menemukan jodohnya, pemuda ideal.
Namun kini, sudah mengalami pergeseran. Tradisi Dhandangan sudah milik publik dengan berbagai kepentingan yang ada, baik kepentingan ekonomi, politik, sosial, budaya maupun keagamaan.
Dari berbagai kepentingan tersebut, muaranya tetap berakar pada etos Gusjigang (Bagus, Ngaji dan Dagang) yang dikenal masyarakt sekitar sebagai warisan budaya Kangjeng Sunan Kudus.
Karena itu Gusjigang bukan sekedar modal kultural dan modal spiritual tetap profil teladan Gusjigang menjadi semacam praksis dan impian sebagian masyarakat Kudus sebagai motivasi berprestasi (achievement motivation) yang berakar dari warisan Kangjeng Sunan Kudus.
Bahkan ketika dunia dilanda pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, termasuk di Kudus yang sempat salah satu zona hitam di Indonesia waktu itu, dengan spirit Gusjigang alhamdulillah Kudus mampu melewati pandemi tersebut dengan aman.
Revitalisasi Gusjigang di Dhandangan
Gusjigang sebagai etos telah nampak sejak dakwah Sunan Kudus dalam jejak dakwahnya di pesisir utara Jawa ini ini. Namun Gusjigang sebagai kajian akademik mulai menyeruak sejak komunitas pesantren kerjasama Pesantren Entrepreuneur Al Mawaddah dengan Penyelenggara Pameran Pedang Nabi di GOR Kudus mendeklarasikan “Poros Gusjigang” bersamaan peluncuran buku: Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa (10 Oktober 2010), yang di dalam buku tersebut juga sedikit menyinggung genealogi Gusjigang.
Gayung bersambut lalu bertepatan dengan usia emas Keluarga Kudus Yogyakarta (KKY) juga menyelenggarakan Pentas Ngaji Budaya, Gusjigang Nyawiji Ing Sukma, Kolaborasi seni, drama dan tari. Pada 5 Februari 2018 yang membius ribuan peserta di Balai Jagong Kudus.
Panggung Gusjigang Nyawiji ing Sukma seakan menyegarkan kembali ingatan kolektif bahwa Kudus memiliki modal kultural dan spiritual yang tangguh yang perlu direvitalisasi untuk bangsa.
Lalu, pada akhir tahun 2018 atas upaya Mubarokfood bersama sejumlah seniman dan sebagian akademisi di Kudus akhirnya berdiri Gusjigang X Building sebagai bagian dari Museum Jenang Kudus yang berisi karya sastra dan dokumen sejarah profil Gusjigang berikut meseum lanskap Kudus tempo doelo terkait budaya kretek, kaligrafi, rumah adat Kudus, trilogi ukhuwwah, jejak Sosrokartono hingga miniatur Menara Kudus yang mencerminkan jiwa dan etos Gusjigang. Sebelumnya, pada tahun 2012 Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) membuat dan menerbitkan buku Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus, Karamah Penuh Barakah.
Buku itu mengupas tentang tradisi dan makna buka luwur (kain penutup nisan dan kelambu) makam Sunan Kudus yang di dalamnya juga tersirat etos spirit Gusjigang.
Yang menarik, dalam setiap peringatan ta’sis Masjid Menara Kudus (Masjid Al Aqsha) pada bulan Muharrom sebagian rangkaian kegiatan selain acara religi, pelengkapnya juga sarat dengan sentuhan budaya jadoel mulai saresehan budaya, pentasi seni, sastra dan budaya, kuliner hingga kirab punden dan banyu penguripan berikut belik dan sendang sebagai penanda jejak jaringan dakwah Islam santun dari Sunan Kudus.
Secara kelembagaan Lentera Gusjigang juga berkembang terintegrasi dengan Pesantren Prisma Quranuna Kudus sejak 2021
Dengan demikian dalam 20 tahun terakhir Gusjigang makin menjadi buah bibir dan bahkan dalam dunia akademik semakin banyak topik penelitian menarik terkait Gusjigang yang sudah publish di berbagai jurnal nasional maupu internasional.
Dhandangan dan Gusjigang City Walk.
Agar etos Gusjigang tidak sekedar menjadi wacana atau ramai dalam dialektika diskursif, maka perlu ruang budaya sebagai praksis tiga core value Gusjigag yakni Bagus sebagai ikhtiar menjaga keluhuran (bagus)nya akhlak, Ngaji sebagai wujud semangat rasa ingin tahu (sense of curiosity) dalam berbagai bidang ilmu dan Dagang sebagai menifestasi membangun khaira ummah yang kuat iman dan ekonominya, maka berdirilah Lentera Gusjigang di bawah Yayasan Prisma Quranua Indonesia, di depan persis kampus utama UIN Sunan Kudus.
Lentera Gusjigang dalam hal ini sebagai hardware, sebuah pilar bangunan sederhana kecil, tiga lantai, namun memiliki impian untuk menginstallkan software model Gusjigang Leadership agar hidup (living gusjigang) kini dan nanti secara suastainable.
Lantai I sebagai pusat bisnis santri, Wakul Mas (Warung Kuliner Mahasiswa) yang terintegrasi dengan Pesantren Riset Mahasiswa (Prisma) Quranuna yang berfungsi juga sebagai aula untuk kajian berbagai kitab salaf (kitab kuning) warisan Islam tradisional, subkultur pesantren yang berdialog dengan skologi cyberprenership berikut. Sedang lantai II dan III adalah sebagai asrama santri mukim.
Salah satu program khusus di Prisma Quranuna saat Ramadan adalah Prismaguna (Program intensif santri mahasiswa/i responsif gender multiguna) yang dibuka tahunan saat Ramadlan. Dengan pola ini prinsip inovasi pesantren Al Muhafadhatu ‘alal qadimi ash-sholeh wal akhdzu biljadidi al-ashlah diharapkan menjadi aksi nyata bukan sekedar slogan belaka.
Kontestasi Budaya Dhandangan
Seperti Umberto Eco (1979) bilang reproduksi budaya akan selalu terjadi dalam proses kontestasi relasi antar tanda budaya. Hadirnya ruang budaya (medan) adalah sebuah kontestasi yang di dalamnya benturan nilai akan terjadi kalau tidak dikelola dengan baik.
Disamping Lentera Gusjigang, ruang budaya modern dengan kehadiran Kudus City Walk yang terbentang yang berada di Jalan Sunan Kudus menghubungkan alun-alun simpang tujuang (Kantor Kabupaten Kudus) dengan Menara Kudus perlu dimaknasi sebagai jalur manunggalnya ulama dan umara dalam mengembangkan masyarakat yang lebih beradab, yang dalam terminologi sejarah Kudus lama dikenal dengan Kudus Darussalam.
Dalam bahasa sufisme sering disebut jugs manunggaling kawula ing Gusti. Menyatunya hamba dengan Sang Khalik sebagai menaifestasi tauhid dalam makna khusus yang diwujudkan dalam ruang budaya.
Makna kosmologinya adalah menara sebagai representasi ulama/para Kyai sementara alun-alun/Kadipaten Kudus adalah sebagai ruang pusat pemerintahan yang menunjukkan adanya kesalingan interaktif secara produktif mengawal jalannya pemerintahan yang selaras dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.
Maka Kudus City Walk dalam momen Dhandangan menjelang Ramadhan ini bukan sekedar ruang untuk pengembangan ekonomi UMKM tetapi juga sebagai ruang menumbuhkan etos Gusjigang Leadership sehingga nuansa budaya santrinya perlu dimunculkan juga.
Hal ini bisa dengan memunculkan produk-produk inovasi unggulan pesantren sebagai penopang wisata religi. Nuansa ini akan melahirkan Gusjigang City Walk dibalik ruang Kudus City Walk.
Dengan seperti ini, maka publik yang ingin memahami varian pesantren di Kudus, cukup berkunjung ke Dhandangan. Menikmati berbagai produk UMKM, produk unggulan inovasi pesantren dan sekaligus mengungkapkan rasa senang akan hadirnya bulan suci Ramadlan dengan kesiapan lahir dan batin. Butuh kolaborasi memang untuk mengantarkan trdisi Dhandangan menjadi lebih meaningfullness selaras dengan semangat zamannya secara diskursif dan transformatif.
Maka ketika Gusjigang semakin menjadi diskursus, akan melahirkan proses pemaknaan (signifying practices) yang berakar pada mode budaya yang telah hidup sejak era kewalian Sunan Kudus (mode of reality) dan terus akan diadopsi oleh generasi santri berikutnya yakni Santri Menara dan sekitarnya sebagai model realitas ideal kini dan nanti (mode for reality).
Inilah mengapa tradisi Dhandangan masih bertahan di Kudus sejak sebelum Kudus City Walk ada bahkan hingga kapanpun selama Ramadhan akan tiba. Marhaban Ya Ramadlan. (*)
Dr H Nur Said SAg MA,
Penulis adalah Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunilasi Islam (FDKI) UIN Sunan Kudus dan Sekretaris PCNU Kabupaten Kudus.








































