Kader NU dan Pengembangan Sektor Peternakan

0
348

Idul Adha 1442 H / 2021 M baru saja berlalu. Kemeriahan Idul Adha sangat nampak, kendati masih dalam suasana pandemi Covid – 19. Ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang menunaikan kurban, baik kambing, kerbau maupun sapi.

Namun ada yang berbeda dengan setiap kali Idul Adha datang di Kabupaten Kudus. Di mana kebanyakan masyarakat yang notabene Nahdliyin, kerbau menjadi hewan kurban yang “dipilih” dan “meninggalkan” sapi.

Kerbau sebagai pilihan hewan untuk kurban, bukan sapi, lantaran ada “pesan budaya” yang dipegang oleh masyarakat, agar masyarakat tidak menyembelih sapi.

Adalah Kanjeng Sunan Kudus, yang pada masanya -sebagaimana diyakini masyarakat hingga kini- yang berpesan kepada masyarakat supaya tidak menyembelih sapi, lantaran pada waktu itu, ada sebagian masyarakat non Muslim yang mempercayai sapi sebagai hewan suci.

Adanya pesan budaya itulah, masyarakat Muslim di Kabupaten Kudus hingga sekarang, tidak menyembelih sapi. Kerbau pun menjadi hewan kurban yang populer dan jadi pilihan masyarakat.

Ini juga kemudian yang “menahbiskan” Kudus sebagai kota dengan napas toleransi yang sangat tinggi.

Prospektif: Ternak Kerbau

Ada pertanyaan – pertanyaan mendasar yang layak diajukan di sini. Berapa ekor kerbau -selain kambing- yang dipergunakan masyarakat untuk berkurban tahun ini? Berapa dari kalangan Nahdliyin yang kurban kerbau? Berapa ekor kerbau yang kader Nahdliyin bisa penuhi dari banyaknya kerbau yang dibutuhkan untuk kurban?

Inti dari pertanyaan – pertanyaan mendasar itu, adalah bahwa betapa sektor peternakan memiliki peluang yang sangat prospektif. Sebab, banyak sekali kebutuhan/ permintaan yang harus dipenuhi.

Pada saat Idul Adha, misalnya. Dari kurang lebih 123 desa yang ada di Kabupaten Kudus, jika masing – masing desa dirata – rata 10 ekor kerbau saja, maka dibutuhkan sebanyak 1.230 ekor kerbau untuk kebutuhan kurban. Ini bukanlah jumlah yang kecil.

Maka peluang kader Nahdliyin sangat besar, jika mampu mengembangkan bisnis di sektor peternakan. Dan di tubuh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sendiri, tentu ada lembaga yang bergerak di bidang pengembangan peternakan.

Tentu, untuk pengembangkan sektor peternakan oleh kader Nahdliyin, butuh pengawalan lembaga di tubuh NU yang membidangi.

Jika sudah ada kader NU yang mengembangkan sektor tersebut, maka layak diapresiasi. Tetapi jika belum dikembangkan dengan baik, maka butuh pengawalan serius, agar kader Nahdliyin mengambil peluang untuk mengembangkan sektor tersebut, yang akan berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat, khususnya di kalangan Nahdliyin. Wallahu a’lam. (redaksi)

Comments