Kelas Seni Kaligrafi KBPW, Ikhtiar Lestarikan Seni Islam di Lereng Muria 

0
126
Anak-anak antusias mengikuti kelas kaligrafi KBPW

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) rutin menggelar kelas seni kaligrafi sepekan sekali, yang digelar setiap Jumat.

Kelas seni kaligrafi dimulai selepas Salat Ashar hingga pukul 17.00 WIB di Panggung Ngepringan KBPW, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Digelar sejak 2021 lalu, program tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian seni Islam Nusantara di lereng Muria.

Kelas seni kaligrafi tidak hanya diikuti anak-anak Desa Piji Wetan, tetapi juga anak-anak dari berbagai wilayah di Kabupaten Kudus.

Dalam praktiknya, penulisan kaligrafi dilakukan dengan menggunakan kalam atau pena khusus yang dipotong miring.

Muhammad Choirul Anam, salah satu mentor, mengutarakan, bahwa seni kaligrafi tidak sekadar seni tulis menulis semata, melainkan juga bisa menjadi sarana pembentukan karakter terhadap anak-anak.

“Kaligrafi itu mengajarkan tekad, kesabaran, dan istikamah. Tiap huruf Arab tidak bisa ditulis dengan tergesa-gesa. Dari situ, maka hati akan mulai tertata,” katanya.

Anam yang sudah menjadi mentor kaligrafi sejak 2023 itu, menyampaikan, dalam kelas seni kaligrafi, selain diajarkan detil kaidah huruf per huruf, juga diajarkan kaidah penulisan dari potongan ayat-ayat Al Quran.

Peserta tidak hanya berlatih seni, melainkan dalam proses belajar juga mendapat nilai ibadah. “Menulis kaligrafi berarti menulis sekaligus membaca ayat suci, keduanya bernilai pahala,” ujarnya.

Sedikitnya 25 peserta dari berbagai jenjang usia mengikuti kelas seni kaligrafi dengan antusias. Kelas dibagi dalam dua tingkatan, yakni kelas dasar dan kelas lanjutan.

“Kelas dasar ditujukan kepada anak-anak yang baru terjun ke dalam dunia seni kaligrafi, biasanya tingkat SD atau MTs. Sedangkan untuk kelas lanjutan, diperuntukkan bagi mereka yang sudah cukup menguasai kaidah penulisan kaligrafi,” lanjut Anam menjelaskan saat ditemui pada Jum’at (6/2/2026).

Ditambahkannya, tiap satu semester sekali akan diadakan pengkaryaan bagi kelas lanjutan. “Sehingga dalam satu tahun mereka memiliki sedikitnya dua karya. Supaya dapat mengeksplorasi kaligrafi menggunakan media-media lain seperti canvas ataupun cat,” jelasnya.

Tak hanya menyontohkan, mentor juga ikut serta mendampingi dan mengoreksi setiap karya peserta agar sesuai dengan seni dan kaidah penulisan dalam kaligrafi.

“Ini penting diperhatikan karena ciri dari kaligrafi dengan tulisan lain, terletak pada kaidah penulisannya,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu Anam pun mengajak kepada seluruh peserta, meningkatkan nilai kesenian melalui karya. “Ada karya yang tercipta, dan ada orang yang ditempa melalui proses berkarya,” tuturnya. (*)

Alya Zykratul Rahma, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus.

Comments