Peserta Terbaik LAKUT IPNU Ammar Muhammad Dzikro, Tak Mengejar Popularitas

0
369
Peserta Terbaik LAKUT IPNU Ammar Muhammad Dzikro aktif di LAKUT belum.lama ini (Foto dari Pelajar Kudus)

KUDUS,Suaranahdliyin.com – Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) asal Cendono Dawe Kudus Ammar Muhammad  Dzikro meraih predikat peserta terbaik IPNU dalam pengkaderan formal Latihan Kader Utama (LAKUT) di MANU Nahdlatul Muslimin Undaan, belum lama ini.

Pria yang akrab disapa Ammar ini merasa  terkesan selama mengikuti kegiatan yang diadakan PC IPNU-IPPNU Kudus selama lima hari, Jum’at-Selasa  (2-6/2/3036). Ia mengatakan proses kaderisasi tidak hanya sebagai agenda formal, melainkan wadah pengasahan pola pikir serta karakter seorang kader.

“Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan loyalitas kader yang berkarakter, serta lebih adaptif dan visioner dalam dinamika kaderisasi,”ujarnya.

Perjalanan organisasinya di lingkungan NU tidak singkat. Bermula saat ia berkhidmah di IPNU-IPPNU Cendono dan mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) pada 2018. Hingga pada 2021-2022, Ammar dipercaya sebagai Ketua IPNU Komisariat MA NU Miftahul Falah.

Pengalaman organisasinya berlanjut sebagai Ketua Pimpinan Ranting (PR) IPNU Cendono serta Wakil Ketua III Bidang Jaringan Pesantren dan Sekolah (JPS) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Dawe masa khidmah 2023-2025.

“Jika kita ingin meraih sesuatu yang indah, maka prosesnya pun tidak akan mudah,”tandas mahasiswa UIN Sunan Kudus ini.

Doa serta dukungan dari keluarga, para guru, serta rekan-rekanita PAC IPNU-IPPNU Dawe, tutur dia, membuatnya terus melangkah hingga saat ini.

“Terima kasih atas doa, bimbingan, dukungan, serta semangat yang telah diberikan kepada saya. Ke depan, saya masih membutuhkan keilmuan yang lebih dalam dan juga komprehensif,” ujar Ammar.

Ammar yang gemar membaca buku ensiklopedia dan buku-buku karya cendekiawan muslim, terutama tokoh-tokoh muslim dari timur berpendapat seorang kader harus mampu melihat persoalan dari berbagai sisi dan aspek agar lebih sabar dan matang dalam mengambil keputusan.

Saat mengikuti LAKUT, Forum Group Discussion (FGD) menjadi ruang refleksi terdalam yang mengajarkan Ammar tentang kerendahan hati dan semangat belajar.

“Mental saya teruji ketika FGD. Saya sadar akan keilmuan yang saya miliki masih dasar dari para instruktur dan pemateri,”jelasnya.

Meski demikian, Ammar mengaku sangat bersyukur dan antusias dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan LAKUT PC IPNU-IPPNU Kudus.

“Proses itu penting. Seperti bunga yang butuh waktu untuk mekar,” ungkapnya.

Sebab, Ammar mengaku niat awal mengikuti LAKUT hanya ingin mengejar keilmuan yang membumi, tanpa ambisi mencari validasi atau popularitas. Namun, hal ini justru mengantarkannya meraih predikat ‘Peserta Terbaik IPNU dalam kegiatan LAKUT PC IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus.’

Bagi Ammar, predikat peserta terbaik bukan tentang popularitas. Ia memaknainya sebagai kesadaran akan kualitas dan kebermanfaatan.

“Lebih baik menjadi air putih yang dibutuhkan banyak orang daripada menjadi berlian yang disukai banyak orang,” tuturnya.

Ia juga meyakini bahwa seseorang yang bertambah ilmunya, maka bertambah pula kebijaksanaan, bukan egonya.

Ammar pun menambahkan pesan kepada kader muda NU agar tidak takut mencoba dan terus berproses. “Kesempatan tidak datang satu kali, tetapi datang kepada orang yang mau mencoba berkali-kali,”imbuh Ammar.

[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]

Comments