Mujaddid Sarungan: Menyambut Abad II NU

0
119

Oleh: Mc Anam

Satu abad telah berlalu, sejak para kiai berkumpul di Surabaya pada 1926 untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

Kini, saat melangkah masuk ke abad kedua, publik tidak lagi hanya bertanya tentang masa lalu, melainkan siapa “Mujaddid” (pembaru) yang akan membawa organisasi ini menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.

Tradisi menyebutkan, bahwa setiap seratus tahun akan lahir pembaru agama. Namun, di abad II ini, sosok “Mujaddid Sarungan” mungkin tidak lagi mewujud dalam satu individu tunggal, melainkan mewujud dalam gerakan kolektif yang menyentuh empat pilar krusial: Metodologi, Ekonomi, Ekologi, dan Digital.

Mujaddid Metodologi: Fikih Peradaban Jangkar Dunia

Jika abad I NU disibukkan dengan legitimasi negara bangsa, maka abad II adalah tentang kepemimpinan moral di tingkat global.

Melalui gagasan Fikih Peradaban, NU melakukan ijtihad besar untuk merekontekstualisasi kitab-kitab klasik agar relevan dengan Piagam PBB dan Hak Asasi Manusia.

Pembaruan ini penting, agar umat Islam tidak lagi terjebak dalam dikotomi “Darul Islam” dan “Darul Harbi”. Mujaddid metodologi ini, memastikan bahwa menjadi Muslim yang taat berarti menjadi warga dunia yang menjunjung tinggi kesetaraan manusia, tanpa harus kehilangan identitas santrinya.

Mujaddid Sosial-Ekonomi: Membangun Kemandirian Umat

Islam yang menjadi Rahmatan lil ‘Alamin tidak bisa hadir dari tangan yang di bawah. Abad kedua NU menuntut lahirnya gerakan pembaru di bidang ekonomi.

Inilah saatnya mengubah basis massa NU dari sekadar “objek pembangunan” menjadi “subjek ekonomi”.

Selama ini, profil santri sering kali hanya diidentikkan dengan penguasaan kitab klasik dan urusan ukhrawi. Mujaddid ekonomi melakukan pembaruan mentalitas dengan menghidupkan kembali etika dagang kaum santri (sebagaimana akar Nahdlatut Tujjar tahun 1918).

Pembaruan ini menekankan bahwa kemandirian ekonomi bagian dari jihad masa kini. Menjadi kaya untuk memberi manfaat kepada sesama adalah manifestasi dari keshalehan sosial yang nyata.

Kemandirian ekonomi pesantren dan optimalisasi zakat-wakaf secara profesional adalah kunci. Mujaddid di bidang ini adalah mereka yang mampu mengawinkan etika santri dengan profesionalisme korporasi, memastikan bahwa kemiskinan bukan lagi menjadi penghalang bagi martabat umat.

Mujaddid Ekologi: Fikih Lingkungan  

Dunia sedang menghadapi krisis iklim yang nyata. NU, dengan basis ribuan pesantren di wilayah pedesaan dan pesisir, memiliki tanggung jawab moral untuk memimpin gerakan Fikih Lingkungan.

Mujaddid ekologi adalah kiai dan santri yang berdakwah tidak hanya di atas mimbar, tetapi juga melalui aksi nyata: konservasi air, penolakan perusakan hutan, dan pengelolaan sampah. Menjaga alam adalah bagian dari iman (Hifdzul Biah), dan NU harus menjadi garda terdepan dalam memastikan bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.

Mujaddid Digital dan Intelektual: Menaklukkan Algoritma

Di era kecerdasan buatan (AI) dan banjir informasi, narasi agama seringkali dikuasai oleh kelompok yang “bersuara keras” namun dangkal secara ilmu.

NU memerlukan mujaddid digital yang mampu menerjemahkan kedalaman kitab kuning ke dalam bahasa konten yang segar, ringkas, dan mencerahkan.

Pembaruan intelektual ini memastikan bahwa nilai-nilai moderasi (Wasathiyah) tidak tenggelam oleh algoritma kebencian. Santri abad kedua adalah mereka yang fasih membedah teks klasik sekaligus mahir dalam coding dan literasi digital.

Harapan di Balik Mujaddid Sarungan

“Mujaddid Sarungan” adalah simbol bahwa untuk menjadi modern, kita tidak perlu membuang sarung kita, tidak perlu membuang identitas keislaman dan keindonesiaan kita.

Dengan empat pilar pembaruan di atas, NU tidak hanya akan bertahan sebagai organisasi besar secara jumlah, tetapi juga besar secara pengaruh bagi peradaban dunia.

Selamat datang di abad II. Saatnya kaum sarungan bukan lagi penjaga tradisi semata, melainkan arsitek masa depan dunia.

Mc Anam,

Penulis adalah pengurus PC GP Ansor Kabupaten Pudus, Pengurus Pusat ISNU dan alumnus Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Comments