
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. dan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) ke-103 Hijriah bertepatan 100 tahun Miladiyah, serta 1 abad Masjid Jami’ Al-Muttaqin dibalut dalam satu rangkaian Pengajian Umum pada Sabtu (31/1/2026).
Pengajian Umum diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PR IPNU-IPPNU) desa Megawon Jati Kudus berkolaborasi dengan seluruh badan otonom dan lembaga NU, serta seluruh pengurus Masjid Jami’ Al-Muttaqin Dukuh Krajan, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten kudus.
Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Megawon Muhammad Jami’an mengajak kepada seluruh hadirin untuk terus memantapkan akidah Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah. “Akidah Aswaja An-Nahdliyah terus kita perkuat sebagai pegangan dalam beragama, bermasyarakat, dan menjaga keutuhan bangsa,”pesannya dalam sambutannya.
Bertempat di Masjid Jami’ Al-Muttaqin yang didirikan sejak tahun 1925 yang penuh berkah ini, pembicara Ust. Fahrur Rozak memberikan pengertian Isra’ Mi’raj. Perjalanan yang dilakukan Rasulullah saw. pada malam 27 bulan rajab, mulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan dari Masjidil Aqsa menuju Sidrotul Muntaha.
“Allah Swt. memanggil Nabi Muhammad saw. untuk menerima wahyu salat sehari semalam, sebanyak 17 rakaat. Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat, lalu Isya 4 rakaat,” bebernya.
Pesan dari peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salat 5 waktu yang harus dijaga. “Salat bersifat wajib. Selama akal dan kesadaran masih melekat pada diri seseorang. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun,” jelas Ust. Fahrur Rozak.
“Innash-shalata kanat ‘alal-mu’minina kitabammauquta. Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin,” lanjutnya.
Ust. Fahrur Rozak mengajak kepada seluruh jamaah agar peringatan 1 abad Masjid Jami’ Al-Muttaqin tidak hanya seremonial belaka. Namun juga terdapat esensi dari peringatan ini agar lebih makmur, serta semakin rapatnya shaf salat.
Ia menuturkan, apabila sudah melaksanakan salat 5 waktu secara teratur, maka dapat diperkuat dengan salat berjamaah.Sebagaimana sesuai dengan sabda Rasulullah saw., Ust. Fahrur Rozak mengisahkan. Ibnu Ummi Maktum r.a. yakni seorang sahabat yang lahir dalam keadaan buta, serta memiliki rumah yang jauh dari masjid.
“Ia (Ummi Maktum) bertanya kepada Rasulullah saw. tentang keringanan untuk salat dirumah saja. Rasulullah saw. lalu bertanya apakah ia masih mendengar adzan. Ibnu Ummi Maktum menjawab masih mendengar adzan. Rasulullah saw. lalu bersabda, bukankah kamu mendengar hayya ’ala shalaat, hayya ‘alal falaah? (suara adzan). Maka segeralah datang!” ungkapnya.
Atas perintah dari Rasulullah saw., Ibnu Ummi Maktum melaksanakan salat berjamaah walaupun terjatuh berkali-kali dalam perjalanan menuju masjid. “Ketika kamu (Ibnu Ummi Maktum) terjatuh saat perjalananmu ke masjid, ketahuilah, Allah Swt. mengampuni seluruh dosa-dosamu. Ketika jatuh yang kedua kalinya, Allah mengampuni dosa keluargamu. Dan ketika jatuh yang ketiga kalinya, Allah Swt. juga mengampuni dosa tetangga-tetanggamu,” ujar Ust. Fahrur Rozak dalam akhir mauidhohnya.
Ia berharap adanya peringatan ini, para jamaah bisa mengaplikasikan dan meneladani isi dari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. yakni salat 5 waktu, terlebih disempurnakan dengan salat berjamaah.
Acara selanjutnya dilanjutkan pembacaan Maulid Simtudduror yang dipimpin oleh Ust. H. Ashfal Maula (Gus Apank) diiringi dengan grup rebana Hubbunnabiy dan penerbang se-Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]




































