Perspektif Imam Al-Mawardi Tentang Sabar

0
173

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Dalam kitab Adab ad-Dunya wa al-Dien, Imam Al-Mawardi merinci sabar dengan berbagai penjelasan. Kemudian saya elaborasi dan sederhanakan dalam beberaoa contoh kejadian di dunia nyata.

Pertama: الصبر على امتثال ما امرالله. Sabar dalam menjalankan perintah Allah. Ini sesuai firman Allah agar jin dan manusia beribadah hanya kepada Allah (QS. 51: 56).

Seluruh kehidupan ini adalah ibadah, selama setiap langkah hidupnya sesuai dengan hukum Allah, baik ibadah itu termasuk ibadah mahdhah ataupun ghairu mahdhah. Maka orang yang sabar akan senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dengan lapang dada.

Dalam pada itu, hukum Allah, menurut Syaikh Profesor Thaha Jabir Al-‘Ulwani dalam kitab “La Ikraha fi al-Dieni” dibagi dalam empat karegori. A). Hukum yang tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Contohnya salat subuh dua rakaat, siyam Ramadan selama sebulan. Menambah atau mengurangi, hukumnya haram, termasuk bid’ah dhalalah.

B). Hukum yang boleh ditambah tetapi tidak boleh dikurangi. Misal: ibadah korban yang minimal berupa kambing untuk satu orang, tetapi kalau mampu dan mau sapi untuk satu orang juga lebih baik.

C). Hukum yang boleh dikurangi tetapi tidak boleh ditambah. Contohnya seorang kelaki boleh menikahi empat wanita. Kalau ditambah tidak boleh, tapi satu saja-pun boleh.

D). Hukum yang boleh ditambah dan boleh dikurangi. Misal: sedekah (bukan zakat). Mau sehari sekali, dua kali bahkan lebih, boleh. Lalu berzikir, juga berdoa. Ibadah berupa doa bahkan boleh menyusun kata dan isinya sendiri.

Kedua: الصبر على ما اقتضيه اوقاته. Sabar atas keputusan tentang waktu-waktunya. Apapun dan kapanpun yang mengenai kita, pergantian situasi dan kondisi yang tak pernah berhenti hendaklah selalu diterima dengan sabar.

Pepatah Arab mengatakan:

رايت الدهر مختلفا يدور # فلا حزن يدوم ولا سرور. Artinya: Aku melihat waktu berganti ganti berputar, maka tidak ada susah yang ber-antah dan seneng yang langgeng. Senang dan susah selalu dihadapi dengan sabar.

Ketiga: الصبر على ما فات ادراكه من رغبة مرجوة. Artinya: Sabar atas hal (rencana-harapan-cita-cita) yang terlepas dari jangkauannya.

Sebagai manusia, semestinya memiliki rencana, program jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Kalaupun rencana  itu tidak tercapai, ia tidak putus asa, apalagi bunuh diri. Betapapun begitu, rencana yang realistis, sistematis, memang harus dibuat. Rencana realistis dan sistematis  adalah tanda keterpelajaran seseorang.

Harold mengatakan: Planning is a great intellectual effort. Dalam pada itu, rencana  yang paling cerdas menurut Nabi Muhammad adalah orang yang mampu merencanakan dan beramal demi baiknya hidup setelah kematiannya. (At-Tirmidzi, H. Hasan)

Keempat: الصبر فيما يخشى حدوثه. Artinya: Sabar akan terjadinya hal yang ditakuti. Manusia terkadang gelisah, galau, gundah, cemas dan takut tentang hal yang akan terjadi. Misalnya: pensiun, PHK, sakit, musibah, peperangan, bencana, mati, dan lainnya. Orang yang sabar akan terbebas dari ketakutan terhadap hal ini. Atau setidaknya, terhindar dari rasa cemas yang berlebihan. Meskipun begitu, ikhtiar dan antisipasi tetap harus dilakukan.

Kelima: الصبر فيما يتوقعه من رغبة يرجوها. Artinya: Sabar dalam menanti tercapainya kesenangan yang ia harapkan. Setelah menanam, investasi dan lainnya hendaklah orang sabar akan datangnya kesenangan dalam menuai. Kemudian jika dapat, tidak lupa daratan dan tidak juga  mabuk lautan.

Keenam: الصبر على ما نزل من مكروه. Artinya; Sabar terhadap datangnya hal yang tidak menyenangkan. Hujan deras angin puting beliung, halilintar menerjang kian kemari, diterima dengan ikhlas hati sembari berikhtiar menjauhinya. Bisa jadi hal yang tidak menyenangkan itu, justru baik bagi kalian. (QS. 2: 216)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua MUI Kabupaten Wonosobo dan mantan Rektor Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

Comments