Sekilas Varian Lanskap Bid’ah

0
178

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

  1. Bid’ah dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an ada empat ayat yang berderivasi dari akar ب، د، ع (bid’ah). Yaitu:  QS. 57: 27; 46: 9; 2: 117 dan 6: 101. Dua ayat dari ke empat ayat tersebut adalah bid’ah berupa “af’alullah=perbuatan Allah SWT.” dalam  “Penciptaan Alam Semesta” yang tersurat pada QS. 2: 177. . بديع السموات والارض …

Artinya: Dialah Pencipta langit-langit dan bumi… ” Dan ayat satunya pada QS. 6: 101.

  1. Awal Bid’ah

Bid’ah yang pertama dalam Islam adalah kodifikasi Al-Qur’an era Khalifah Abu Bakar atas usul Sahabat Umar Bin Khatthab. Usul tersebut mulanya ditolak oleh Sahabat Abu Bakar, katanya:

كيف افعل شياء لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم. Artinya: Bagaimana saya harus menjalankan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw. Umar ra.menjawab: هو والله خير. Artinya:  demi Allah hal yang baik (Bukhari no 4311; Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komperehensip, 2003).

Penolakan Sahabat Abu Bakar pastinya karena persepsinya, bahwa hal itu sebagai bid’ah syar’y, bukan lughawi. Apalagi respons yang sama diucapkan oleh Zaid Bin Tsabit yang ditunjuk menjadi ketua “Panitia Empat” proyek tersebut. Setelah dialog intens, mereka sepakat menerimanya.

Inilah hal yang melahirkan kur ulama yang membagi bid’ah menjadi hasanah dan sayyiah seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah (Majmu’ Fatawa 20/163) dan Muhammad Ibnu Abdul Wahab dll. Maka Jam’ul Qur’an  menurut panutan kaum Wahabi ini adalah termasuk bid’ah hasanah:

نخلع كل بدعة الا بدعة لها اصل في الشرع كجمع عمر التراويح وجمع القران وجمع ابن مسعود اصحابه كل خميس على القصص ونحوذلك فهذا حسن.

Artinya: Kami melepas semua bid’ah, kecuali bid’ah yang ada asalnya dalam syariat. Seperti jamaah tarawih, mengkodifikasi Al-Qur’an, kumpul-kumpul hari Kamis oleh Ibnu Mas’ud untuk membicarakan kisah-kisah dll. Yang begini adalah bid’ah hasanah (Ad-Durar as-Saniyah 5/103).

Apalagi panutan kaum Wahabi ini di mata sebagian ulama’nya, dipandang seperti nabi.

 

فاقام الله هذا الامام في اهل نجد مقام نبي وايده بالامراء العادلين والاءامة المهديين من ال سعود وعلى راءسهم الامام محمد بن سعود رحمه الله.

Artinya: … maka Allah telah memposisikan Imam Muhammad Bin Abdulwahab ini di kalangan ahli Najd sebagai seorang nabi yang ditopang oleh pemimpin yang adil dan Imam yang mendapatkan petunjuk dari keluarga Saud dibawah kuasa Muhammad Bin Saud rahimahullah (Abdullah Bin Jarullah, Al-Jami’ al-Faried lil as’i wal Ajwibati ‘ala Kitab at-Tauhid, hlm.5 dalam Jamu Cinta NKRI 2021/10/29. 23:19).

Berbeda dengan M. Abdulwahab, Syaikh Al-Utsaimin menyatakan:

قوله (كل بدعة) كلية عامة شاملة مسورة باقوى ادوات الشمول والعموم (كل) افبعد هذه الكلية يصح ان تقسم البدعة الى ثلاثة او الى خمسة اقسام؟ ابدا هذا لا يصح.

Intinya: ungkapan hadis (kullu bid’atin) yang bersifat kuliyah, universal dan komperehensif itu selamanya tidak sah untuk dibagi-bagi menjadi tiga, lima dst. (Bid’ah itu hanya ada satu, dhalalah, pen.), (Al-Ibda’u fii Kamaali al-Syar’i wa Khazhr al-Ibdaa’i, hlm. 13). Memang dalam kitab yang lain beliau membagi bid’ah menjadi dua yakni bid’ah diniyah yang haram dan bid’ah duniawiyah yang halal (Syarah Al-Aqidah al-Wasithiyah, hlm.639-640).

Dalam soal bid’ah duniawiyah, kaum Wahabi-Salafi variatif. Raja Abdul Aziz as-Saud (1950-an) disanggah sebagai pembuat bid’ah oleh Syaikh Abdullah Ibnu Hasan Alu Syaikh karena membuat pemancar radio, karena disangka yang bicara di radio adalah setan (Robert Lacy, The Kingdom, 1981 dalam Ikhwanul Kirom Mashuri, Republika.co.id.09 Oct. 2017.06 wib). Kini, soal TV Roja’ juga ramai di kalangan mereka. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

 

Comments