Kisah Tanah ‘Kejaba’ yang Kini Jadi Jantung Industri  

0
140
Kantor kepala Desa Mejobo

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki pusat aktivitas baru di Kecamatan Mejobo. Dan Desa Mejobo adalah episentrumnya.

Desa yang terletak strategis di pinggiran kota in, bukan sekadar lokasi industri dan Pasar Brayung; ia adalah cerminan dari warisan sejarah yang unik, yang dimulai dengan keistimewaan statusnya sebagai tanah bebas pajak.

Ternyata, ada pengaruh Mataram di balik keistimewaan desa. Jelasnya, jauh sebelum menjadi pusat ekonomi, Mejobo adalah tanah perdikan, status yang didapatkan berkat tokoh pendirinya, Suryo Kusumo.

Suryo Kusumo adalah keturunan bangsawan dari Kerajaan Mataram Yogyakarta, yang setelah memeluk Islam, menetap dan menjadi pemimpin (Ki Demang) di wilayah ini.

“Status ‘trah Mataram’ yang diemban Suryo Kusumo memberikan privilege bagi daerah tersebut: tanah merdikan atau bebas pajak,” terang Kiai Subkan, ketua pengurus Makam Suryo Kusumo.

Kiai Subkan menjelaskan, selain daerah tersebut, tetap membayar pajak. “Bayar pajak kecuali (kejaba) tanah in,” lanjutnya menambahkan.

Istilah “Kejaba” (kecuali) inilah yang kemudian bertransformasi menjadi “Nggejobo”, dan kemudian dikenal sebagai “Mejobo”.

Namun setelah Suryo Kusumo wafat, keistimewaan pajak itu berakhir, dan Mejobo kembali menjadi desa biasa. Namun demikian, namanya terabadikan dari status historisnya yang istimewa.

Dan untuk diketahui, warisan Suryo Kusumo tidak hanya berupa nama, tetapi juga nilai-nilai spiritual. Setelah diakui sebagai Wali Allah oleh Mbah Kiai Sanusi (Jekulo), makam tokoh yang kelak disebut masyarakat sebagai Mbah Suryo Kusumo yang terdiri atas tumpukan batu putih tempat jasadnya ditemukan itu kemudian dikenal dengan Makam Boto Putih.

Makam itu pun menjadi magnet warga untuk berziarah, khususnya pada bulan Syaban. Ikatan spiritual ini sangat kuat, terlihat dari banyaknya peziarah yang datang dari Cirebon, sebagai pengakuan atas tali kekerabatan Suryo Kusumo dengan kerabatnya di Pesarean Tegalarum.

Pemerintah Desa Mejobo dan Masyarakat pun merayakan sejarah ini secara besar-besaran melalui perayaan Haul dan Buka Luwur setiap 12 – 16 Maulud (penanggalan hijriyah).

Perayaan ini bukan sekadar ritual, melainkan pesta budaya yang menghormati perjuangan Suryo Kusumo. Puncaknya adalah kirab Gunungan Hasil Bumi dan Nasi Tiwul mengelilingi desa.

Ya. Mejobo adalah perpaduan unik antara denyut perekonomian modern, dengan akar sejarah yang mendalamsebuah desa yang namanya berawal dari pengecualian, tetapi kini menjadi standar kemajuan di Kudus. (*)

David Ananda Putra, mahasiswa Prodi PBSI FKIP UMK.

Comments