Milad Sang Pemimpin Dunia

0
329

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Setiap 12 Rabi’ul Awal, mayoritas umat Islam memeringatinya sebagai milad Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Baginda Nabi, adalah manusia sebagaimana manusia lainnya (QS. 18: 110). Beliau enggan disanjung melebihi batas (Bukhari no 3445).  Bahkan Allah memerintahkan kepada kita untuk bersholawat mendoakan Nabi (QS. 33: 56) yang sudah dijamin oleh-Nya sebagai ahli Surga, agar tetap dalam batas kemanusiaannya.

Saat Baginda Rasulullah ditanya apakah akan masuk surga karena amalnya? Beliau jawab: “Tidak”. “Kita masuk surga bukan hanya karena amal semata, tetapi yang baku justru karena rahmat-Nya” (Muslim 2817).

Silakan beliau disanjung setinggi apapun, asal jangan mempertuhankan, menyetarakan, menganak-tuhankan dan sebagainya (Al-Burdah, Al-Bushairi; Sayid Muhammad Al-Maliki, Al-Bayan wat-Ta’rief fi Dzikra al-Maulidin-Nabawi, 23). Beliau adalah hamba, kekasih-Nya dan Sayyid sebagaimana Nabi Yahya (QS. 3: 39).

Dan Rasulullah adalah uswah hasanah (QS. 33: 21) dalam segala aspek kehidupan: a).  Seorang yang berakhlaq luhur (QS. 68: 4); b). Kekeh memegang amanah (al-Amin) dalam jiwa keluhuran (Diwan Chans Sharma, The Prophets of the East, Calcutta: 1953, 122); c). Penebar kasih sayang (QS. 9: 128); d). Rahmat bagi alam semesta (QS. 21: 107); e). Pemimpin spiritual, nominal dan temporal yang kekuasaannya mengguncang dunia (John Austin, Muhammad the Prophet of Allah, T. P’S and cassel’s weekly for 24 tahun, September 1927); f). Tidak pernah meyiarkan agama dengan kekerasan (A.S. Triton, Islam, London: 1951, 21; De Lacy O’ Leary, Islam at the Crossroads, London: 1923, 8); g). Sukses memimpin dua dimensi yakni dunia/ negara dan akhirat/ agama (Michael Hart, The 100 A Ranking of the Most Influential Persons in History, New York: Hart Publishing company, 1978), dan lainnya.

Sebagai uswah hasanah, mutiara ajaran beliau tidak hanya dipegangi umat Islam, tetapi juga umat yang lain di dunia. Di antaranya:

1). Nama beliau menjadi satu dari 18 tokoh hukum sedunia yang dijadikan inspirator dan dipampang di Kejaksaan Agung AS;

2). Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 135 ditulis sebagai motivasi keadilan komperehensip dipintu gerbang Universitas Harvard, AS; Raja Charles III dari Inggris mengutip ketegasan al-Quran (QS. 5: 32), melindungi satu jiwa manusia sekalipun (18/12/2019, harlah Islamic Gala Dinner);

3). Pendirian Negara berdasar “Shahifah Madaniyah” (Konstitusi Madinah) yang berbasis musyawarah menjadi role model Negara-negara di era kontemporer;

4). Mendahulukan kewajiban (juty) daripada hak (right)  sebagaimana ajaran Allah (QS. 1: 5) lebih menjamin kesejahteraaan ketimbang konsep yang mendahulukan hak daripada kewajiban dan kini menjadi harapan warga dunia;

5). Perang berkeadaban yang diinisiasinya (Muslim 1365; Tirmidzi 1429; Bukhari 3015), telah menjadi hukum perang internasional;

6). Penegakan hak kaum wanita yang dirintisnya menjadi citra modernitas kehidupan sosial dunia zaman now. Kemuliaan wanita dalam Islam ditulis oleh orientalis Perancis  Brufansal dalam La Civilisation Arabe en Espsgne, dll. (Republika.co.id);

7). Ajaran kasih sayang pada hewan yang diajarkan, sampai dinyatakan ada seorang perempuan PSK yang diampuni dan diterima pertobatannya gara-gara memberi minum anjing kehausan (Bukhari 2363; Muslim 2244). Sebaliknya, disiksanya seorang perempuan yang mengurung kucing sampai mati kelaparan (Bukhari 3482; Muslim 2242);

8). Beliau perintahkan memelihara lingkungan dengan tidak menebang pohon sembarangan meskipun dalam peperangan (Prof. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, QS. Al-Hasyr ayat 5);

9). Kecintaannya terhadap perdamaian menjadikan delegasi Unesco Prof Robert Mc Gee menyebut Islam sebagai agama paling damai sedunia;

10). Beliau didik umat tidak boros dalam menggunakan air  meskipun berada di sungai yang mengalir. Hadis ini ditulis pada kemasan botol air di AS (Do not waste water even if you were at a running stream).

Demikian di antara uswah hasanah Rasulullah, dan tetntu masih banyak lagi yang bisa diketengahkan. Wallahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

 

Comments