Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan yang selalu menghadirkan suasana istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Di bulan inilah kita berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri.
Namun, di tengah semangat tersebut, kita juga perlu menyadari bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari syukur atas nikmat Allah. Salah satu bentuk ikhtiar menjaga kesehatan itu adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang saat berbuka puasa.
Menjaga pola makan saat berbuka sangat penting karena makanan yang kita konsumsi akan memengaruhi kondisi tubuh. Jika kita makan secara berlebihan atau tidak seimbang, berbagai masalah kesehatan bisa muncul, seperti gangguan pencernaan, perut kembung, lonjakan gula darah, hingga obesitas. Selain itu, pola makan yang baik akan membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih optimal.
Momen berbuka puasa memang menjadi saat yang paling dinanti. Namun, tidak jarang kita terjebak pada fenomena “balas dendam” ketika melihat berbagai hidangan di meja makan. Semua ingin disantap: yang manis, yang digoreng, hingga yang bersantan. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan, termasuk dalam urusan perut.
Islam mengajarkan bahwa tubuh adalah amanah dari Allah SWT. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195). Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Memasukkan makanan secara berlebihan ke dalam perut yang kosong setelah berpuasa sekitar 13 jam dapat mengejutkan sistem pencernaan. Secara medis, lambung membutuhkan adaptasi. Jika langsung dipaksa bekerja keras, tubuh bisa terasa lemas, perut kembung, dan kadar gula darah melonjak drastis yang dapat memicu rasa kantuk dan kelelahan.
Pola makan berlebihan saat berbuka bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mengurangi kualitas ibadah kita.
Agar tetap bugar dan ibadah semakin khusyuk, mari kita terapkan pola berbuka yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Segerakan berbuka (ta’jil) ketika waktu Maghrib tiba dengan air putih dan kurma. Kurma mengandung gula alami dan serat yang cepat diserap tubuh menjadi energi tanpa membebani pencernaan.
Setelah berbuka ringan, tunaikan salat Maghrib terlebih dahulu. Jeda ini memberi waktu bagi tubuh menerima sinyal kenyang sehingga kita tidak makan secara berlebihan. Rasa kenyang baru benar-benar terasa sekitar 20 menit setelah makan.
Jika kita makan sampai merasa “pas”, sering kali akhirnya terasa terlalu penuh. Karena itu, ingat prinsip sepertiga: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk udara.
Kurangi pula gula dan lemak berlebih. Takjil yang terlalu manis dan bersantan pekat dapat menyebabkan lonjakan gula darah lalu diikuti rasa lemas. Sebaiknya pilih buah segar, kurma, atau makanan alami yang lebih ringan bagi tubuh. Gorengan yang tinggi lemak juga sebaiknya dibatasi karena dapat membuat tubuh terasa berat dan mudah lelah.
Tujuan makan saat berbuka adalah untuk mengembalikan energi agar kita mampu melaksanakan salat Tarawih, witir, dan tadarus Al-Qur’an dengan optimal. Jika kita makan berlebihan, yang terjadi justru mata mengantuk, tubuh terasa berat, dan ibadah menjadi kurang maksimal.
Karena itu, terapkan pola 3J saat berbuka: jumlah yang tidak berlebihan, jenis makanan yang halal dan thayyib (baik dan menyehatkan bagi tubuh) dengan memperbanyak sayur, buah, dan protein sehat, serta jeda antara takjil dan makan besar setelah salat Maghrib.
Mari praktikkan tiga langkah sederhana setiap sore: awali dengan air putih dan tiga butir kurma, beri jeda untuk menunaikan salat Maghrib, dan pilih makanan alami serta bergizi agar tubuh tetap ringan saat melaksanakan 11 atau 23 rakaat Tarawih.
Jadikan meja makan sebagai meja ketaatan. Ambil yang perlu, bukan semua yang diinginkan. Perut yang ringan akan memudahkan kita bersujud lebih lama di hadapan Allah.
Berbuka dengan pola sehat adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan. Dengan menjaga pola makan, kita tidak hanya merawat tubuh, tetapi juga menjaga kualitas “pertemuan” kita dengan Allah dalam setiap salat malam di bulan suci ini.(*)
(Murdiati adalah Wakil Ketua PC Fatayat NU Kudus. Tulisan ini diolah dari materi Program Senja Sebelum Tarawih ( SASET) kerja sama PC Fatayat NU Kudus dengan Stasiun Radio Lokal/Yuli)









































