
KUDUS,Suaranahdliyin.com – Guru Besar UIN Sunan Kudus Dr. H. Ahmad Atabik, Lc., M.S.I menyampaikan mauidhah hasanah dalam Darusan Umum – Pengajian Pitulasan di Gedung Menara Kudus belum lama ini. Pada kesempatan itu, ia mengangkat tema kemukjizatan Al-Qur’an.
H. Ahmad Attabik menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril.
“Siapa pun yang membaca atau pun mendengarkan Al-Qur’an akan memperoleh pahala dari Allah Swt,” tutur guru besar bidang ilmu tafsir asal Rembang ini.
Attabik juga menyampaikan hadits tentang keutamaan membaca Al-Qur’an, afdhalu ibadati ummati qira’atul qur’an.(Sebagus dan semulia-mulianya ibadah umat Nabi Muhammad adalah membaca Al-Qur’an)
“Wa ma kana libasyarin ay yukallimahullahu illa wahyan au miw wara’i hijabin au yursila rasulan fa yuhiya bi’idznihi ma yasya, innahu ‘aliyyun hakim. Cara Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi ada tiga cara,” ungkapnya.
Cara pertama, lanjut dia, wahyu datang melalui ilham (mimpi) yang benar. Ia mencontohkan wahyu yang datang melalui mimpi ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Kedua, wahyu datang dari balik hijab. Ia mencontohkan Nabi Musa yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah tanpa melihat dzat-Nya.
“Ketiga, wahyu datang melalui perantara malaikat. Hal ini terjadi pada Nabi Muhammad di mana seluruh ayat Al-Qur’an diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril.” imbuh Ahmad Attabik.
Ahmad Atabik yang ahli dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir menjelaskan bahwa mukjizat secara bahasa berasal dari kata a’jaza yu’jizu yang berarti melemahkan.
Mengutip definisi ulama dalam Kitab At-Ta’rifat, ia menjelaskan bahwa mukjizat adalah suatu hal luar biasa yang Allah tampakkan kepada nabi-Nya.
“Mukjizat terbagi menjadi dua jenis, yaitu mukjizat hissiyah dan mukjizat aqliyah,” imbuhnya.
Menurutnya, mukjizat hissiyah merupakan mukjizat yang bisa dicerna oleh indra manusia. Disampaikannya mukjizat Nabi Musa yang tongkatnya berubah menjadi ular ketika dilemparkan.
Dipaparkan olehnya dalam Al-Qur’an, qala alqiha ya Musa. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya. “Ada tiga bentuk perubahan tongkat Nabi Musa. Ular kecil yang sangat gesit, lalu ular yang sangat besar, hingga tongkatnya yang memiliki mulut untuk memakan ular-ular kecil jelmaan tukang sihir utusan Fir’aun,” paparnya.
Lanjutnya, bahwa tongkat Nabi Musa pernah digunakan untuk membelah laut sebagaimana firman Allah, fadrib bi’asaka al-bahr. Selain itu, ia menambahkan bahwa tongkat Nabi Musa juga dapat memancarkan air dari batu ketika dipukulkan atas perintah Allah.
Ahmad Atabik memaparkan mukjizat aqliyah. Mukjizat yang hanya bisa dicerna oleh akal pikiran manusia, yakni mukjizat Al-Qur’an.
Qul la’inijtama’atil insu wal-jinnu ‘ala ay ya’tu bimitsli hadzal-qur’an la ya’tuna bimitslihi walau kana ba’dluhum liba’dlin dhahira. “Sekiranya manusia dan jin berkumpul untuk membuat persamaan seperti Al-Quran tentu mereka tidak mampu,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kisah Musailamah al-Kadzdzab yang mencoba meniru gaya Al-Qur’an namun tidak mampu menyamai keindahan dan kedalaman makna ayat-ayat Al-Qur’an.
“Salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada pemilihan kata atau diksi yang sangat tepat,” katanya.
Ia mencontohkan kata Tidur. Dalam Al-Qur’an memiliki beberapa istilah seperti sinah yang berarti kantuk ringan, nu’as yang menunjukkan kantuk karena kelelahan fisik, huju’ yang menggambarkan tidur di malam hari yang singkat, ruqud yang berarti tidur sangat lama seperti kisah Ashabul Kahfi, serta bayat yang menunjukkan tidur pada malam hari.
Ia juga mencontohkan penggunaan kata nu’as dalam kisah Perang Badar melalui ayat idz yughasshikumun nu’asa amanatan minhu, yaitu ketika Allah menurunkan rasa kantuk kepada pasukan Muslim sebagai bentuk ketenteraman jiwa dan batin.
Dibahas olehnya lebih dalam bahwa Al-Qur’an juga memiliki susunan kata yang terjalin sangat indah serasi dengan makna yang terkandung, an-nadzmul mutafarid.
“Akhiran suatu ayat yang membentuk harmoni bunyi yang serasi di akhir ayat disebut al-fashilah,” tambahnya.
Ia mencontohkan dalam Surah Al-Kautsar yang memiliki akhiran bunyi yang selaras pada setiap ayatnya.
“Kemukjizatan Al-Qur’an juga terlihat dari kandungan kisah dan berita yang disampaikannya,” jelas Ahmad.
Al-Qur’an menceritakan peristiwa masa lalu dengan benar sekaligus memberi kabar tentang masa depan.
“Salah satu contoh adalah kabar tentang bangsa Romawi dalam Surah Ar-Rum yang sebelumnya mengalami kekalahan, namun kemudian diprediksi akan kembali menang dalam kurun waktu tujuh tahun ke depan (1453 M). Dan peristiwa tersebut terbukti benar sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,” ungkapnya.
Majelis penuh ilmu ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ratusan jamaah mengikuti kajian hingga selesai sebagai bagian dari upaya memperdalam pemahaman tentang kemuliaan dan kemukjizatan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam.
[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]





































