Pendidikan Akhlak: Arah Moral di Tengah Badai Teknologi

0
65

Oleh: Mc. Anam

Kita sedang hidup di era di mana jempol manusia bisa lebih tajam daripada lisan, dan layar kaca seringkali lebih dipercaya daripada nasihat orang tua. Teknologi telah memberikan kita kecepatan, namun di saat yang sama, ia sering kali merampas kedalaman rasa dan etika.

Di sinilah pendidikan akhlak hadir bukan lagi sebagai pelengkap kurikulum, melainkan sebagai solusi tunggal untuk menyelamatkan kemanusiaan kita di tengah kepungan algoritma.

Teknologi hari ini ibarat mobil balap super cepat yang diberikan kepada siapa saja. Tanpa “rem” berupa akhlak, kecepatan itu hanya akan membawa kita pada kecelakaan masal. Kita melihat betapa mudahnya hoaks menyebar, perundungan siber (cyberbullying) menghancurkan mental seseorang, hingga hilangnya privasi demi konten semata.

Masalahnya bukan pada aplikasinya, melainkan pada penggunanya. Pendidikan akhlak mengajarkan kita bahwa memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu tidak berarti kita boleh melakukannya.

Akhlak memberikan filter mental: “Apakah komentar saya ini menyakiti orang lain? Apakah informasi ini bermanfaat?” Tanpa filter ini, teknologi hanya akan menjadi alat penghancur martabat manusia.

Memulihkan Empati yang Terkikis Layar
Salah satu dampak paling nyata dari zaman teknologi adalah terkikisnya empati. Saat kita berkomunikasi lewat teks atau kolom komentar, kita cenderung lupa bahwa di balik layar sana ada manusia dengan perasaan yang nyata. Kita menjadi berani mencaci karena tidak menatap mata lawan bicara secara langsung.

Pendidikan akhlak mengembalikan esensi “kemanusiaan” tersebut. Ia mengajarkan tentang adab sebelum ilmu. Dalam konteks digital, adab berarti menghormati hak orang lain, menjaga lisan (tulisan), dan memiliki integritas meski tidak ada orang yang mengawasi secara fisik. Inilah yang disebut dengan Kesalehan Digital.

Di zaman di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh apa yang viral, integritas menjadi barang yang sangat mahal. Pendidikan akhlak menempa individu untuk tetap berpijak pada nilai-nilai kejujuran.

Seseorang yang memiliki pondasi akhlak yang kuat tidak akan menjual integritasnya demi likes atau popularitas sesaat. Ia tahu bahwa kesuksesan yang diraih dengan menjatuhkan orang lain atau menyebarkan kebencian adalah kegagalan yang terselubung.

Teknologi sebagai Pelayan, Akhlak sebagai Tuan

Teknologi seharusnya menjadi pelayan bagi manusia untuk berbuat kebaikan, bukan justru menjadi tuan yang mendikte perilaku kita menjadi liar.

Pendidikan akhlak adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam grafik saham, namun terlihat jelas dalam kualitas kedamaian masyarakat.

Jika kita ingin sukses di zaman ini, kita tidak cukup hanya menjadi “melek digital”. Kita harus menjadi “manusia digital” yang berakhlak. Sebab, pada akhirnya, kecanggihan teknologi akan terus berganti, namun karakter yang mulia akan tetap menjadi standar tertinggi kemuliaan seorang manusia. (*)

Mc. Anam,

Penulis adalah Pengurus Pusat ISNU, bekerja di Pusdatin Kemendikdasmen

Comments