Lulusan SMA Negeri 1 Pulokulon Grobogan Didorong Sukses Jadi Sarjana Go Internasional

0
42
Pembicara talk show pendidikan di SMA Negeri 1 Pulokulon Grobogan

GROBOGAN, Suaranahdliyin.com – Lulusan SMA Negeri 1 Pulokulon, Kabupaten Grobogan didorong sukses menjadi sarjana, pengusaha dan go internasional.

Demikian yang mengemuka dalam kegiatan kokurikuler bagi siswa kelas XII bertajuk Talk show dengan tema “Menggapai Masa Depan Gemilang dengan Iman dan Ilmu” di aula sekolah setempat Kamis (5/3/2026).

Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, Ketua Umum IKA Alumni SMA N 1 Pulokulon Ahmad Muhamad Mustain Nasoha dan Wakil Kepala Kurikulum SMA N 1 Purwodadi Rif’an Alif Nurrohman.

Kepala SMA Negeri 1 Pulokulon Sarwaedi menyampaikan pentingnya kepercayaan diri sebagai fondasi utama kesuksesan. Ia menegaskan bahwa setiap siswa memiliki potensi untuk berhasil dalam kehidupan.

“Langkah pertama yang harus dimiliki seseorang untuk meraih masa depan adalah keyakinan pada dirinya sendiri. Tanpa rasa percaya diri, seseorang akan kehilangan arah seperti sebuah tandon air yang tidak memiliki jalur aliran yang jelas sehingga tidak tahu harus bergerak ke mana,”ujarnya.

“Masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling pintar, tetapi oleh siapa yang paling gigih berusaha dan memiliki keyakinan kuat terhadap tujuan hidupnya.” Sambung Sarwaedi.

Pembicara dan siswa foto bersama

Pembicara pertama, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha menguraikan konsep kesuksesan melalui pendekatan yang komprehensif dengan mengintegrasikan perspektif keilmuan modern dan nilai-nilai spiritualitas Islam.

Dikatakan, kesuksesan tidak dapat dipahami hanya dari ukuran capaian material ataupun prestasi duniawi, melainkan merupakan hasil dari proses holistic self-development (pengembangan diri secara menyeluruh) yang melibatkan dimensi intelektual, moral, dan spiritual secara seimbang.

“Dalam kajian character building (pembentukan karakter), keberhasilan seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas teladan yang dijadikan acuan dalam kehidupan,”ujarnya.

Dalam konteks ini, Mustain menempatkan Nabi Muhammad sebagai teladan universal (universal role model) yang memiliki relevansi lintas zaman dan lintas peradaban. Pribadi Rasulullah merepresentasikan sintesis ideal antara integritas moral, kecerdasan intelektual, keteguhan prinsip, serta kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.

“Nilai-nilai kenabian seperti kejujuran (ṣidq), amanah (amānah), ketangguhan mental, dan kesabaran strategis tidak hanya menjadi fondasi etika personal, tetapi juga menjadi dasar pembentukan masyarakat yang berkeadaban”ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam perspektif etika dan spiritualitas, perilaku maksiat atau penyimpangan moral tidak hanya berdampak pada aspek religius semata, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan. Penyimpangan moral dapat merusak integritas pribadi serta menghambat proses personal growth (pertumbuhan pribadi) seseorang.

“Oleh karena itu, perjalanan menuju kesuksesan menuntut komitmen moral yang kuat untuk menjaga integritas diri sekaligus membangun self-discipline (disiplin diri) dalam kehidupan sehari-hari,”kata Mustain..

Beliau juga menekankan pentingnya sikap pantang menyerah serta kemampuan mengelola waktu secara disiplin sebagai bagian dari pembentukan mentalitas tangguh. Ketaatan kepada guru dan orang tua, menurutnya, merupakan bagian dari nilai fundamental dalam tradisi pendidikan yang tidak hanya berkaitan dengan penghormatan sosial, tetapi juga berkaitan dengan keberkahan ilmu.

“Dalam perspektif pendidikan Islam, keberhasilan seseorang sering kali tidak terlepas dari doa serta ridha orang tua dan bimbingan para guru sebagai pembentuk arah intelektual dan moral peserta didik.”imbuhnya seraya menambahkna pelajar bisa dengan konspe riyadah sebagai latihan spiritual.

Pembicara kedua, Rif’an Alif Nurrohman menekankan bahwa kepintaran saja tidak cukup untuk membawa seseorang menuju kesuksesan jika tidak disertai integritas. Diungkapkan, banyak orang yang memiliki kecerdasan tinggi tetapi gagal dalam kehidupan karena tidak memiliki kejujuran dan tanggung jawab.

“Integritas menjadi fondasi penting yang membuat seseorang dipercaya dan dihargai di mana pun berada.”tandasnya.

Iamenjelaskan bahwa iman merupakan arah dalam kehidupan, sedangkan ilmu adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang menuju tujuan tersebut.

“Tanpa iman, ilmu bisa kehilangan arah, dan tanpa ilmu, seseorang tidak memiliki sarana untuk mencapai cita-citanya. Oleh karena itu, generasi muda perlu menggabungkan kekuatan iman dengan penguasaan ilmu pengetahuan.”tegas Rif’an. (rls/adb)

Comments