Secangkir kopi hitam, tercipta dari bubuk yang ditaburi pemanis alami. Dialiri dengan air panas. Memadukan aroma, rasa yang khas dengan kopi tersebut.
Tetapi bukan tentang betapa nikmat kopinya. Betapa syahdu suasananya. Dan betapa nyaman jiwanya. Namun ini tentang suatu makna yang terselubung di dalamnya.
Memang, ini terlihat sepele, atau lebih tepatnya remeh, dalam pandangan sementara orang. Namun, justru menurutku, suatu hal yang remeh dapat menjadi berharga, jika kita dapat “mengemasnya”.
Contoh kecil, sampah plastik yang dapat didaur ulang menjadi bahan atau barang unik, bisa mendatangkan keuntungan secara materi.
Demikian halnya dengan secangkir kopi yang kumaksud; dapat berharga sekali, tetapi bukan dalam keuntungan, melainkan dalam hal kehidupan.
Sebagai penikmat kopi, kita tentu paham bagaimana secangkir kopi menjadi salah satu pendorong seseorang melakukan aktivitas yang dihadapinya. Atau lebih tepatnya menjadi penyemangat, agar seseorang lebih fokus dalam melakukan aktivitasnya.
Ibaratnya, bubuk kopi hitam sebagai dasar awal terciptanya keinginan seseorang dalam mencapai tujuannya. Sebagai manusia, tentu memiliki kelebihan dari semua makhluk. Salah satunya adalah nafsu. Manusia pasti menggunakan nafsunya dengan berbagai macam cara, untuk meraih tujuan yang diinginkannya.
Dari situlah bubuk kopi diibaratkan seperti nafsu, karena sama-sama memadukan zat yang serasi: tekstur bubuk melambangkan pemikiran suatu tujuan yang hendak diraih; aroma khas dengan asap panas dari kopi ibarat usaha dalam meraih tujuan yang pasti penuh badai rintangan; rasa kopi melambangkan suatu kepuasan, lantaran telah memeroleh apa yang diinginkan.
Rasa khas kopi menciptakan penikmatnya menjadi lebih tenang setelah meminumnya. Itu seperti saat kita telah menyelesaikan tugas sekolah, maka kita akan merasa lega dan senang karena telah menyelesaikan tugas yang dikerjakan.
Intinya, makna terselubung ini menggambarkan tentang impian kuat seseorang dengan berusaha sebisa mungkin, untuk memeroleh tujuan yang diinginkannya, meski rintangan yang sangat berat datang mengadang.
Dengan kata lain, kopi tidaklah sekadar teman begadang, tapi kopi juga sebagai alat pendorong, agar kita lebih bersemangat dalam mencapai impian. Tidakkah demikian? (*)
M Tsaqif Putra Wibowo,
Penulis adalah santri Pondok Tasywiqul Furqon, Kajeksan, Kota, Kudus dan murid kelas XI MA NU TBS Kudus.






































