Inspiratif! KBPW Tanamkan Pendidikan Akhlak kepada Anak Desa melalui Dolanan Tradisional

0
274
Anak-anak bermain permainan tradisional di KBPW/ Foto: istimewa

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), adalah sebuah komunitas budaya yang berkembang di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sebuah desa yang tidak jauh dari wilayah yang diasosiasikan dengan Raden Umar Said (Sunan Muria).

Desa yang senantiasa melestarikan dolanan (permainan) tradisional sebagai media pendidikan akhlak anak-anak di Desa Lau. Sejak mulai aktif pada tahun 2020, KBPW secara rutin mengadakan berbagai kegiatan permainan tradisional yang melibatkan anak-anak desa.

Hal itu sebagai salah satu ikhtiar menjaga budaya, serta membangun nilai-nilai sosial dan keislaman yang ramah anak.

Muhammad Zaini, Ketua KBPW, menjelaskan, kehadiran KBPW salah satunya dipicu oleh kekhawatiran sosial tentang semakin menurunnya interaksi antar anak-anak di desa.

“Banyak anak yang yang tinggal dalam satu desa, tetapi tidak saling mengenal satu sama lain karena kurangnya tempat bermain Bersama,” ujarnya.

Jessy -sapaan akrab Muhammad Zaini- menyampaikan, awal kegiatan di KBPW sangat sederhana, ya kriwikan, gojekan atau bercanda.

“Tidak harus mewah. Yang penting anak-anak desa menjadi saling kenal, saling sapa, dan bisa belajar bersama di sini,” katanya.

Disampaikan oleh Jessy lebih lanjut, bahwa dolanan tradisional tidak sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan yang efektif. Melalui dolanan ini, anak-anak belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, disiplin, ketangkasan, dan keterampilan.

“Kami memosisikan dolanan tradisional sebagai media pendidikan akhlak. Anak-anak belajar tanpa harus digurui, tidak hanya teoritis saja kami ajarkan, namun juga praktik langsung,” tuturnya.

Dikemukakan pula, bahwa tantangan terbesar dalam merawat dolanan tradisional saat ini adalah setan gepeng (smartphone). Smartphone, sebutnya, Adalah salah satu faktor yang mendistorsi kebudayaan anak sejak usia dini.

“Setan gepeng itu sangat mendistorsi kebudayaan anak-anak sedari dini, termasuk (mendistorsi) permainan tradisional. Kalau anak sudah asyik dengan smarthphone, mereka lupa lingkungan, lupa teman,” katanya prihatin.

Maka, tambahnya, di situlah KBPW mencoba hadir dengan bagaimana kita menghidupkan permainan tradisional sebagai media atau sarana pendidikan akhlak anak. Di satu sisi menjadi tantangan, di satu sisi lain menjadi masukan agar kami bisa lebih baik lagi.

Sebanyak 57 permainan tradisional dapat dipraktikkan secara langsung di taman tradisional KBPW, seperti dakon, petak umpet, egrang, sprentonan (lompat tali), dan berbagai jenis permainan lain. Setiap permainan dikenalkan beserta nilai dan filosofinya.

“Egrang itu mengajarkan anak terus melangkah. Jika dia mau tetap hidup, dia harus tetap berjalan. Kalau dia melangkahnya berhenti, maka dia akan jatuh, dan mati. Itu filosofi hidup yang kami sampaikan ke anak-anak,” bebernya.

Pendekatan seperti in, lanjutnya, membuat anak-anak lebih mudah memahami nilai dan filosofi permainan tradisional. Karena itu, KBPW memilih pendekatan praktik langsung, bukan sekadar teoritis.

“Hidupnya permainan tradisional di KBPW tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, terutama ibu-ibu yang bergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Fatayat NU, dan Muslimat NU,” jelasnya.

Dia menegaskan, perhatian serta kepedulian para perempuan itu, menjadi kekuatan utama di kampung budaya yang ramah perempuan dan peduli anak ini.

“Karena ibu-ibu di sini banyak yang menjadi guru dan ikut di PKK, Fatayat NU, juga Muslimat NU, jadi mereka juga merasa penting untuk ikut menjaga dan menghidupkan permainan tradisional di KBPW in,” paparnya.

Menurutnya, anak-anak dan perempuan digandeng dalam hal, supaya bisa memajukan kemajuan kebudayaan yang ada di desa. “Peran kader-kader perempuan NU kami harap dapat menjaga keberlanjutan budaya, sekaligus membentuk generasi yang berakhlak, berdaya, dan berkepribadian bangsa,” tandasnya.

Jessy pun menekankan, bahwa sinergi antara warga, komunitas, dan lembaga sangat penting, agar KBPW tetap hidup dan relevan dengan zaman. “Kebudayaan harus tetap berjalan pada zamannya,” ungkapnya. (*)

Alya Zykratul Rahma, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus.

Comments