Bangkit, Lesbumi Kudus Inginkan Kepengurusan di Tingkatan Anak Cabang dan Ranting

0
171
  • Dirindukan para penikmat seni dan budaya
Kembang Kanthil : Lesbumi Kudus menggelar diskusi seputar anak jaman now di Madrasah NU Nurussalam, Besito

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus tengah bangkit dari “mati suri”. Dengan kepengurusan baru yang resmi dilantik pada Ahad (07/07/19) lalu, Lesbumi Kudus bertekad menghidupkan kegiatan-kegiatan seni budaya sebagai media dakwah Aswaja An-Nahdliyah.

Hal itu mengemuka dalam acara forum pentas seni dan diskusi “Kembang Kanthil” Edisi 2 di halaman Madrasah NU Nurussalam, Desa Besito, Gebog, Kudus, Jumat (19/07/19) malam. Hadir pada acara ini Ketua PCNU Kudus Drs. H. Asyrofi Masyitho, Ketua PC Lesbumi Kudus Drs. H. Akhwan Sukandar, Ketua bidang jaringan sekolah PP IPNU Abu Hasan Asy’ari dan masyarakat umum.

“NU tidak hanya mengurusi soal akhirat saja, tetapi juga masalah-masalah duniawi, termasuk seni dan budaya. Lesbumi Kudus saat ini sedang mencoba menghidupkan lagi dakwah melalui jalur seni dan budaya ini seperti ulama dan para wali dulu,” kata ketua PC Lesbumi Kudus, Akhwan Sukandar, malam itu.

Ia menambahkan, ke depannya forum-forum seni budaya ataupun diskusi seperti “Kembang Kanthil” ini akan digerakkan secara massif. Ia juga ingin agar nantinya terbentuk kepengurusan di masing-masing anak cabang di seluruh kecamatan yang ada di Kudus.

“Kalau bisa malah ada yang hingga tingkatan ranting, dan ini sedang kami upayakan. Makanya, di awal-awal kesempatan kali ini dari pimpinan cabang (PC) Lesbumi yang ngalahi (rela-red) turun ke kecamatan-kecamatan,” imbuhnya.

Akhwan merasa optimis hal tersebut akan terlaksana mengingat kepengurusan kali ini dipegang oleh para kader muda yang solid dan berkompeten. Beberapa nama diantaranya ada Muhammad Zaini MPd (Jesy), Dwi Syaifullah, Zakky Yamani (Paijan), Abu Hasan Asy’ari (Abud) dan masih banyak lagi.

“Alhamdulillah kepengurusan kami saat ini diisi oleh kader-kader muda, mungkin hanya saya saja yang tua malah. Ini menjadi modal penting dan saya optimis Lesbumi Kudus akan bisa maju nantinya,” ujar Akhwan.

Hal ini disambut positif oleh masyarakat Kudus, khususnya pecinta seni dan budaya. Salah satunya diungkapkan oleh guru MAN 02 Kudus, Widya Ningrum yang merasa bersyukur jika Lesbumi Kudus bisa hidup kembali. Ungkapan tersebut bahkan ia tuliskan di akun Facebook pribadinya Widya Ningrum dengan caption yang menggugah.

“Setelah sekian lama saya tidak menyaksikan kegiatan Lesbumi, maka mala mini ku yakinkan diri, Lesbumi di kotaku masih tetap ada. Bahkan menurut paparan yang saya dengar, kegiatan Lesbumi akan menyentuh ke desa-desa, dan menyentuh lembaga pendidikan,” tulisnya.

Guru yang juga aktivis penggerak Komunitas Penulis Kudus (KPK) ini juga melengkapi unggahan tersebut dengan foto-foto suasana keakraban dalam acara yang menghadirkan para praktisi pendidikan dan membahas masalah anak pada malam itu.

“Dalam benak saya, “Waw ini keren!” teruslah membumi, Lesbumi di kotaku,” ungkapnya dengan menyebut diri sebagai penikmat Lesbumi di Kota Kretek.

Unggahan Widya Ningrum itu mendapat tanggapan dari sejumlah tokoh seni dan budaya yang juga merasa rindu dengan kehadiran Lesbumi. Salah satu kolega Widya, yang juga pendiri dan penggerak komunitas KPK, Maria M Bhoernomo mengomentarinya dengan nostalgia era 70-an.

“Jadi ingat era 70-an, ada grup kesenian Lesbumi Ngemplak Undaan pimpinan Bapak Sinun. Kerap diundang ketika ada hajatan (mantu) di pelosok desa-desa, mengangkat lakon Dajjal, yang nonton banyak selayaknya ludruk/ketoprak,” tulis Bhoernomo di kolom komentar. (rid/adb)

Comments