Pengajian Darusan Umum MAK
Bulan Suci Ramadan, Gus Nasih Serukan Jamaah Menjaga Amanah

0
45
KH Sa’adudin Annasih sedang ceramah di Masjid Agung Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Di antara cara mencintai Allah adalah setiap manusia harus mampu mengemban amanah yang telah diberikan Allah kepada kita semua.

Demikian mauidhah hasanah Pengasuh Pondok Pesantren EI Fath El Islami Kudus KH. Sa’aduddin Annasih dalam kajian rutin Darusan Umum Ramadan 1447 H di Masjid Agung Kudus (MAK) Rabu (25/2/2026).

Kiai muda yang akrab disapa Gus Nasih menjelaskan bahwa salah satu cara mencintai Allah adalah dengan menjalankan amanah yang telah diberikan kepada manusia. Ia mengutip makna firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 72 tentang amanah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, namun semuanya enggan memikulnya.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung, akan tetapi mereka tidak sanggup untuk mengemban amanah itu karena merasa berat. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh manusia itu orang yang banyak lalainya dan banyak bodohnya,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa banyak sekali para mufasir (Hli tafsir) yang menjelaskan maksud amanah dalam ayat tersebut. Amanah yang diberikan Allah kepada manusia yakni ibadah. Mulai dari salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah sosial yang lain.

“Ketika amanah yang ditawarkan oleh Allah dimaknai sebagai ibadah, maka amanah tersebut memiliki konsekuensi,” jelasnya.

“Jika dilakukan maka yang melakukannya akan mendapatkan balasan yang baik. Jika tidak mau melakukan maka tentunya akan mendapatkan balasan yang negatif,”sambung Gus Nasih.

Menurut Gus Nasih, manusia dipilih untuk memikul amanah karena memiliki akal. “Dengan akal manusia mampu memahami, menjalankan perintah Allah, serta mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya,” sambungnya.

Ia pula menekankan dalam mempelajari ayat Al-Qur’an tidak cukup apabila hanya melalui terjemahan saja. “Umat Islam harus mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an melalui literatur atau sumber-sumber yang otoritatif agar tidak terjadi kesalahpahaman makna atau disorientasi,” tegasnya.

Kemudian Gus Nasih juga menjelaskan bahwa amanah adalah bagian dari hak yang harus dipenuhi, baik pada diri sendiri dan pada diri orang lain. Menurutnya, setiap anggota tubuh manusia memiliki hak yang harus dipenuhi.

“Dalam bahasa akademisnya disebut hak intrapersonal,” sambungnya.

Ia menuturkan, mata punya hak untuk diistirahatkan. Demikian juga perut, punya hak untuk diberi makan. “Ada amanah yang harus kita penuhi untuk hak mata dan hak perut. Jika kita tidak memenuhi hak tubuh kita maka kita tidak bisa memenuhi amanah,” paparnya.

Ditegaskan, Allah memerintahkan kepada manusia untuk memfungsikan akal dalam firman-Nya. “Setiap tindakan dan ucapan manusia kelak akan ada pertanggungjawabannya. Maka gunakan hak akal untuk berpikir,” ucapnya.

Gus Nasih juga menekankan pentingnya keseimbangan antara akal dan hati dalam berbicara maupun bertindak. Menurutnya, nasihat yang disampaikan secara personal akan lebih bijak dan mudah diterima dibanding menegur seseorang di hadapan banyak orang. Prinsip tersebut juga penting diterapkan dalam berdakwah maupun menyampaikan kebenaran.

“Amanah di dalam dakwah dan amanah dalam memberi nasihat. Maka sampaikan kebenaran dengan cara yang benar, bukan dengan provokasi atau menimbulkan kebencian,” tuturnya.

Sebagai motivasi, Gus Nasih mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dicatat oleh Ibnu Hibban. Hadis tersebut menggambarkan keadaan manusia pada suatu masa ketika banyak terjadi penipuan dan pengkhianatan. Dijelaskan, pada masa itu orang yang berkhianat justru diberi amanah, sementara orang yang jujur malah tidak dipercaya.

“Selain itu, muncul pula orang-orang yang berbicara tentang urusan umat tanpa memiliki dasar ilmu.”imbuhnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat agar setiap orang berhati-hati dalam berbicara, terutama dalam persoalan agama maupun hal yang bukan bidangnya.

“Ketika seseorang berbicara tentang sesuatu yang tidak ia kuasai, maka hal itu bisa menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain,” ujar Dewan pakar Aswaja Center Kudus ini

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya amanah dalam ilmu pengetahuan. Seseorang harus jujur ketika menyampaikan pendapat orang lain dan tidak mengklaimnya sebagai pemikiran pribadi. Hal ini menjadi bagian dari amanah ilmiah yang harus dijaga, terutama oleh para pelajar dan para akademisi.

“Keberkahan sebuah ucapan itu disandarkan kepada orang yang mengatakannya,” pesannya.

Melalui pengajian Darusan Umum MAK ini, Gus Nasih mengajak kepada seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum melatih diri dalam menjaga amanah, baik amanah kepada Allah Swt. melalui ibadah, kepada sesama manusia, maupun amanah dalam ilmu dan perkataan.

[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]

Comments