Di Agenda Serah #2, Pegiat Lesbumi Kudus Pentaskan Musikalisasi Puisi Patiayam

0
45
Pegiat Lesbumi Kudus menampilkan musikalisasi Puisi tentang Patiayam di Agenda Serah #2

KUDUS, Suaranahdliyin.com– Pegiat Lesbumi Kudus yang tergabung Komunitas sastra Ligusty Poeziya turut ambil bagian dalam agenda Serah #2 Dewan Kesenian Kudus (DKK) di RKBBR Rejosari Dawe Sabtu malam (28/02/2026) . Pada gelaran bertema Ruang Pertunjukan Musikalisasi Puisi itu, mereka menghadirkan karya yang menyoroti situs purbakala Patiayam sebagai medium ingatan kultural.

Menurut Koordinator Ligusty Poeziya, Edi Buseng,, agenda Serah #2 merupakan forum kebudayaan yang dirancang DKK sebagai ruang perjumpaan karya dan publik. Mengusung konsep “serah”, karya-karya yang lahir dari pengalaman batin dan refleksi sosial para seniman dipersembahkan kepada masyarakat sebagai pengalaman estetik bersama.

“Puisi dan bunyi berpadu dalam suasana intim, menciptakan ruang tafsir yang hidup.”ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ligusty Poeziya membawakan musikalisasi puisi yang mengangkat kegelisahan atas kondisi situs purbakala Patiayam. “Melalui perpaduan teks, aransemen musikal, serta ekspresi panggung, karya tersebut menghadirkan kembali kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat sejarah dan identitas lokal Kudus.”jelas Edi Buseng

Ia menegaskan bahwa sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal, tetapi juga medium refleksi sosial. Dikatakan, Patiayam bukan sekadar situs purbakala, melainkan jejak peradaban yang membentuk kesadaran kita hari ini.
“Lewat musikalisasi puisi, kami ingin mengajak publik kembali membaca ruang dan sejarahnya,”ujarnya.

Ketua Lesbumi Kudus, Abud S.B Runcing mengapresiasi partisipasi Ligusty Poeziya dalam forum tersebut. Menurutnya, keterlibatan komunitas sastra dalam ruang-ruang kebudayaan menjadi bagian penting dari ikhtiar merawat warisan lokal.

“Lesbumi hadir untuk memastikan kebudayaan tidak terputus dari akar sejarah dan nilai-nilai masyarakatnya. Patiayam adalah identitas kultural yang harus terus dihidupkan melalui berbagai medium, termasuk sastra dan pertunjukan,” katanya.

Melalui partisipasi dalam Serah #2, Lesbumi Kudus menegaskan komitmennya dalam merawat kebudayaan berbasis kearifan lokal. “Panggung sastra semacam ini sangat penting sebagai ruang bertumbuhnya ekosistem seni yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat relasi antara teks, ruang, dan identitas masyarakat Kudus.”jelas Abud.

Selain Ligusty Poeziya, sejumlah penampil lain turut meramaikan panggung, mulai dari kelompok pelajar hingga sastrawan muda yang membawakan karya dengan pendekatan musikal kontemporer.

Forum diskusi yang menyertai pertunjukan juga mempertemukan generasi muda dan pegiat sastra senior dalam dialog tentang lanskap literasi hari ini.(ist/adb)

Comments