Bulan Ramadan adalah momentum peningkatan spiritual bagi setiap Muslim, termasuk para wanita karier. Wanita ini menjalankan peran di ranah publik sekaligus dalam kehidupan keluarga.
Kesibukan bekerja bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan Ramadan. Hal ini justru dapat menjadi ladang pahala, apabila dijalani dengan niat yang benar dan pengelolaan waktu yang baik.
Dalam pandangan Nahdlatul Ulama (NU), perempuan memiliki hak untuk berkiprah di ruang publik selama tetap berada dalam koridor syariat. Islam tidak melarang perempuan bekerja, selama pekerjaan tersebut halal, menjaga kehormatan diri, serta tidak menimbulkan kemudaratan. Dalam kaidah fikih, hukum asal aktivitas muamalah adalah mubah (boleh), kecuali terdapat dalil yang melarangnya.
Bagi perempuan yang telah berumah tangga, aktivitas bekerja hendaknya dibangun atas dasar kesepakatan dan komunikasi yang baik dengan suami, sehingga tidak menimbulkan konflik dan tetap menjaga keharmonisan keluarga. Prinsipnya bukan semata izin formal, melainkan musyawarah dan saling memahami hak serta kewajiban masing-masing.
Sejarah Islam juga mencatat bahwa para sahabiyah di masa Rasulullah SAW turut berkontribusi dalam kehidupan sosial. Ada yang berdagang, menjahit, bertani, bahkan membantu pelayanan medis dalam peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi dan sosial bukanlah hal baru dalam tradisi Islam.
Memasuki bulan Ramadan, tantangan wanita karier tentu bertambah. Selain menjalankan tanggung jawab profesional di siang hari, ia juga mengelola kebutuhan keluarga serta meningkatkan kualitas ibadah. Karena itu, kunci utamanya adalah manajemen waktu dan penentuan skala prioritas.
Kesibukan kerja tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengurangi kualitas ibadah. Salat tepat waktu, menjaga puasa dengan baik, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan tarawih tetap dapat dilakukan dengan pengaturan waktu yang bijak. Ibadah tidak selalu harus dalam durasi panjang; konsistensi dan keikhlasan justru lebih utama.
Dalam kehidupan rumah tangga, semangat kerja sama sangat penting, terlebih di bulan Ramadan. Urusan domestik seperti menyiapkan sahur dan berbuka idealnya dikelola secara musyawarah dan pembagian peran yang adil sesuai kondisi masing-masing keluarga. Dengan demikian, beban tidak bertumpu pada satu pihak saja, dan suasana Ramadan dapat dijalani dengan lebih ringan dan harmonis.
Agar tetap produktif selama berpuasa, wanita karier perlu menjaga kesehatan dan energi. Sahur dengan gizi seimbang, cukup cairan, serta istirahat yang memadai sangat membantu menjaga stamina. Menghindari begadang yang tidak perlu juga penting agar tubuh tetap segar saat bekerja dan mampu bangun sahur dengan optimal. Jika memungkinkan, istirahat singkat di siang hari dapat membantu memulihkan konsentrasi.
Dalam konteks profesional, Ramadan bukan alasan untuk menurunkan kualitas kerja. Justru puasa melatih kesabaran, kedisiplinan, pengendalian diri, dan integritas—nilai-nilai yang sangat relevan dalam dunia kerja. Amanah dan profesionalitas tetap harus dijaga sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.
Landasan terpenting dari semua itu adalah niat. Dalam Islam, bekerja mencari nafkah yang halal bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari ibadah apabila diniatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Lelah dalam bekerja dapat bernilai pahala ketika dijalani dengan keikhlasan dan tanggung jawab.
Menjalankan peran sebagai wanita karier di bulan Ramadan memang menghadirkan tantangan, tetapi sekaligus membuka peluang pahala yang besar. Dengan niat yang lurus, manajemen waktu yang baik, komunikasi keluarga yang harmonis, serta komitmen menjaga ibadah, Ramadan dapat menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus peningkatan kualitas diri.
Semoga setiap langkah, baik di ruang kerja maupun di rumah, menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.(*)
(Muktiyatun Naimah adalah Wakil Ketua II PC Fatayat NU Kudus. Tulisan ini diolah dari materi Program Senja Sebelum Tarawih ( SASET) kerja sama PC Fatayat NU Kudus dengan Stasiun Radio Lokal/Yuli)







































