Kampanye Literasi Digital
Perempuan Akademisi dari 18 Perguruan Tinggi Terbitkan Corpus Puisi Pandemi

0
242
Buku karya perempuan akademisi lintas perguruan tinggi

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Pandemi Covid – 19 telah melahirkan banyak perbincangan. Melalui webinar, berbagai seminar, dialog, dan diskusi banyak digelar.

Para perempuan akademisi dari 18 Perguruan Tinggi Merespons pandemi dari sisi yang berbeda, yaitu menuangkan dalam bentuk puisi dan diterbitkan menjadi antologi “Corpus Puisi Pandemi: Merajut Kata, Ilmu, Dan Hati”

“Gagasan ini tidak terlepas dari media sosial, ya. Kita rayakan sosial media dengan sesuatu yang positif. Saat itu saya membaca potongan puisi Frida Kusumastuti di laman sosial medianya. Lalu terbetik untuk berkolaborasi bersama teman-teman di Japelidi tempat kami bertemu pada awalnya,” terang Tutur Lestari Nurhajati dari LSPR, penggagas penerbitan antologi.

Para penulis yang berlatar belakang akademisi Ilmu Komunikasi, mengumpulkan 142 judul puisi, yang ditulis dalam kurun waktu Juni-Juli 2020. Melalui proses kurasi oleh Kurniawan Junaedi dari Kurator Indonesia, kumpulan puisi tersebut pada Sabtu (26/9/2020) diluncurkan secara daring.

Peluncuran yang dikemas menarik itu, juga menghadirkan dua sastrawan nasional Jose Rizal Manua dan Yvonne de Fretes dalam diskusi yang diikuti oleh 100 orang.
Jose Rizal Manua yang pernah menerima berbagai penghargaan di Asia-Pasific maupun Dunia sebagai sutradara maupun Theater Best Perfomance, memberi apresiasi atas penerbitan Corpus Puisi Pandemi.

“Puisi-puisinya luar biasa karena ditulis dari sumber yang dihadapi ibu-ibu. Saya memberi penghargaan yang tinggi kepada 18 penulis wanita. Pada hakikatnya, semua orang pernah menulis puisi, terutama saat jatuh cinta. Puisi sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Tetapi puisi-puisi dalam Corpus ini, tetap ada sentuhan seni,” ucapnya.

Dalam sesi diskusi, Eka Budianta, mengamini pernyataan Jose Rizal. Budianta menambahi ada tiga kepekaan, yaitu kepekaan pada tempat, kepekaan waktu, dan kepekaan pada peristiwa,. “Kepekaan waktu memberi puisi sebagai keabadian. Dan saat ini, waktu yang penting adalah Pandemi,” terangnya.

Yvonne de Fretes, mantan wartawan yang juga penulis produktif, aktif antara lain di majalah Horizon dan pernah aktif, menyampaikan, bahwa dunia sastra jarang dilirik orang. “Anda (para penulis) melalui proses kreatif yang luar biasa, bisa di mana saja di tengah kesibukan sehari-hari (menulis, red),” ungkapnya.

Selain diskusi, launching juga menampilkan cerita Novi Kurnia, koordinator Japelidi, dari UGM, saat proses menulis. Juga penampilan live baca puisi oleh Liliek Budiastuti Wiratmo (Undip), Fitria W.Roosinda (Ubhara Surabaya).

Launching kian menarik dengan pembacaan parade puisi secara daring oleh Lintang Ratri (Undip), Roro Retno Wulan (Telkom University, Bandung), dan Gilang Desti Parahita (UGM).

Dipandu Monika Sri Yuliarti (UNS) dan MC oleh Made Dwi Adnjani (Universitas Islam Sultan Agung, Semarang), pada acara launching ini, seluruh pelaksanaan IT juga dilakukan sendiri oleh para penulis dengan koordinator Yenni Siswantini (Binus, Jakarta), dan Soraya Fadhal (Universitas Al Azhar Indonesia).

Ketua panitia launching, Eni Maryani, mengutarakan, puisi memberi kebebasan mengungkapkan apa yang dipikirkan dan rasakan dalam beragam bentuk, bahkan dalam bentuk yang paling imajinatif. Isunya dapat berasal dari kejadian yangs sederhana sampai dengan hal-hal luar biasa, seperti pandemi ini.

“Menyikapi situasi pandemi, kita butuh ruang untuk mengungkapkan beragam pemaknaan atau rasa yang dimiliki. Puisi memberi ruang itu. Dan ke – 18 perempuan ini memanfaatkannya dengan sukacita, dan semoga ini menjadi ruang berbagi,” kata dosen FIKOM Unpad ini.

“Kami ingin sejenak terlepas dari rutinitas sebagai dosen IKOM, namun tetap memasukkan nuansa IKOM dalam puisi-puisi kami. Terutama sebagai upaya mengisi konten positif di ruang-ruang digital,” tutur Frida Kusumastuti, salah satu penggagas yang juga dosen UMM. “Ini sebagai bagian dari kampanye literasi digital,” lanjutnya. (rls/ rosidi)

Comments