Nuzulul Quran dan Spirit Kota Layak Anak 

0
1515

Oleh: Dr H Nur Said MA MAg

Dalam berbagai pengajian sudah biasa disampaikan bahwa hikmah terbesar Ramadan adalah adanya momentum Lalilatul Qodar (malam seribu bulan) dan momentum Nuzulul Qur’an (turunnya Al Qur’an).

Lailatul Qur’an begitu istimewa sebagaimana dijelaskan KH Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an (QS. Al Baqarah: 185).

Sementara intisari dari Al Qur’an (Al-‘Alaq: 1-5) juga mengamanatkan pentingnya manusia membaca, meneliti dan mengkaji (Iqra); serta pentingnya belajar dan menulis (‘allama bilqolam).

Maka agar cahaya Lalilatul Qodar dan Nuzulul Qur’an tetap memancar tidak hanya pada bulan Ramadan saja dan berlangsung setahun penuh, maka setiap muslim punya tuntutan untuk menindaklanjutinya sesuai kapasitasnya masing-masing. Salah satu caranya adalah dengan menerjemahkan dan menghidupkan spirit Iqra dalam tata kota yang layak anak.

Kepustakaan bagi Kota Layak Anak

Jika mencermati berbagai perkembangan tata kota, sungguh memprihatinkan. Betapa tidak, perkembangan yang menonjol adalah industrialisasi kapitalisme dengan semakin menjamurnya mal dan supermarket di berbagai tempat strategis di sekitar alun-alun.

Padahal membangun mal tanpa dibarengi dengan ruang-ruang budaya untuk kepekaan rasa hanya akan mendidik anak menjadi generasi yang hedonis dan materialis. Ini tentu akan membahayakan bagi masa depan karakter anak.

Membangun mal dan pasar modern penting, tetapi harus dibarengi ruang budaya penyeimbang untuk olah rasa dan olah pikir sebagaimana semangat Iqra dan al-qolam (mambaca dan menulis) seperti gedung perpustakaan daerah yang harus tak kalah strategis dengan posisi mal.

Yang memprihatinkan kini, nasib perpustakaan daerah (perpusda) di beberapa kota justru kurang mendapat perhatian serius oleh para pengambil kebijakan, bahkan posisinya seringkali cenderung tidak strategis (ing kiwo) sehingga anak-anak tak tertarik mengunjunginya. Belum lagi keterbatasan koleksi buku cetak apalagi koleksi digital.

Dengan spirit Iqra, kita merindukan perpustakaan yang megah, strategis dengan koleksi lengkap plus café pendukung yang membuat generasi muda betah berselanjar ilmu d perpustakaan tersebut.

Saatnya kembali ke Iqra’, kembali ke buku, kembali ke Al Qur’an (Back to Qur’an). Update kepustakaan daerah dengan fasilitas buku, referensi, internet dan aula yang sangat nyaman dan menggiurkan.

Dalam falsafah walisongo, manunggaling kawulo ing gusti, bukan hanya konsep tasawuf tetapi juga konsep tata kota dengan spirit Iqra bismirabbika (bacalah dengan nama Tuhanmu). Tata kota harus dikembangkan dengan basis “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”.

Dalam hal ini perlu mengantarkan setiap anak dekat kepada Sang Pencipta (Gusti) agar agar anak menjadi merasa dekat (manunggal) dengan Tuhan dengan tradisi olah rasa dan olah pikir di perpusda.

Pada posisi ini, Perpusda perlu menjadi perhatian khusus di setiap kota dan di setiap kecamatan dengan dilengkapi ruang publik yang nyaman bagi anak-anak kita. Dengan seperti ini, spirit Al Qur’an bukan sekedar menjadi wacana tetapi benar-benar bisa nyata dalam kehidupan di setiap kota.

Anak adalah amanah. Peduli kepada kebutuhan anak adalah ibadah. Termasuk memenuhi kebutuhan jiwanya dalam membaca, menulis dan mengembangkan potensinya dirinya agar melejit menjadi para juara yang mengharumkan bangsa dan Khidmah khaira ummah. Selamat menjemput Lailatul Qodar. Selamat rayakan Nuzulul Qur’an.  (*).

Dr H Nur Said MA MAg,

Penulis adalah pengasuh Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus dan pegiat literasi pada Perpustakaan IAIN Kudus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments