Jaburan: Laku “Sakho” Masyarakat Indonesia Saat Ramadan

0
644

Oleh: H Hisyam Zamroni

Keunikan masyarakat Indonesia dalam memaknai dan mengisi Ramadan, sangat lah kaya, seperti halnya tradisi “jaburan”.

Jaburan adalah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia, setiap menjelang buka puasa (Ramadan), yaitu memberi takjil berupa “tum tuman nasi”, makanan kecil dan minuman (gethuk, pisang goreng, bakwan, kolak pisang dan kolang kaling, dan lainnya) dan minuman ala kadarnya seperti air mineral BLJ (produk MWC NU Tahunan), kopi, es teh dan lainnya ke musala atau masjid.

Tradisi jaburan adalah bentuk altruisme, partisipasi dan interaksi sosial dalam mewujudkan kohesi, sense of belonging, persatuan, kesatuan, guyub, rukun, gotong royong dan rasa solidaritas yang tinggi. Lebih dari itu, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bukan tipe masyarakat yang egoistis dan pelit, tetapi masyarakat komunal dan dermawan (sakho).

Konteks tradisi “jaburan” masyarakat indonesia adalah “jabaran” secara cerdas dengan  menggunakan pendekatan sosio-cultural teks dalil hadits berikut:

“Man fatthara fihi shaiman kana lahu maghfiratan lidzunubihi wa ‘itqa  raqabatihi minan-nar. Wa kana lahu mitslu  ajrihi min ghairi an yanqusha min ajrihi syaiun”. 

Dalil di atas memberikan inspirasi yang tidak hanya bersifat individual, juga bersifat budaya. Sehingga maknanya membentuk sebuah tradisi budaya yaitu tradisi “Jaburan puasa” yang disajikan dan dinikmati oleh banyak orang, baik itu di musala maupun masjid.

Tafsir sosio-budaya teks di atas, menyadarkan kepada kita tentang perlunya ide-ide cerdas, bagaimana teks agama selalu selalu “hidup” dan relevan dengan situasi dan kondisi, serta tantangan yang dihadapi terus menerus dari zaman ke zaman. Seperti syair-syair yang tetap, namun selalu up date dengan perubahan gending atawa iramanya.

Ahinya, tradisi jaburan harus kita jadikan inspirasi, yang tidak hanya mesti dipertahankan, namun harus disesuaikan dengan realitas dan tantangan yang dihadapi seperti yang sekarang baru ngetren (hits); ngebuburit. (*)

H Hisyam Zamroni,

Penulis adalah wakil ketua Pengurus Cabang Nahdlatu Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara.

Comments