Insan Kamil: Ibadah dan Khilafah

0
366

Oleh: Dr H Muchotob Hamzah MM

Nabi Adam dan seluruh anak keturunannya, diciptakan untuk beribadah dan marifat kepada Allah (QS. 51: 56), sekaligus dijadikan khalifah-Nya untuk mengkulturkan nature dan mengarahkan kultur agar tetap berjalan di atas rel-Nya. (QS. 2: 30)

Dan setiap muslim, diperintah untuk meneladani Nabi Muhammad sebagai insan kamil. Nabi Muhammad menjadi The Living Quran, yang diimplementasikan ke dalam dua pilar sacred mission, yaitu ibadah mahdhah seperti salat, siyam dan haji (QS. 51: 56), dan juga ibadah ghairu mahdhah dalam wujud khilafah. (QS. 2: 30)

Khilafah dalam arti generik, diamanahkan kepada seluruh kemanusiaan, jamak-nya “khalaa’if” (QS. 10: 14) yang bersifat takwieniyah. Kemudian khalifah dalam arti spesifik, berupa jabatan kepala negara atau penguasa yang jamak-nya khulafa’ (QS. 7: 74 dll.) yang bersifat imamiyah. Terminologi ini digunakan dalam hadis, untuk nenyebut kekuasaan umat dan jabatan khalifah pengganti Rasulullah dengan sebutan khulafa al-rasyidin (Abu Dawud No. 4607; Tirmidzi 3676), terhadap empat khalifah.

Jadi khilafah yang secara leksikal berarti penggantian posisi Allah -dalam arti relatif- adalah ibadah ghairu mahdhah, yang, landasan ideal dan struktualnya, dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun landasan operasionalnya dari kreasi manusia sendiri. Maka dalam menerapkan khilafah di semua zaman dan tempat, diperlukan ijtihad. (Rasyid Ridha, Ak-Khilaafah, Kairo: Az-Zahra, tt, 9)

Tugas khilafah ini sebagai penghargaan Allah terhadap manusia, meskipun dalam arti generik manusia berperilaku zhaluuman jahuulan (QS. 33: 72-3). Sejatinya, manusia dalam ibadah maupun khilafahnya -yang dibingkai dalam agama- adalah untuk memenuhi fitrah dirinya sendiri, baik sebagai homo religious maupun homo politicus (QS. 22: 41).

Akan tetapi, seringkali manusia menzalimi dirinya sendiri (QS. 10: 44). Oleh karena itu manusia sering diuji, untuk meningkatkan kualitas dirinya (QS. 29: 2-3). Kemudian diberikan musibah yang baik (hasanah) oleh Allah, untuk melihat sikap dalam menghadapinya, atau musibah yang buruk (sayyi’ah), yang berupa bencana akibat kesalahan langkah diri manusia sebagai teguran, karena melakukan hal yang mendatangkan bencana. (QS. 4:79)

Meskipun secara generik manusia berperilaku zhaluuman jahuula, tetapi secara spesifik dapat dibagi dalam empat kategori. Pertama, muslimun kamilun (muslim sempurna) sebagai pengemban amanah, baik ibadah mahdhah seperti salat, zakat, siyam haji, maupun ibadah ghairu mahdhah yaitu khilafah.

Allah berfirman: Orang yang apabila diberi kedudukan di bumi lalu mendirikan salat, memberikan zakat, amar ma’ruf dan nahi munkar … (QS. 22: 41).  Firman yang lain: Orang yang beriman dan beramal salih, pasti akan Aku beri kekhilafahan di bumi … (QS. 24: 55). Mereka bisa mengemban khilafah baik dalam arti generik maupun spesifik.

Kedua, muslimun naaqishun (muslim berkekurangan). Mereka hanya menjalankan ibadah mahdhah, tetapi tidak bisa mengemban ibadah ghairu mahdhah (khilafah), baik dalam arti generik maupun spesifik.

Ketiga, muslimun zhaluumun. Mereka adalah manusia yang aniaya, karena hanya bisa mengemban khilafah tanpa menjalani ibadah. Keempat, zhaluumun jahuulun. Yakni mereka tidak dapat mengemban ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah; salat tidak, berkuasa pun tidak.

Terkait rukun khilafah, ada enam, yaitu khalifah, wizarah, wilayah, ittihadiyah, bai’ah dan syari’ah. Secara substantif, enam rukun khilafah itu sudah ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Maka bila disejajarkan, Khalifah adalah Presiden. Wizarah yaitu kabinet. Wilayah yakni teritorial.  Dan ittihadiyah di NKRI mewujud dalam kesatuan dan persatuan. Sedang bai’ah-nya adalah Pemilu, sementara syari’ah termanifestasikan dalam Undang-undang Dasar (UUD) dan UU.

Di NKRI sudah ada UU Zakat, BSI, UU produk halal, dan seterusnya. Nomenklaturnya memang berbeda, tetapi substansinya sama. Selanjutnya jika dikaitkan dengan khilafah ‘ammah (mondial), maka terselesaikan dengan cara meningkatkan kelembagaan OKI ketimbang membentuk lembaga utopis seperti daulah khilafah atau semacamnya, karena harus membongkar tatanan dunia. Wallaahu a’lam bi als-shawab. (*)

Dr H Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah Rektor pada Univesitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo.

Comments