Intensitas Komunikasi Spiritual: Hubb, Khasyyah dan Dzikir

0
164

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Dalam al-Quran ada sebanyak 17 kata “ayaddu”. Tiga di antaranya ada terma “hubb; khasyyah dan dzikr” yang sudah sangat familiar di telinga setiap muslim. Perpaduan dari minimal  tiga kata tersebut, ulama mengekuivalenkan dengan “takwa”.

1). Kata “cinta=hubb= bersifat positif” yang secara generik dalam al-Quran absah ditujukan kepada Al-Khaliq (Allah) atau makhluk. Akan tetapi cinta kepada Allah dipertegas dengan frasa bahwa orang beriman harus lebih cinta kepada Allah = “asyaddu huban lillaah” (QS. 2: 165).

2). Kata “takut=khasyyah=bersifat negatif” yang juga ditujukan kepada Al-Khaliq (Allah) ataupun makhluk, maka manusia tidak boleh “asyaddu khasyyah” kepada selain Allah (QS. 4: 77).

3). Kata “dzikir=bersifat netral, bisa positif/negatif” (cinta dan/takut) sebagai bentuk relasi manusia dengan Allah. Terma dzikir dipertegas dengan frasa “asyaddu dzikra=sangat kuat sebutan dan dalam mengingati-Nya” (QS. 2: 200).

Mari kita elaborasi tiga terma itu serbasingkat  dalam alenia berikut:

Pertama; asyaddu hubban lillah=Sangat Cinta Allah. Cinta di atas cinta. Cinta di atas segala-galanya, baik cinta kepada ayah, anak, isteri, keluarga, komoditi, properti atau ringkasnya cinta Allah melebihi cintanya kepada harta, tahta, wanita/pria, nyawa, dan seterusnya. (QS. 9: 24).

Adapun karena Allah menganugerahi juga hubbus-syahawaat=cinta kepada wanita, anak, harta, kendaraan (QS. 3: 14), tahta (QS. 2: 30) yang oleh Friedrich Wilhelm Nietzsche dipandang kebutuhan manusia nomor dua, maka kadarnya harus dibatasi.

Apakah tidak bertentangan? Tidak. Asal cintanya kepada selain Allah berada di bawah cinta kepada selain-Nya! Untuk apa anugerah ini? Untuk berjalannya panggung kehidupan dunia (wasta’marakum fiihaa=meramaikan dunia=QS. 11: 61).

Kemudian untuk keteraturan, keselamatan dan kebahagiaan manusia, Allah titipkan rasa tanggung jawab pada mereka dengan aturan halal dan haram baik makanan (QS. 5: 87-88), wanita (QS. 30: 21), harta (QS. 2: 188), dan lainnya.

Demikian pula soal kuasa (khilafah-tahta) yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman (QS. 2: 30; 9: 105). Baik mereka penguasa global, nasional, regional, lokal RW/RT, laki maupun perempuan, bos atau asisten rumah tangga, adalah penguasa di tingkatannya masing-masing. Rasulullah mempertegas pertanggungjawaban (mas’uliyah) ini dalam ungkapan: “Kullukum raa’in wa kullu raa’in mas’uulun ‘an ra’iyyatihi…”=Bukhari 2554; Muslim 1829).

Intinya, Allah memperkenankan dan memberikan pahala kepada manusia yang bisa menguasai dunia sesuai hukum Allah, selama di bawah cintanya kepada Allah.

Kedua; asyaddu khasyyah=sangat takut. Sesungguhnya takut terhadap bahaya baik kepada hewan buas, virus, mati dan lainnya adalah wajar dan boleh. Para Rasul dan Nabi-pun mengalami takut. Nabi Ibrahim pernah takut kepada tamunya (QS. 51: 28). Nabi Musa merasa takut (QS. 20: 67-68). Khalifah Umar pernah urung melanjutkan perjalanan ke Syam karena takut wabah-tha’un (Muslim,  2219).

Memang, terkadang ada orang takut kepada makhluk melebihi takutnya kepada Allah. Misalnya lebih takut berbuat maksiat dan berbuat kriminal karena takut ada CCTV atau Undang-undang dibanding takutnya kepada Sang Khaliq.

Ketiga; asyaddu dzikran (sangat dalam mengingat-Nya=QS. 2: 200). Orang dzikir bisa karena mendambakan surga atau ketenangan jiwa, atau karena takut akan azab Allah atas dosanya. Hubb, khasyyah dan zikir adalah ibadah yang tiada putus sepanjang sadar dan jaga (QS. 3: 191). Landasan ideal dan strukturalnya dari Allah, sedang landasan operasionalnya terserah pada manusia sendiri. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah mantan Rektor Universitas Sains al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

 

Comments