“Ibadah Kaffah” dalam Bingkai “Islam Kaffah”

0
209

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Konsekuensi logis dari “Islam Kaffah” (QS. 2: 208) adalah “Ibadah Kaffah” (QS. 51: 56).  Islam (penyerahan/ ibadah secara kaffah si muslim kepada Allah semata). Kalau bingkai Islam kaffah mencakup A – Z, maka ibadah kaffah-pun seharusnya  mencakup A – Z pula. Hal itu linear dengan bimbingan Allah.

قل ان صلاتي و نسكي و محياي ومماتي لله رب العالمين.  Artinya: Ucapkan! Sesungguhnya salatku, hajiku, hidupku, dan matiku adalah milik Allah Tuhan seru sekalian alam (QS. 6: 162).

Menurut Syaikh Abul A’la al-Maududi dalam “Towards Understanding Islam”, ibadah yaitu “All your activities and your entire life, are ibadat if they are in according with the law of God” (Seluruh aktivitas dan sepak terjang anda adalah ibadah selama bersesuaian dengan hukum Allah).

Karena seluruh aktivitas muslim sebagai ibadah dan tak terbatas, maka mustahil kalau: 1). Semua item diberi petunjuk spesifik dari al-Qur’an dan Sunnah; 2). Semua aktivitas diberi petunjuk dari sisi ideal, struktural dan operasional; 30. Semua bid’ah mutlak ditolak. Itulah sebabnya Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah (Majmu’Farawa 20/163) dan Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Ad-Durar As-Saniyah 5/193) membagi bid’ah menjadi hasanah dan sayyi’ah.

Jadi agar kaum muslimin tidak konfus, para ulama membagi ibadah menjadi dua bagian. Pertama:  Ibadah mahdhah sifatnya: 1). mengatur hubungan “langsung” hamba dengan Allah. (حبل من الله). 2). Rigid; 3). Terbatas dalam hal syahadat, salat, zakat, shiyam dan haji; 4). Baik landasan ideal, struktural maupun operasional semuanya dari Allah.

Dalam masalah ini ulama memberi kaidah:

الاصل في العبادة التحريم الا ما دل دليله على اوامره.

Artinya: Asal dalam soal ibadah (mahdhah) adalah haram, sampai ada dalil yang memerintahkannya. Imam Syafi’i juga menyatakan kaidah senada. Contohnya salat: baik ideal (untuk apa dan kenapa kita salat) dari Allah. Struktural (berapa rakaat, berapa kali sehari semalam dsb.) dari Allah. Operasional (cara melaksanakan, apa yang harus dibaca, dsb) dari Allah pula. Kalau ibadah yang ini mengarang sendiri, itulah bid’ah dhalalah dan ditolak.

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد.

Artinya: barangsiapa beramal (ibadah mahdhah, pen.) yang tidak ada perintahku maka ia ditolak (Bukhari, 20; Muslim, 1718).

اياكم ومحدثات الامور فاءن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة… Artinya: Jauhkanlah oleh kalian hal baru. Karena sesungguhnya hal baru itu (ibadah mahdhah, pen.) bid’ah dan semua bid’ah itu sesat (Abu Daud 4067).

Kedua: ibadah ghairu mahdhah. Yaitu ibadah kepada Allah via relasi sesama manusia dan alam (حبل من الناس والعلم). Sifatnya: 1). Fleksibel; 2). Luas tak terbatas; 3). Landasan ideal dari Allah, struktural dari Allah, operasional dari kreasi manusia sendiri; 4). Asasnya manfaat. Kemudian ibadah ghairu mahdhah ini dibagi dua. a). Yang berupa relasi dengan sesama manusia (حبل من الناس); b). Berkaitan dengan alam (حبل من العلم). Yang berkaitan dengan manusia, yakni ekonomi, sosial, politik, hukum dan budaya. Landasan ideal dan struktural dari Allah, landasan operasionalnya dari muslim sendiri.

Sedang yang berkaitan dengan alam (dunia), saintek, hanya landasan idealnya yang dari Allah, sementara landasan struktural dan operasionalnya dari muslim sendiri. Inilah kontek hadis tentang teknik mengawinkan kurma yang Nabi sebut ranah dunia:

انتم اعلم بامور دنياكم. Artinya: Kalian lebih tahu tentang perkara duniamu (Muslim 15/116).

Memang ada “ibadah langsung” yang posisinya di luar ibadah mahdhah, yakni doa. Sabda Nabi: doa adalah ibadah (Albani, Sahih Abu Daud 1329). Tetapi dalam doa, seorang muslim bisa mengarang sendiri baik redaksi maupun substansinya. Wallahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

 

Comments