
JEPARA,Suaranahdliyin.com — Sejumlah komunitas difabel.mendeklarasikan Jaringan Difabel Nahdlatul Ulama (DIFA NU) Jepara yang digelar di Pondok Pesantren Al Anwar An Naqsabandiyah, Gleget, Mayong Lor, Jepara, Kamis (29/5/2026). Hal ini bertujuan untuk.memperkuat jejaring kaum difabel.
Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 100 penyandang disabilitas dari berbagai ragam difabel (tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan tuna daksa) yang berasal dari beberapa wilayah di Jepara yang tergabung dalam sejumlah komunitas difabel.
Deklarasi DIFA NU Jepara berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Sedikitnya lima komunitas difabel yang tergabung dalam DIFA NU, yakni: Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ), Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) Cabang Jepara, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Jepara, Ikatan Tuli Jepara (ITJ) dan Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jepara tampak hadir dalam agenda tersebut.
Para peserta tampak memenuhi area pesantren inklusi sejak pagi hari dengan membawa semangat memperjuangkan ruang sosial yang lebih ramah bagi kaum difabel.
Koordinator kegiatan, Zakariya Anshori Chamim, mengatakan bahwa pembentukan DIFA NU Jepara menjadi langkah penting untuk memperkuat jejaring advokasi, pemberdayaan, sekaligus penguatan spiritual dan sosial bagi komunitas difabel di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Difabel tidak boleh hanya menjadi objek belas kasih, melainkan harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan sosial dan keagamaan.” ujarnya.
Pengasuh pesantren Al-Anwad KH. Mugits Nailufar menyambut baik terbentulnya Difa NU. Menurutnya, NU memiliki basis masyarakat yang sangat besar sampai ke desa-desa.
“Karena itu, kepedulian terhadap kelompok difabel harus menjadi gerakan bersama,”ujarnya.
Gus Mughis menilai keberadaan DIFA NU dapat menjadi ruang kolaborasi antara pesantren, komunitas, dan masyarakat untuk membangun budaya inklusi yang lebih kuat.
Deklarasi tersebut juga disertai diskusi bertema “NU dan Disabilitas” yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, aktivis, dan tokoh NU.
Hadir dalam forum itu Dr. Mayadina Rohma Musfiroh, mantan Ketua Lakpesdam NU Jepara sekaligus jaringan Gusdurian, Dr. Muh Khamdan selaku widyaiswara Kementerian Hukum dan HAM, Dr. Alex Yusron Al Mufti serta Ulil Albab selaku Ketua LKKNU PWNU Jawa Tengah dan anggota DPRD Jawa Tengah.(ist/adb)






































