
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Suasana khidmat menyelimuti kediaman almarhum Drs KH Muhammad Afif MPdI pada malam ketujuh setelah wafatnya beliau. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian tahlil dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan cinta kepada salah satu ulama kharismatik Kecamatan Jekulo.
Hadir pada kesempatan itu keluarga besar almarhum, para masyayikh Jekulo, para alim ulama yang selama ini menjadi sahabat seperjuangan beliau, para santri, serta aktivis muda Nahdlatul Ulama.
Kebersamaan mereka dalam lantunan tahlil dan doa menjadi bukti besarnya kecintaan masyarakat kepada sosok yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Hanafiyah Jekulo, pendiri sekaligus Ketua Yayasan Al Thoyani, dan tokoh panutan kader-kader muda NU.
Acara juga dihadiri KH Aniq Muhammadun yang menyampaikan mauidlotul hasanah. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan bahwa mendoakan dan memohonkan ampunan bagi saudara muslim yang telah wafat merupakan amalan yang memiliki landasan kuat dalam syariat Islam.
KH Aniq Muhammadun mengutip hadis riwayat Sayyidina Utsman bin Affan, bahwa setelah selesai memakamkan jenazah, Rasulullah berdiri di sisi kubur dan bersabda:
“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan mintakanlah keteguhan baginya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya,” tuturnya.
Hadis tersebut menjadi dasar anjuran untuk terus memohonkan ampunan bagi orang yang telah meninggal dunia. Menurut KH Aniq Muhammadun, Rasulullah tidak membatasi berapa kali doa itu dipanjatkan.
Semakin banyak doa yang dipersembahkan, semakin besar harapan akan limpahan rahmat dan ampunan Allah bagi almarhum. Karena itulah, tradisi tahlilan yang hidup di tengah masyarakat Nahdliyyin merupakan implementasi dari tuntunan Rasulullah dalam mendoakan sesama muslim.
Dia juga menjelaskan keterangan yang diriwayatkan dari Imam Thawus sebagaimana dinukil Abu Nu’aim, bahwa mayit mengalami ujian di alam kubur selama tujuh hari.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu menganjurkan berbagai amal kebajikan, termasuk memberi makan dan memperbanyak doa untuk mayit selama masa tersebut. Penjelasan ini menjadi salah satu pijakan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam melestarikan tradisi tahlil hingga malam ketujuh.
Pada momentum itu, KH Aniq Muhammadun juga mengutip riwayat Imam Al-Baihaqi yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menziarahi para syuhada Uhud setiap tahun.
Riwayat itu menunjukkan bahwa mengingat, mendoakan, dan berziarah kepada orang-orang saleh merupakan bagian dari tradisi yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi umat agar senantiasa meneladani perjuangan mereka.
Rangkaian tahlil malam ketujuh berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan cinta dan penghormatan kepada almarhum Kiai Afif yang sepanjang hayatnya mengabdikan diri untuk dakwah, pendidikan, dan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Bagi masyarakat Jekulo, kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, tetapi juga kehilangan sosok pembimbing yang telah melahirkan banyak generasi penerus. Namun demikian, nilai-nilai perjuangan, keteladanan, serta warisan ilmu yang beliau tinggalkan diyakini akan terus hidup dan menginspirasi umat.
“Al-‘ulama’ yamutuna wa al-‘ilmu yabqa”. Para ulama boleh wafat, tetapi ilmu, keteladanan, dan perjuangan mereka akan tetap hidup di tengah masyarakat melalui generasi yang mereka didik. (agus khoirunniam/ adb, ros)









































