Menelaah Kemiripan Program MBG dengan “Tradisi NU”

0
108

Oleh: Mc Anam

Di Indonesia, nasi kotak bukan sekadar urusan perut; ia adalah simbol kerekatan sosial. Jika kita melihat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, kita seperti melihat sebuah tradisi lama yang diberi baju baru.

Secara sosiologis, MBG memiliki kemiripan yang mencolok dengan tradisi tasyakuran dan tahlilan yang telah berakar kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, ada satu sekat tipis yang membedakannya: hilangnya ritual doa dalam prosesi distribusinya.

Dalam tradisi NU, tidak ada pertemuan tanpa makanan. Fenomena “nasi berkat” pada acara tahlilan atau syukuran adalah bentuk redistribusi pangan paling autentik. Seseorang yang memiliki kelebihan rezeki mengundang warga, berdoa bersama, lalu membagikan nasi kotak.

Program MBG bekerja dengan logika yang serupa. Negara, sebagai entitas yang memiliki mandat untuk menyejahterakan rakyat, bertindak sebagai “tuan rumah” yang membagikan “berkat” berupa asupan nutrisi kepada generasi masa depan.

Keduanya memiliki kesamaan fundamental dalam prinsip kesetaraan di meja makan. Dalam tahlilan, seorang kaya dan miskin duduk bersila mendapatkan kotak nasi dengan menu yang sama.

Begitu pula dengan MBG; setiap anak, tanpa memandang status ekonomi orang tuanya, membuka kotak nasi dengan standar gizi yang seragam.

Transformasi Ritual ke Teknokratis

Namun, titik pisah antara MBG dan tradisi NU terletak pada “pembukaan” acaranya. Di surau atau rumah warga, nasi berkat adalah output dari sebuah proses spiritual yang panjang.

Ada pembacaan kalimat tayyibah, selawat, dan doa yang melantun sebelum makanan dibagikan. Makanan tersebut dianggap membawa barakah karena telah “diselimuti” oleh doa kolektif.

Sebaliknya, MBG hadir sebagai program yang murni teknokratis dan sekuler. Tidak ada pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh seorang kiai sebelum kotak makanan dibuka di ruang kelas. Instruksi yang ada adalah instruksi kesehatan: cuci tangan, periksa kebersihan, dan pastikan komposisi protein serta karbohidrat seimbang.

Jika tradisi NU mengejar berkah, MBG mengejar angka. Satu sisi mencari keselamatan ukhrawi, sisi lainnya mengejar penurunan angka stunting dan peningkatan skor IQ nasional.

“Tahlilan” Skala Nasional untuk Kesejahteraan

Kendati ritual doa bersama ditiadakan demi menjaga sifat inklusivitas negara, MBG tetaplah sebuah “tasyakuran nasional”.

Secara konstitusional, program ini adalah cara negara menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tanpa doa bersama pun, MBG sebenarnya sedang menjalankan “doa dalam bentuk perbuatan” (doa bil hal). Memberi makan anak-anak yang haus akan ilmu adalah sebuah penghormatan terhadap martabat manusia, sebuah nilai yang juga dijunjung tinggi dalam tradisi santri.

Program MBG ini bukti bahwa kearifan lokal seperti pembagian nasi berkat bisa bertransformasi menjadi kebijakan strategis negara.

Meski kehilangan sentuhan ritualitas doa yang biasa kita temukan dalam tahlilan warga NU, esensi dari keduanya tetaplah sama: sebuah keyakinan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memastikan setiap anggotanya tidak kelaparan.

MBG adalah “berkat” negara untuk anak-anak bangsa, sebuah perjamuan kolosal untuk menjemput Indonesia Emas. (*)

Mc Anam,

Penulis adalah pengurus Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), bekerja di Pusdatin Kemendikdasmen dan lulusan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Comments