Mbah Dullah Salam: Menikahi Hafidhah itu Seperti Punya Dua Istri

0
81

Oleh: Mohammad Mujab

ILustrasi foto: istimewa

KH Abdullah Zen bin Abdussalam bin Abdullah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Dullah Salam, lahir pada tahun 1920 M. Di Kajen, Margoyoso, Pati. Mbah Dullah Salam adalah anak pertama dari istri kedua Mbah Salam.

Sekira usia 7 tahun, Abdullah Salam kecil ikut dengan paman dari pihak Ibunya, yang bernama Kiai Solihin di Jepara untuk belajar Al Qur’an binnadhor.

Sekembali dari Jepara, dia belajar di madrasah Mathaliul Falah, Kajen, mengaji kepada ayahnya sendiri.

Setelah lulus dari Mathole’, Abdullah Salam kecil diantar kakaknya, KH Mahfudz, ke Madura, untuk menghafal Al Qur’an di bawah asuhan Kiai Mohammad Sa’id dan kemudian melanjutkan ke pesantren Tebu Ireng, Jombang, di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Riwayat lain mengatakan bahwa setelah beliau mengaji Al Qur’an binnadhor di Jepara beliau melanjutkan ke Sampang Madura baru kemudian kembali ke Kajen untuk Tholabul Ilmi di Perguruan Islam Matholi’ul Falah,. Setelah itu baru diantar kakaknya ke Tebu Ireng.

Sebagai seorang santri yang tidak pernah merasa puas dengan sedikit ilmu, beliau kemudian melanjutkan mengaji Qiraah Sab’ah kepada Al Muqri’, KH Muhammad Arwani Amin, Kudus.

Menurut pengakuan KH Abdullah Salam, beliau juga belajar kitab Tafsir Munir kepada Kiai Yasir Jekulo Kudus dan mengambil beberapa aurad.

Namun demikian mutqinnya (mapan)  KH Abdullah Salam di dalam Ilmu Al Qur’an, beliau lebih dikenal sebagai seorang sufi, dari pada seorang al-Hamil Al Muqri’.

Itu karena beliau lebih menekankan Al Qur’an dalam perilakunya daripada sekadar hafalan. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, Kaana Khuluquhu Al Qur’an.

Paman saya, H Arifin, seorang Sopir Kiai (SK) santri sekaligus sopir pribadi KH. Abdullah Salam, suatu ketika pernah meminta izin menghafalkan Al-Qur’an kepada beliau.

Alih-Alih merestui, KH. Abdullah Salam justru ngrawehi dan berkata, “Deloken, Akih wong apal Al Qur’an tapi lakune ora nudohno Al-Qur’an (lihatlah, banyak orang hafal Al-Quran, tapi perilakunya tidak mencerminkan Al-Qur’an)” –Au kama qal.

Putera tertua beliau, KH Nafi’ Abdillah, adalah salah satu yang beliau didik untuk mengamalkan Al Qur’an tanpa harus menghafalkannya.

Mbah Dullah Salam berpesan kepada anak dan santrinya yang hendak menikah dengan hamlatul Qur’an, “Menikahi orang hafal Al Quran (hafidhoh) itu seperti punya istri dua”.

Maksudnya, seorang suami harus memenuhi kewajiban hak istrinya sebagai seorang istri dan hak Al Qur’an, demi menjaga hafalan istrinya.

Memang tidak mudah menjadi hamlatul Qur’an. Berat sekali. Sebanding ganjarannya yang juga besar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

أَهْلُ القرآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وخاصَّتُهُ

Artinya: Ahli Al Qur’an adalah keluarga dan orang-orang pilihan Allah.

Saking beratnya, barangsiapa “lupa” hafalan Al Qur’annya maka dianggap telah berdosa besar.

KH Abdullah Salam juga pernah tertimpa musibah ini. Beliau tiba-tiba lupa atau dilupakan hafalan Al Qur’annya. Setelah mencobanya mendaras berulangkali, selama berhari-hari tetap saja beliau lupa.

Saking takutnya KH. Abdullah Salam, beliau sowan ke beberapa Kiai minta didoakan supaya Allah mengembalikan hafalan Al Qur’annya.

Padahal dalam prespektif fikih sudah jelas, “lupa” (nisyan) yang beliau alami bukan lupa (sahwun) akibat “tasahul” (menelantarkan Al Qur’an) yang masuk kategori dosa besar (kabair).

Namun karena saking cintanya beliau kepada Al Qur’an maka beliau sangat takut jika termasuk golongan orang yang disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

 عرضت علي ذنوب أمتي فلم أر ذنبا أعظم من سورة من القرآن أو آية أوتيها رجل ثم نسيها.

Dosa-dosa umatku diperlihatkan kepadaku, dan aku tidak melihat dosa yang lebih besar daripada sebuah bab atau ayat Al-Qur’an yang diberikan kepada seseorang lalu dilupakan.

 من قرأ القرآن ثم نسيه لقي الله يوم القيامة أجذم.

Barang siapa membaca Al-Quran (hafal) lalu melupakannya, maka pada Hari Kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai penderita kusta.

Semua itu bisa kita resapi dari dawuh KH. Abdullah Salam:

“Al Quran iku keramat

Sopo seng ngrumat, bakal keramut

Sopo ora ngrumat, bakal keremet”

(Al Quran itu keramat

Siapa yg menjaga, akan terjaga

Siapa yg menelantarkan, akan telantar)

Semoga kita dan keluarga kita semua dijadikan Ahlul Ilmi dan Ahli Al Qur’an, bibarkati Al Qur’an, Ahlullah wa Khashshatihi dan KH. Abdullah Salam. Amin

Mohammad Mujab,

Penulis adalah khadim Pondok Pesantren (Ponpes) Al Yasir, Jekulo, Kudus.

Comments