50 Peserta Ikuti ToT Fasnas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusi
Dr Muhammad Zain: Anak Difabel Tidak Boleh Ditinggalkan

0
348
Dr Muhammad Zain MAg, direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendis Kemenag RI

JAKARTA, Suaranahdliyin.comTraining of Trainer (ToT) Fasilitator Nasional (Fasnas) Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI), digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bekerjas ama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI), resmi dimulai pada Rabu (16/6/2021) kemarin melalui Zoom Meeting.

Hadir pada kesempatan itu, Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP), Sunarman Sukamto; Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Ditjen Pendis Kemenag Prof Dr H Moh Isom MAg; Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendis Kemenag, Dr Muhammad Zain MAg; Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Ditjen Pendis Kemenag Dra Hj Siti Sakdiyah MPd; Direktur Program INOVASI Mark Heward; Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Daniel Woods; dan Ketua FPMI, Supriyono MPd.

Dra Hj Siti Sakdiyah MPd, dalam laporannya, menyampaikan, bahwa pemerintah harus hadir dalam pendidikan dengan memberi kesempatan kepada semua kalangan, untuk mendapatkan layanan pendidikan. “Terima kasih semua pihak yang memfasilitasi ToT Fasnas ini. ToT menjadi cara yang efektif dan efisien, sehingga para peserta ke depan dapat mendesiminasikan materi di lapangan,” ujarnya.

Dia mengatakan, ToT diikuti sebanyak 50 peserta dari berbagai provinsi, didampingi 13 FPMI yang sudah dibentuk pada 2020. “Untuk narasumber berasal dari Kemenag, Kemdikbud, akademisi perguruan tinggi, praktisi dan pemerhati pendidikan,” katanya.

Direktur Program INOVASI, Mark Heward, menjelaskan, kegiatan yang digelar Kemenag dan FPMI ini sangat bermanfaat. “Kami berharap, dari ToT ini madrasah dapat menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan baik. Selesai ToT, 50 peserta dapat memberikan pengetahuan, keterampilan dan pendamping dari FPMI untuk mengawalnya,” katanya.

Pihaknya mengaku bangga diberi kesampatan untuk mendukung Kemenag dalam pendidikan inklusif. “Kegiatan ini tentu mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) Presiden RI Ir Joko Widodo (Jokowi), untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas, membangun ekonomi dan kesejahteraan di Indonesia,” ungkapnya sembari menyebut laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan pendidikan.

Daniel Woods, mengutarakan, bahwa setiap orang memahami nilai dan pentingnya GEDSI, serta bagaimana kebijakan pemerintah di semua tingkatan dapat menerapkannya. “Dengan demikian berbagai masalah yang berkaitan dengan GEDSI, akan dapat dipertimbangkan dan ditangani di madrasah,” terangnya. ”Peran Kemenag sangat penting, terutama melalui madrasah, serta jaringan organisasi keagamaan terkemuka,” lanjutnya.

Sementara Dr Muhammad Zain, menilai, ToT ini sangat strategis, untuk melahirkan fasilitator yang dapat meningkatikan kualitas pembelajaran pada anak. “Sesuai filosofi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, anak-anak difabel adalah anak-anak kita sendiri, yang (juga) berhak mendapatkan pembelajaran efektif. Mereka tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya. (ibda/ ros, adb, rid)

Comments