Asal Muasal Nama Gunung Muriya

0
90
Gunung Muria dilihat dari area persawahan di Desa Mlati, Kecamatan Kota, Kudus

«وإن الله قد امتحن إبراهيم فقال له: خذ ابنك وحيدك الذي تحبه – إسحاق – واذهب إلى أرض المُريا وأصعده هناك … فبكر إبراهيم صباحًا، وشدَّ على حماره، وأخذ اثنين من غلمانه معه وإسحاق ابنه، وشقق حطبًا لمحرقة، وقام وذهب إلى الموضع الذي قال له الله.»

«Dan sesungguhnya Allah telah menguji Ibrahim, lalu berfirman kepadanya: Ambillah anakmu, anak tunggalmu yang engkau cintai – Ishaq – dan pergilah ke tanah Muriya dan persembahkanlah dia di sana … Maka Ibrahim bangun pagi-pagi, memasang pelana keledainya, dan membawa dua orang bujangnya bersamanya beserta Ishaq anaknya, dan ia membelah kayu bakar untuk kurban bakaran, lalu ia berangkat dan pergi ke tempat yang telah Allah firmankan kepadanya.»

Abbas Al-‘Aqqad dalam bukunya Ibrahim Abul Anbiya, mengutip dari Kitab Kejadian 22:2-3 di Alkitab.

Terlepas dari perdebatan dalam kisah ini: Apakah yang akan dikorbankan Ismail atau Ishaq? Menurut Gus Dur, “tidak perlu diributkan. Toh keduanya tidak jadi disembelih”. Tapi yang pasti bisa kita ambil dari kisah ini adalah sejarah nama: Gunung Muriya.

Gunung Muriya yang dimaksud adalah bukit yang berada di Kota Yerusalem –sekarang di sekitar situs suci Al-Aqsha. Di bukit Muriya inilah Allah menguji kekasihnya nabi Ibrahim khalililluh untuk menyembelih putranya.

Nama ini kemudian diadopsi oleh Sunan Kudus untuk menamai gunung yang berada di sebelah utara kota Kudus yang baru saja ia dirikan.

Sebelumnya, pada awal abad ke-15 Gunung Muria ini dikenal oleh para pelaut dari Cina dengan sebutan, “Pau – lau – an” (Pulau Gunung). Karena letaknya yang bersebelahan dengan Pulau Gunung Karimun.

Dalam naskah prosa bahasa Jawa Kuno “Tantu Panggelaran” yang digubah antara tahun 1500 – 1635 M, gunung ini pada zaman Hindu dikenal dengan nama “Welahulu” (Gunung yang kepala / puncaknya terbelah).

Kepala Gunung Welahulu ini Terbelah lebih dari 15 puncak. Yang paling terkenal ada tujuh (7 summit): 1. Puncak Songolikur, 2. Puncak Natas Angin, 3. Puncak Abiyoso, 4. Puncak Argopiloso, 5. Puncak Argo Jembangan, 6. Puncak Candi Angin. 7. Puncak Temulus.

Nama Welahulu ini diperkuat dengan catatan perjalanan Bujangga Manik, seorang pertapa Sunda dari istana Pakuan, pada abad 15 M. Yang setelah mengunjungi Pandhanarang (Semarang) ia melanjutkan ke Demak, dan ke arah timurnya terletak Gunung Welahulu.

Dengan menamai ulang (rename) Gunung Welahulu dengan nama Gunung Muria, seolah Sunan Kudus ingin memindahkan kota leluhurnya ke Jawa. Sebagaimana yang disebutkan Syaikh Abdul Hamid dalam kitabnya Kifayatul Mubtadi: Huwa Syarif min Asyrafi al-Quds -bahwa Sunan Kudus adalah seorang bangsawan dari keluarga para bangsawan di Kota Al – Quds, Palestina.

Di kota ini, Sunan Kudus bukan hanya mengadopsi nama-nama tempat beliau berasal: Kudus, Masjidil Aqsha, Gunung Muria. Tetapi beliau juga mengambil makna dan semangatnya: Yerusalem / Darussalam (kota kedamaian).

Mohammad Mujab,

Penulis adalah khadim Ponpes Al Yasir dan Madrasah Tarbiyyatush Shibyan Jekulo Kudus.

Comments