Menjaga Warisan Rasulullah

0
294
Halaqah ilmiyah, salah satu warisan Rasulullah

Tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad Shallalhu ‘alaihi wa sallam di muka bumi, tak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia, terutama kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain untuk menyempurnakan akhlak, tujuan lain diutusnya Rasulullah adalah dakwah Islam; mengajak manusia menyembah Sang Maha Kuasa.

Sepeninggal Rasulullah, Sahabat melanjutkan dakwah sebagai warisannya. Pasalnya, Rasulullah tidak mewariskan harta, tahta, dan dunia, melainkan ilmu yang Baginda Rasul wariskan kepada keturunan dan umatnya.

Kenapa ilmu yang diwariskan? Lantaran dengan ilmu, derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11 disebutkan: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Abu Hurairah r.a, mengisahkan, suatu ketika ia melewati sebuah pasar di Madinah. Tiba tiba langkahnya terhenti, oleh keramaian orang-orang di pasar. Lalu Abu Hurairah berkata, “Alangkah lemahnya kondisi kalian!”

Mendengar perkataan Sahabat Nabi tersebut, tentu penduduk pasar terkejut, kemudian mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau mengatakan demikian? Kenapa dengan kondisi kita?”

Abu Hurairah pun menjelaskan apa maksud dari ucapannya. “Sekarang kalian pergilah ke masjid, di sana Rasulullah meninggalkan warisan kepada seluruh umatnya dan saat ini sedang dibagi-bagi. Mengapa kalian tetap di sini? Segeralah bergegas. Mintalah jatah bagian kalian.”

Tak ingin kehilangan warisan yang ditinggalkan Rasulullah, mereka pun bergegas meninggalkan aktivitasnya di pasar. Semua barang dagangan dan toko, mereka tutup, demi mengambil sebuah harta peninggalan.

Dalam perjalanan menuju masjid, mereka pun berangan-angan, “Apa, ya, bagianku?”

Semua dari mereka memimpikan (mendapatkan) harta melimpah ruah. Mereka berpandangan, warisan yang dimaksud adalah harta dan dunia.

Padahal yang perlu diingat, warisan itu tak selamanya berupa harta dan tahta. Melainkan bisa jadi berupa nasihat (wejangan) yang baik, agar kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Tibalah mereka di depan halaman masjid. Tak sabar ingin menerima bagiannya, mereka pun langsung masuk ke dalam masjid. Akan tetapi, mereka tak melihat seorang pun yang sedang membagikan harta warisan.

Tak ingin menunggu lama meninggalkan bisnisnya di pasar, mereka lalu langsung kembali ke pasar dan menemui Abu Hurairah. Dalam perjalanan pulang, mereka saling bertanya satu sama lain, “mengapa seorang Sahabat Nabi seperti Abu Hurairah tega membohongi kita?”

“Ya, sudah. Biarkan saja. Coba nanti kita tanyakan apa maksud Abu Hurairah membohongi kita?” jawab yang lain.

Sesampainya di pasar, Abu Hurairah tetap berdiri di tempat semula, sambil menunggu kedatangan mereka. Abu Hurairah lantas bertanya, “Bagaimana, sudah kalian ambil bagian kalian?”

“Sungguh tega engkau, wahai Abu Hurairah, membohongi kami! Padahal kami begitu memuliakan engkau sebagai Sahabat Nabi,” jawab mereka dengan nada kecewa.

“Bagaimana mungkin saya membohongi kalian? Apa kalian tidak melihat sesuatu di dalam masjid itu,” Abu Hurairah menimpali.

Dengan nada kesal mereka menjawab, “Saya tidak melihat ada pembagian harta warisan di sana. Yang kami lihat hanya ada beberapa kelompok orang yang membentuk halaqah. Ada satu kelompok yang berdiskusi tentang halal dan haram. Kelompok lain sedang membaca al-Quran. Ada pula yang sedang salat sunnah.”

Abu Hurairah pun tertawa mendengar jawaban para penduduk pasar itu. Dia pun menjelaskan, “Celaka kalian! Asal kalian tahu, itu adalah warisan Rasulullah untuk umatnya, agar kalian bisa menjaga warisan Nabi dengan mengajarkan kepada orang yang membutuhkan. Rasulullah tidak pernah mewariskan harta kepada umatnya, melainkan mewariskan ilmu agar diamalkan.”

Jika mau menilik secara mendalam hikmah dari kisah yang dikatakan Abu Hurairah itu, sebenarnya sejalan dengan sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabarani di dalam Kitab al-Ausath:

إِنَّ العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوْا العِلْمَ

‘’Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham ataupun dinar, hanya ilmu yang diwariskan oleh para Nabi.”

Kisah di atas pun bukan satu-satunya cerita yang menjelaskan pentingnya menuntut ilmu. Ada banyak lagi cerita dan kalam para ulama yang menjelaskan, bahwa ilmu merupakan bekal di dunia dan akhirat.

Imam As-Syafi`i dalam Al-Manhaj As-Sawi, menyebutkan, “Orang yang ingin (sukses) hidup di dunia, maka bekalilah dirinya dengan Ilmu. Barang siapa ingin (sukses) hidup di akhirat, bekalilah pula dengan ilmu …’’

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Ahmad ibn Hambal dari Ibnu Mas`ud disebutkan:

اِنَّ الدُنْيَا يُعْطِيْهَا اللهُ مَنْ يُحِبُّ وَ مَنْ لَا يُحِبُّ وَ لَايُعْطِي العِلْمَ اِلَّا مَنْ يُحِبُّهُ مِنَ الاَبْرَارِ

‘’Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan dunia kepada setiap orang, baik yang Dia dicintai maupun yang tidak dicintai. Namun Allah tidak akan memberikan ilmu kecuali kepada orang yang Dia cintai atau taat kepada-Nya.’’ (*)

Hilmi Ridho,

Staf akademik pada Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo, Situbondo. Kisah inspiratif tersebut diambil dari kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun.

Comments