Ketika Nabi Tersenyum Mendengar Jawaban Sahabat Nu’aiman Saat Ditanya Munkar Nakir

0
3338
Sampaikan tausiyah

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Cinta kepada Nabi Muhammad adalah modal manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Dan itu tak cukup hanya dengan berucap saja, melainkan juga harus dibuktikan dengan tindakan.

KH. Imam Syajaroh menyampaikan hal itu dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad rang dirangkai dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-18 Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an Simo, Boyolali, Rabu (20/09/2023) lalu.

Dia menjelaskan, cara membuktikan cinta kepada Nabi Muhammad itu ada dua cara. “Pertama dengan memperbanyak solawat dan kedua dengan bersedekah dalam acara Maulid Nabi Muhammad,” terang pengasuh pesantren Ibnu Hadi Sleman, Yogyakarta yang akrab disapa Gus Jaroh itu.

Gus Jaroh pun mengisahkan tentang Abu Lahab yang sangat bahagia dan menyambut gembira atas kelahiran Nabi Muhammad. Saking gembiranya, ia sampai membebaskan budaknya yang bernama Tsuwaibah.

“Abu Lahab itu pamannya Nabi yang selalu mengganggu perjuangannya, bahkan hendak membunuhnya. Dia meninggal dalam keadaan kafir. Namun setiap malam Senin, ia dibebaskan dari siksa kubur, hanya karena mahabbah (cinta) atas kelahiran Kanjeng Nabi,” tuturnya.

Diceritakan juga, ada seorang Sahabat yang sangat dicintai oleh Nabi, meskipun ia terkenal sebagai pemabuk. “Nu’aiman adalah sahabat Nabi yang suka maksiyat, tapi diberi derajat yang tinggi hanya karena cinta Nabi. Di saat Nabi bersedih, dialah yang selalu membuat Nabi tertawa dan bahagia,” katanya.

Lebih lanjut dikisahkan, bahwa suatu ketika Nu’aiman wafat. Nabi sendirilah yang memandikan, mengafani dan memakamkannya. Di saat para Sahabat lainnya sudah pulang dari pemakaman, Nabi masih berada di sana. Ia menunggu bagaimana jawaban Nu’aiman ketika ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir.

Akhirnya Nu’aiman didatangi oleh malaikat Munkar Nakir dan ditanya, “Siapa Tuhanmu?”. Nu’aiman menjawab dengan tegas, “Allah.” Namun ketika diberi pertanyaan kedua, “Siapa Nabimu?” ia hanya diam saja. Pertanyaan itu sampai diulang berkali-kali, namun Nu’aiman diam saja. Akhirnya ia pun menjawab setelah ditanya yang ke sekian kalinya, “Sst…! Jangan keras-keras. Orang yang kalian tanyakan masih ada di atas sana.” Mendengar jawaban tersebut Nabi pun tersenyum.

Kemudian Gus Jaroh mengajak para hadirin untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad dengan meriah. Seperti halnya ketika orang tua merayakan hari ulang tahun anaknya, seberapa banyak pun biayanya pasti akan dikeluarkan.

Pun demikian ketika merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, semua lapisan masyarakat sibuk mengadakan berbagai acara. “Maulid adalah bulan kelahirannya Kanjeng Nabi. Manusia paling agung, baginda junjungan kita semua dan seluruh umat Islam di dunia,” jelasnya.

Selain Gus Jaroh yang memberikan taushiyah, hadir juga dalam acara tersebut Habib Zaidan Bin Haidar Bin Yahya bersama rombongan tim hadhroh Sekar Langit. Ia mengajak para hadirin untuk bersama-sama membaca sholawat.

“Semoga seluruh hadirin yang ada di majlis ini dosa-dosanya diampuni oleh Allah, berkat sholawat semoga Allah menutup aib-aib kita, melancarkan rizki kita dan memudahkan segala urusan kita,” kata Habib Zaidan.

Sedang K. Abdul Wahid, mewakili panitia, menyampaikan, selain memeringati Maulid Nabi dan Milad Ponpes Nurul Qur’an, ini sekaligus untuk meresmikan masjid Al Istiqomah, peringatan Haul H. Parenggono dan KH. Subur Aditama (pendiri Ponpes Nurul Qur’an).

Pembacaan sholawat Nabi

“Simbah Haji Parenggono dan KH. Subur Aditama pasti tersenyum bahagia menyaksikan sebagian harta bendanya dijariyahkan untuk kemaslahatan. Terima kasih kepada keluarga besar H. Parenggono dan KH. Subur Aditama yang telah mendedikasikan apa pun itu untuk acara malam ini dan menghadirkan majlis yang luar biasa ini,” ucapnya.

Kiai Abdul Wahid juga menyampaikan pondok pesantren Nurul Qur’an adalah barometer Ahlussunah Wal Jamaah di Kecamatan Simo dan sekitarnya. “Insyaa Allah para santri Nurul Qur’an akan terus dididik menjadi menjadi generasi yang mampu membanggakan para kiai, sesepuh dan kedua orangtua mereka,” ujarnya. (muqtafaiz/ sis, ros, rid, adb)

Comments