KH. Sya’roni : Dakwah Walisongo Penuh Kesantunan

0
525
KH. Sya’roni Ahmadi

KUDUS,Suaranahdliyin.com –Di tengah situasi sosial masyarakat akhir-akhir ini yang begitu mudah nyiyir dan mengolok-ngolok, para santri harus ingat perjuangan dan dakwah Walisongo yang penuh kesantunan. Dakwah para wali bisa menjadi teladan sekaligus menjadi sumber strategi dalam menyiaarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Demikian salah satu petuah dari Mustasyar PBNU, KH. M. Sya’roni Ahmadi dalam acara Muwadda’ah dan pelepasan Santri Madrasah Qudsiyyah, di aula kediaman KH.M. Sya’roni Ahmadi, Pagongan Kota Kudus pada Kamis (2/5/2019) pagi.

Di hadapan dua ratus santri dan wali santri kelas XII MA Qudsiyyah, KH. Sya’roni mengingatkan jasa Walisongo dan ajaran para wali yang masih relevan dengan era sekarang. Sunan Kudus mewariskan petuah Gusjigang bagi masyarakat Kudus. “Para santri harus ingat Gusjigang yang bersumber dari Sunan Kudus. Artinya, para santri harus bagus akhlaknya, sregep ngaji, dan pinter berdagang,” ujar Kiai sepuh yang menjadi Nadhir Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Kudus ini.

Santri Kudus, kata beliau, harus meneladani ajaran dan pesan dari Sunan Kudus tersebut. Artinya, santri Kudus harus terus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas akhlak dan perilaku sehari-hari.  Ngaji dan belajar setiap saat untuk meningkatkan kualitas keilmuan santri, serta terakhir pandai dalam berdagang ataupun bekerja dalam memenuhi kebutuhan di dunia serta dalam rangka mendukung dalam kegiatan berdakwah dan mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih jauh, Kiai sepuh yang kini berusia 87 tahun ini mengingatkan untuk meneladani para wali dalam berdakwah. Walisongo dikenal berdakwah dengan kesantunan dan kedamaian serta membaur di dalam masyarakat. “Sunan Kalijaga Demak menciptakan lagu lir-ilir dalam berdakwah. Sampai kini, syair ini begitu dikenal luas masyarakat,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, melalui lagu, seni, dan budaya, Sunan Kalijaga dari Demak, mengajarkan Islam di tengah-tengah masyarakat. Hasilnya, masyarakat berduyun-duyun memeluk Agama Islam.

Oleh karena itu, sesepuh Kudus ini kembali mengingatkan kepada para santri, akan peran penting  dan strategi dakwah yang dulu dilakukan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam.

Petuah penting lainnya, adalah tentang pentingnya ngaji dan terus menerus belajar. Kiai yang dikenal sebagai Ahli Tafsir Kudus ini menyatakan, bahwa belajar dan ngaji tidak terhenti saat lulus sekolah. Ngaji serta belajar harus dilakukan terus menerus dan tidak terbatas dengan sekolah. Beliau berpesan, mumpung masih muda, silahkan melanjutkan mondok di pesantren dan melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. “Ojo kesusu nikah disek (jangan terburu-buru menikah-Red),” pesan beliau. (rls/adb)

 

Comments