Ahmad Baso Ajak Nahdliyin Tiru Walisongo Hamukti Tanah Jawi

0
799
Ahmad Baso dalam acara lesehan kemerdekaan dan bedah buku di museum Jenang Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Relevansi dakwah walisongo yang harus kembali disuarakan adalah hamemukti tanah jawi atau nusantara. Yakni dengan metode underground, bangun perekonomian, sistem hukum yang berkeadilan dan memakmurkan masyarakat.

Hal itu dikatakan oleh cendekiawan muslim Ahmad Baso di depan puluhan kader NU Kudus pada seminar sarasehan kemerdekaan di Museum Gusjigang Mubarokfood, Glantengan, Kota Kudus, Selasa (05/08/25).

Hadir pula pada kesempatan itu Ketua PCNU Kabupaten Kudus Drs. H. Asyrofi Masyitho, Sekretaris PCNU Kudus Dr. Nur Said, MA, MAg, Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Dr. H. Abdurrahman Kasdi, MSi, Wakil Rektor 4 Prof. Dr. Hilal Majdi, MSi, dan owner Mubarokfood H. M. Hilmy Shohib.

Ahmad Baso memaparkan beberapa manuskrip primer yang ia temukan mengenai kisah dan kiprah dakwah walisongo, termasuk Sunan Kudus dan Muria. Baso juga membandingkan naskah-naskah tersebut dengan sumber lain sehingga layak untuk menjadi rujukan.

Kata Baso, ternyata banyak dari salinan naskah-naskah Walisongo itu, mengalami perubahan redaksi sejak masa Kartosuro dan Mataram. “Beberapa perubahan bahkan ada yang fatal, sehingga membelokkan pemahaman yang tadinya berkiblat pada jaringan ulama internasional yang ilmiah menjadi hanya kepada Ratu Kidul yang mistis,” katanya.

Ia kemudian mencontohkan ketika Majapahit mengalami geger pralaya (kekacauan dari dalam sehingga sesama rakyat saling membunuh). Berdasarkan naskah tertua Babad Demak hancurnya Majapahit itu bukan sebab ada penyerangan dari Kerajaan Demak Sultan Patah.

“Malah di situ tertulis Kerajaan Demak sebagai perdikan dari Majapahit yang diberikan kewenangan khusus untuk mengelola wilayahnya,” paparnya.

Salah satu wewenangnya di bidang hukum, imbuh Baso, Kerajaan Demak menggunakan sistem jodhoning karya Sunan Kudus. Yakni sebuah sistem hukum yang menggabungkan syariat Islam dengan adat yang sudah berlaku di Majapahit atau Nusantara.

Di masa itu pula Kerajaan Demak sudah memiliki sebuah sistem kedaulatan negara eksekutif dipimpin langsung Sultan Patah, legislatifnya adalah anggota Walisongo, sedangkan yudikatifnya atau penghulunya diprakarsai oleh Sunan Kudus.

“Tujuannya para wali itu jelas ditulis pada Serat Babad Demak yakni amemukti tanah jawi yang berarti menjaga-memakmurkan Nusantara,” jelasnya.

Selain itu, Ahmad Baso juga menunjukkan beberapa manuskrip terkait Sunan Muria. Ia juga menjawab perbedaan pendapat mengenai silsilah asal usul Sunan Muria yang diduga kuat merupakan cucu dari Sunan Ampel, putri Nyi Ageng Malaka.

“Memang ada yang menyebut sebagai putra Sunan Kalijaga, namun terindikasi lemah secara sumber,” ujarnya.

Lebih dari itu, yang lebih penting, kata Baso, adalah bagaimana kita mempelajari metode dakwah mereka, kemudian menerapkan ke dalam sistem berkebangsaan kita kedepannya.

“Menghidupkan kembali spirit dan ajaran Walisongo itu yang penting, penuh rahmat dan berorientasi pada kemakmuran umat,” pungkasnya. (rid, adb, ros)

Comments