Shiyam, Disiplin Berjamaah

0
161

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Jika setiap muslim taat kepada al-Quran dan sunnah, tidak ada ibadah yang sedisiplin shiyam. Salat memang disiplin waktu (QS. 4: 103), disiplin prosedur (Bukhari No 631, 5615, 6008), disiplin manajemen kalbu (Muslim No 8; Tirmidzi 2610).

Haji juga disiplin waktu (9-13 Dzulhijjah), prosedur (contoh dari Nabi Muhammad) dan disiplin hati yaitu hanya karena Allah (QS. 2:196). Hanya saja, tidak seketat dan sekolosal (berjamaah) disiplin dalam shiyam (Ramadan).

Sejak fajar sampai Magrib, detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam, orang yang berpuasa tidak mau membatalkan shiyamnya, hanya karena Allah semata. Bukan karena orang lain, pengawas, penjaga ataupun aparat keamanan.

Bagi muslim Indonesia, dengan sunnah mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka, rata-rata sekira 14 jam tiap hari selama Ramadan. Sedang untuk qiyam di waktu malamnya, rata-rata satu jam. Belum lagi ditambah sunnah iktikaf pada malam tanggal ganjil setelah melewati 20 Ramadan.

Coba simak lihat ilustrasi ini! Seorang ibu yang anaknya sedang berlatih shiyam. Ketika sang anak mau berbuka shiyam lima menit sebelum maghrib, sang Ibu merajuk. “Jangan berbuka sekarang, sayang. Tinggal lima menit lagi,” katanya.

Sungguh hebat umat ini. Lima menit, waktu seakan sama dengan emas lima gram atau lebih, demi menggapai rida Allah. Bagaimana jika sikap disiplin tersebut ditransfer ke dalam kehidupan sosial?

Misalnya: kerja, janji, bayar hutang, rapat, ke kantor, mengelola keuangan, buruh, membayar tenaga kerja, dan lainnya. Saya sendiri memandang perlu ada riset tentang hubungan shiyam dan kerja, shiyam dan bayar hutang dan sebagainya, agar kita bisa menilai seberapa besar benefit disiplin sosial yang kita gapai, di samping pahala shiyam yang melimpah (Bukhari 1904 dan 5927; Muslim 1151)

Ada satu kasus yang mengharukan di zaman khalifah Umar Bin Khtthab. Seorang pemuda pergi berdagang ke luar negeri. Sepulang dari dagang, ia beristirahat di sebuah oase di tengah gurun pasir yang tak bertepi. Setelah ia mandi dan minum, rasa kantuk tak tertahankan. Ia pun tertidur lelap.

Singkat cerita, ontanya masuk ke kebun orang dan memakan dedaunan di kebun itu. Tanpa sengaja membunuh, sang kakek pemilik kebun mengayunkan tongkat untuk menghalau. Tak disangka, onta itu mati kena pukulan yang tidak keras itu. Maka pemuda itu berang dan kemudian menikam sang kakek hingga tewas.

Ia menyesal dan dengan disiplin hidupnya, dia melapor kepada khalifah (disiplin pertobatan). Setelah di sidang, kedua anak lelaki sang kakek menuntut agar hutang nyawa dibayar nyawa alias qishash (QS. 2: 178).

Si pemuda menerima ikhlas vonis itu (disiplin hukum). Tetapi ia minta waktu tiga hari untuk pulang membayar hutangnya (disiplin bayar hutang). Khalifah berkenan, asal ada orang lain menjadi jaminan (disiplin acara hukum). Sahabat Abu Dzar menawarkan dirinya sebagai jaminan (disiplin ukhuwah). Pemuda itu pun pulang.

Begitu semua hutang dilunasi, si pemuda pamit isterinya untuk menjalani hukuman mati (disiplin asas hukum). Dengan berat hati, isterinya merelakannya (disiplin taat hukum). Saat mau berangkat menjalani hukuman mati, ketiga anaknya memegangi sang ayah agar jangan pergi. Mereka menangis meronta-ronta agar ayahnya tidak pergi. Kemudian ia terpaksa melepaskan tangan anak-anaknya, dan menaiki onta untuk memenuhi janji tiga hari (disiplin menaati janji).

Setibanya di Madinah, sahabat Abu Dzar hampir-hampir digantung karena terlambatnya si pemuda. Sesaat tiba di tempat eksekusi, ia meminta maaf kepada Abu Dzar dan khalifah atas ketelambatannya akibat dipegangi anak-anaknya. Hadirinpun terharu. Tidak sedikit yang meneteskan air mata. Begitu pula keharuan menyelinap pada kedua anak sang kakek, sebagai penuntut.

Dengan penuh keharuan, mereka merelakan hukum qishash diganti dengan hukum diyat, berupa 100 ekor unta yang dibayar tunai. Nominal besar bagi kalangan umum itu, karena pembunuhan ia lakukan dengan sengaja. Semua hadirin bertakbir. Allaahu Akbar. Wallahu a’lam bi al- shawaab.

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments