Di Batang, Inayah Wahid Soroti Kesalahpahaman Publik Tentang Puasa Ramadan

0
45
Putri Gus Dur, Inayah Wahid menjadi pembicara kegiatan Darul Falah Syiar Ramadan di Batang

BATANG,Suaranahdliyin.com – Putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid menyoroti kesalahpahaman publik tentang puasa Ramadhan. Menurutnya, banyak orang menganggap puasa berat hanya karena menahan lapar dan haus, bahkan memandang Ramadan sebagai bentuk pembatasan.

Ning Inayah menyampaikan hal itu dalam acara kegiatan Darul Falah Syiar Ramadan 1447 H sekaligus Santunan Kaum Dhuafa dan Pembagian Zakat di di Masjid Darul Falah Sidosari, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Senin (9/3/2026). Kegiatan yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang dan Yayasan Darul Falah mengangkat tema “Kelirumologi Spiritual Ramadhan di Era Postmodern”,

“Padahal Ramadan bukan limitasi (pembatasan), tetapi justru pembebasan. Kita belajar membebaskan diri dari nafsu dan keinginan sesaat serta menguatkan nilai kesabaran dan kemanusiaan,” ujar Ning Inayah.

Ia menambahkan bahwa Islam merupakan agama pembebasan yang mendorong umatnya untuk turut membebaskan sesama dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakpedulian. Inayah juga menyinggung kebijakan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid, yang mengembalikan kebebasan masyarakat Tionghoa merayakan Imlek secara terbuka di Indonesia.

“Hal tersebut menjadi contoh nyata semangat pembebasan dalam kehidupan berbangsa.”tandasnya.

“Kalau ada yang mengatakan Indonesia gelap, yang dimaksud bukan masyarakatnya, tetapi hubungan antara negara dan rakyatnya,”lanjut Ning Inayah.

Ketua PCNU Batang Ahmad Munir Malik sambutan di Darul Falah Syiar Ramadan

Sementara itu, Ketua PCNU Batang, Ahmad Munir Malik bersyukur selama dua tahun terakhir selalu dihadiri keluarga besar Abdurrahman Wahid. Tahun sebelumnya, berkesempatan sahur bersama nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

“Tahun lalu kita sahur bersama Ibu Sinta Nuriyah. Kali ini kita bersama putri bungsu beliau, Mbak Inayah. Kalau Ibu Sinta itu ibunya negara, maka Mbak Inayah ini anak negara,” ujarnya.

Munir menjelaskan, rangkaian kegiatan Syiar Darul Falah telah dimulai sejak siang hari dengan Festival Santri TPQ sebagai upaya menumbuhkan semangat generasi muda dalam menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Ke depan, kami harap kawasan Masjid Darul Falah tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan dari jenjang usia dini hingga pendidikan yang lebih tinggi.”harapnya.

Ia menambahkan, lokasi masjid yang berada di sekitar kawasan Kawasan Industri Terpadu Batang menjadikannya strategis sebagai benteng nilai bagi masyarakat di tengah pesatnya arus industrialisasi.

“Industrialisasi tentu membawa dampak sosial dan budaya. Karena itu kita perlu menyiapkan benteng nilai dan pendidikan agar generasi kita tetap kuat memegang Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.

Munir juga mengajak masyarakat Sidosari, Ketanggan, dan sekitarnya untuk bersama-sama mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat penguatan nilai-nilai keislaman. Ia berharap kehadiran Ning Inayah dapat mengobati kerinduan masyarakat kepada sosok Gus Dur sekaligus menjadi penguat harapan bagi kondisi bangsa ke depan.

“Semoga wejangan dari Mbak Inayah malam ini dapat mengobati kerinduan kita kepada Gus Dur dan menjadi doa bersama agar kondisi negara dan dunia semakin membaik,”imbuhnya.

Kegiatan ini diawali dengan festival santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), khotmil Qur’an, santunan bagi kaum dhuafa, serta penyerahan zakat dari wakif masjid Haji Iswanto dan Wahyu Wulandari sebanyak 2 ton beras serta 150 paket sembako.(aisah/adb)

Comments