Santri dan Urban Phenomenon

0
407

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Almarhum Prof Nurcholis Madjid (Cak Nur) pernah menyatakan, bahwa bentuk Islam dan pendidikan Islam di masa yang akan datang, tergantung kepada kemampuannya bermukim kembali di kota-kota, serta mampu menjadikan dirinya sebagai the great tradition, yang sebenarnya menentukan struktur dan peradaban kehidupan perkotaan.

Saya sepakat dengan tesis Cak Nur tersebut. Sebab, Mekah sebagai tempat lahirnya Islam, adalah  kota metropolitan lintas tiga benua. Waktu Islam lahir, penduduknya kurang lebih lima ribu jiwa. Di samping sebagai pusat ibadah, Mekah menjadi kota perjumpaan para kafilah dagang dari berbagai penjuru.

Suku Quraisy = (Qirsyun=uang, receh=karena suka berbagi receh), keturunannya sangat berpengaruh baik secara agama, politik maupun ekonomi. Mereka adalah komunitas bisnis yang tangguh dan ulung. Ada dua klan yang dominan, yaitu Bani Hasyim (orangnya gagah, perwira dan  spiritualis) serta Bani Umayah (politisi, kaya dan materialis-pragmatis).

Kelak kedua klan ini juga yang menentukan jalannya sejarah Islam. Kedua klan ini kita lihat keberlanjutannya pada Dinasti Bani Umayah dan Dinasti Bani Abbasiyah yang kemudian hancur. Dari sisa-sisa kehancuran Baghdad 1258 M, Islam secara masif sampai juga di Indonesia, yang dibawa para pebisnis yang sebelumnya tidak semasif itu. Kemudian estafet dakwah dilanjutkan oleh para wali, yang kemudian membuka pesantren salafiyah (asli).

Para wali dengan keikhlasannya, selalu membuka ruang mendekati pemerintahan untuk berkolaborasi dalam dakwahnya. Sejarah Majapahit, Demak, Cirebon, Mataram, Banten dan lainnya penuh dengan episode kolaborasi ulama dan umara.

Santri, waktu itu, selalu melebur diri ke kota. Karena kota jika dihiasi dengan the great tradition Islami (santri), otomatis masyarakat kampung akan meniru cara hidup orang kota. Kita lihat, kosakata yang berasal dari desa seperti “ujug-ujug, ngono yo ngono ning ojo koyo ngono, ketimbang,” dan lain-lain, diucapkan semua orang ketika telah diucapkan orang ibukota.

Hanya saja, setelah era penjajahan, sejak Portugis, Belanda dan Jepang, ulama merubah strategi. Mereka menjadikan pesantren sebagai basis perlawanan baik militer, marchent (dagang) maupun misionari ada di desa. Karena desa tidak mudah dijangkau oleh penjajah.

Ketidaksenangan santri kepada penjajah begitu dalam, sampai banyak mata pelajaran penjajah yang di-blacklist. Positifnya bisa memelihara jiwa kepahlawanan, negatifnya gagap teknologi yang ternyata kini berguna bagi perlawanan terhadap Islam Wahabi (yang sebagian menjadi teroris) semakin mengganasi Islam pesantren (asli).

Memang kesadaran urban phenomenon di kalangan pesantren (asli) mulai tumbuh, bahwa mereka harus menghuni kota termasuk kota Penajam sebagai IKN baru, sembari melanjutkan perjuangan di desa. Mereka harus menguasai budaya kota. Meskipun dakwah santri mengacu kitab kuning, budaya kota yang instan dan praktis harus diperhatikan dan melambarinya dengan Qur’an dan Hadis. Karena, anggapan mereka bahwa kitab kuning bukan dari Quran dan Hadis.

Di Yogyakarta, tumbuh banyak pesantren salafiyah (asli), juga kota besar lain. Banyak santri menjadi pejabat, doktor dan profesor. Jakarta media massanya dikuasai orang santri (non asli). BUMN, kampus, perumahan dicarikan dan digelontori dana dari Saudi dan lainnya yang rajanya paling kaya dari raja-raja sedunia, dengan kekayaannya sebesar Rp 210 ribu triliun. Uang itu dibuat masjid di lembaga tersebut dengan tatakelola ala Wahabi. Sebagian uang untuk menyuap santri asli yang lemah ekonomi, agar masuk dalam binaannya. Selain itu, mereka juga menggelitiki sebagian kecil zuriyah Nabi yang sangat dihormati oleh kalangan pesantren asli, untuk menjadi bagian dari jaringan mereka.

Memang putra mahkota Muhammad Bin Salman ada program reformasi, termasuk cara beragama. Tetapi Wahabi Saudi-pun banyak yang menentangnya. Bin Salman blak-blakan, bahwa Wahabisasi dunia termasuk di Indonesia, adalah atas perintah AS saat perang dingin yang disesali olehnya. Wallaahu A’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah Rektor Universitas Sains al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

 

Comments