
Oleh: Muhammad Naufal Aakif
(Penulis adalah santri Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus)
Sebagai seorang remaja yang lagi asyik-asyiknya menikmati masa muda, terkadang kita lupa untuk menjaga diri dari pergaulan-pergaulan yang negatif. Tak terkecuali di masa Ramadan, bulan suci umat Islam ini.
Ramadan, adalah bulan yang semestinya menjadi tempat seseorang berbenah menjadi pribadi yang lebih baik. Bulan di mana Allah melipatgandakan pahala setiap hambanya yang berbuat baik. Bukan malah melakukan sesuatu yang menjadikan kita masuk ke jurang penyesalan.
Di bulan yang mulia ini, seharusnya pula sebagai seorang muslim, kita menjadikan ini sebagai momentum penyemangat supaya semakin giat membenahi diri sendiri. Di bulan inilah kesempatan terbesar kita mendapat berbagai rahmat Allah yang begitu luasnya.
Namun beberapa di antara kita terkadang tidak menyadari akan pentingnya menjaga diri dari hal-hal yang dapat membuat kita terhalang mendapatkan rahmat Allah yang melimpah.
Hal tersebut terkadang terjadi terutama pada anak-anak muda. Terkadang beberapa diantara mereka melakukan perbuatan yang tanpa mereka sadari dapat menghilangkan pahala mereka menahan lapar seharian penuh pada saat Ramadan.
Mereka terlalu nyaman dengan hal yang telah ada tanpa mempertanyakan bagaimana dampak melakukan perbuatan tersebut pada bulan yang mulia ini.
Tanpa kita sadari banyak hal disekeliling kita yaitu sebuah kebiasaan-kebiasaan yang ternyata mempunyai dampak yang buruk bagi seseorang yang berpuasa. Walaupun tampak luarnya seperti hal yang biasa saja, ternyata tanpa kita sadari hal tersebut ternyata menyeleweng sedikit dari tujuan utamanya.
Salah satu contoh kebiasaan yang menjadi rutinitas mayoritas muslim di nusantara pada bulan Ramadan adalah ngabuburit.
Ngabuburit dalam definisinya diartikan sebagai perbuatan-perbuatan menjelang waktu petang. Dalam konteks Ramadan, ngabuburit berarti melakukan perbuatan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Hal ini berarti mencakup berbagai hal yang itu notabenya baik maupun yang buruk.
Sebenarnya ngabuburit bukanlah sesuatu yang dilarang secara syariat. Ngabuburit merupakan salah satu corak tradisi keislaman nusantara yang artinya masyarakat Indonesia melakukan berbagai hal untuk mengisi waktu luang menjelang berbuka puasa.
Akan tetapi yang menjadi masalah sekarang ini adalah, ketika tradisi ini menjelma menjadi perbuatan yang menyeleweng dari tujuan utamanya dan melanggar aturan syariat.
Sejatinya, ngabuburit bisa diisi dengan melakukan kegiatan positif seperti mengaji, mempersiapkan makanan untuk berbuka, membaca buku dan beberapa aktifitas positif yang lain.
Dan tak jarang, ada orang yang melakukan kegiatan ngabuburit dengan hal-hal yang tidak selaras dengan syariat. Sebagian contoh adalah beberapa kaum muda yang nongkrong sambil bargandengan tangan dengan yang bukan mahramnya.
Fenomena ini menjadi sebuah fenomena yang lucu dan aneh. Pada mulanya tradisi ini muncul sebagai tradisi ikon yang khas tradisi keislaman nusantara yang baik. Namun sekarang tradisi yang baik ini dikotori dengan hal-hal negatif seperti yang telah disebutkan.
Dalam artikel ini tidak menyebutkan sesuatau yang sepesifik pelaku atau kelompok yang melakukan perbuatan negatif. Namun dalam artikel ini mengajak semua dari kita terus untuk berbenah dan menjaga tradisi keislaman Nusantara ini.
Di antara salah satu solusi yang bisa saya tawarkan adalah: dengan terus menimbang perbuatan kita dengan timbangan syariat. Ini berarti apapun perbuatan seseorang harus didasari dengan dasar syariat yang benar.
Melihat bagaimana sejarah islam datang ke nusantara bukan semata-mata menghapus semua tradisi yang sudah terkanjur berjalan. Namun para penyebar Islam di Indonesia memberikan hembusan angin segar keislaman di setiap tradisi nusantara bukan semerta-merta langsung menghilangkannya.
Menimbang sesuatu dengan timbangan syriat berarti mendasari setiap perbuatan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan landasan ilmu Fiqih yang kuat. Bukan hanya ikut-ikutan melekukan sebuah perbuatan tanpa mengetahui dasarnya. Ini berarti tak semua perbuatan yang ada sekarang ini tak benar-benar didasari dengan ilmu yang cukup.
Mengapa hal ini penting terutama pada saat bulan Ramadan yang mulia ini, karena khusus pada bulan mulia ini Allah melipatgandakan amal perbuatan hambanya. Melakukan perbuatan negative pada bulan ramadan bisa berdampak pada hilangnya pahala puasa sebab beberapa hal yang negatif.
Di antara perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa adalah adalah:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ.
Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu” (HR Ad-Dailami).
Hadis tersebut mengajarkan kita bahwasanya puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga menahan diri dari hawa nafsu juga. Seorang muslim yang menjalani ibadah puasa hakikatnya diajarkan untuk melawan hawa nafsunya sendiri. Karena Allah sudah mengurung setan di bulan ini.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah dan Ibnu Hajar. Mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ja‘far, dari Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Ini Berarti amal perbuatan negatif yang dilakukan seseorang pada bulan Ramadan merupakan murni keinginan nafsu dirinya sendiri.
Itulah sebabnya mengapa seorang muslim tidak boleh melakukan hal-hal yang negatif dalam bulan Ramadan. Selain dapat membuat hilangnya pahala puasa untuk apa juga puasa seharian penuh kalau hanya mendapat lapar dan dahaga saja.
Oleh karna itu kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita ketingkat yang lebih baik. caranya dengan mempelajari beberapa hukum-hukum islam, sebagai pijakan untuk hidup di dunia ini. seorang muslim memang seharusnya selalu bebenah menuju keadaan yang lebih baik dan menjadi manfaat yang terbaik. (diolah dari berbagai sumber)





































