
Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus.
Oleh: H Ahmad Bahruddin
Belakangan, pondok pesantren tengah mengalami sebuah tragedi luar biasa dalam pendidikan: hilangnya kemandirian yang diakibatkan oleh kasih sayang yang salah.
Pondok pesantren yang dahulu dikenal sebagai tempat membina santri-santri pejuang, kini secara perlahan bertransformasi menjadi “hotel asrama” yang kehilangan daya tariknya.
Kegagalan tersebut tentu tidak disebabkan oleh lemahnya kurikulum atau fasilitas yang terbatas, tetapi juga oleh “campur tangan” orang tua yang mengganggu kekuasaan edukatif para guru dan kiai (pengasuh pondok).
Problematika tersebut dimulai dari pola pikir transaksional. Ketika biaya pendidikan pesantren meningkat, banyak orang tua kelas menengah yang baru beranggapan bahwa mereka membeli sebuah produk, bukan menitipkan anak untuk dibina.
Dengan peran sebagai “pembeli”, banyak orang tua pun merasa berhak mencampuri setiap aspek kebijakan pondok (asrama), mulai dari pilihan menu hingga lamanya hukuman.
Campur tangan ini, secara sistemik, sangat merusak hierarki yang seharusnya ada. Secara psikologis, merujuk pada teori Erik Erikson, masa remaja adalah periode penting dalam pengembangan kemandirian. Ketika orang tua melakukan curling parenting -menghilangkan semua rintangan bagi anak agar mudah- mereka secara tidak sadar melemahkan kemampuan mental anak.
Dampak yang akan muncul kemudian adalah lahirnya “Generasi Stroberi”: tampak menarik di luar, tetapi mudah hancur ketika menghadapi sedikit tekanan.
Berdasarkan data dari berbagai penelitian psikologi yang dilakukan banyak pakar (ahli), pendidikan menunjukkan tren yang mencemaskan. Anak-anak yang terus-menerus “dilindungi” dari konsekuensi tindakan oleh orang tua, memiliki tingkat kecemasan 25% lebih tinggi dan keterampilan pemecahan masalah 30% lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang dibiarkan mandiri.
Di pondok pesantren, kegagalan ini terlihat jelas di grup-grup WhatsApp orang tua. Sekitar 65% kasus santri yang tidak menyelesaikan pendidikan dipicu bukan oleh kurangnya kemampuan akademik, tetapi oleh reaksi berlebihan orang tua terhadap keluhan kecil anak. Orang tua sering kali menjadi “pintu keluar” tercepat bagi anak untuk menghindari tanggung jawab, bukan menjadi pendorong untuk bertahan.
Sabotase Karakter
Kita perlu mengakui, bahwa inti pondok pesantren adalah “penderitaan yang terukur”. Menunggu antrean untuk mandi, mencuci baju sendiri, dan hidup dengan sederhana adalah metode pendidikan untuk membangun integritas. Namun, orang tua saat ini ingin anaknya menjadi kuat tanpa ingin anaknya melewati proses yang sulit.
Di kala orang tua menyampuri “hukuman” dari ustaz, mereka sebenarnya mengajarkan anak bahwa “aturan dapat diabaikan bila orang tuamu memiliki kekuatan”. Ini merupakan bibit mentalitas koruptif dan antiotoritas di masa yang akan datang. Pengetahuan yang diperoleh mungkin baik secara intelektual, namun kehilangan dimensi spiritualitas; hilangnya keberkahan. Ilmu tertumpuk di dalam pikiran, tetapi tidak menjadi pedoman karakter.
Hilangnya Kepercayaan
Kegagalan ini mencapai puncaknya ketika institusi pesantren mulai merasakan ketakutan. Banyak pesantren terjebak dalam keramahan palsu untuk menjaga angka retensi santri. Karena takut kehilangan sumber dana, pengelola mulai melonggarkan aturan hingga kehilangan kekuasaan disiplinnya.
Data internal dari beberapa pesantren modern menunjukkan bahwa ada penurunan 40% dalam intensitas hukuman disiplin selama satu dekade terakhir.
Penurunan ini bukan menunjukkan santri semakin ahlussunnah, tetapi menjadi bukti bahwa pengelola menjadi enggan untuk berhadapan dengan orang tua yang vokal dan merasa “memiliki” pesantren karena telah membayar mahal.
Ironis! Kegagalan pesantren mencerminkan hilangnya kepercayaan. Jika orang tua tidak bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pesantren untuk “menyakitkan” anak mereka dalam konteks pendidikan, maka jangan harap pesantren bisa menciptakan individu yang kuat.
Maka berhentilah orang tua “menjadi pengawas” bagi pendidikan anak Anda. Kepercayaan Anda akan menjadi dorongan bagi kemandirian mereka. Tanpa kepercayaan itu, pesantren hanya akan menghasilkan lulusan yang pandai berbicara tetapi lemah dalam karakter.
Hal tersebut akan berdampak buruk, karena anak-anak Anda akan menjadi individu yang manja, dan mudah runtuh ketika menghadapi kerasnya kenyataan hidup setelah meninggalkan pesantren. Wallahu a’lam. (*)
H Ahmad Bahruddin,
Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus.







































