Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.
Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, serta kesempatan luas untuk melipatgandakan pahala dan memperbaiki diri. Karena kemuliaannya, para ulama dan orang-orang saleh terdahulu mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadan tiba.
Ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, mereka memperbanyak doa agar diberi umur panjang dan kesehatan untuk dapat bertemu dengan Ramadan. Di antara doa yang masyhur adalah:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadan).
Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah tamu agung yang dirindukan dan disambut dengan penuh kegembiraan serta kesungguhan.
Salah satu ibadah utama di bulan Ramadan adalah puasa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami makna, tujuan, serta tingkatan puasa agar ibadah yang kita jalankan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai tinggi di sisi Allah Swt.
Puasa menurut bahasa berarti menahan (imsak). Secara istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat karena Allah Swt. Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah ruhani yang bertujuan membentuk ketakwaan dan pengendalian diri.
Para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan agar seorang Muslim tidak hanya berhenti pada aspek lahiriah, tetapi juga meningkatkan kualitas batiniah.
Tingkatan pertama adalah puasa syariat, yakni menahan lapar dan haus serta menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sesuai ketentuan fikih. Pada tahap ini, seseorang telah menunaikan kewajiban secara hukum sehingga puasanya dinilai sah.
Tingkatan ini umumnya dilakukan oleh orang awam: menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari, meski belum sepenuhnya menjaga aspek batin dan akhlak selama berpuasa. Meski demikian, puasa syariat tetap bernilai dan menjadi fondasi penting. Dari sinilah seseorang belajar disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri sebagai langkah awal meningkatkan kualitas ibadah.
Tingkatan kedua adalah puasa tarekat, yaitu puasa yang disertai dengan pengendalian diri dari perbuatan maksiat. Seorang yang berada pada tingkatan ini, tidak menahan makan dan minum, tetapi juga berusaha menjaga lisannya dari dusta dan ghibah, menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menjaga pendengarannya dari keburukan, serta menjaga hatinya dari iri, dengki, dan prasangka buruk. Pada tingkatan ini, puasa menjadi sarana pendidikan akhlak dan penyucian jiwa.
Adapun tingkatan tertinggi adalah puasa hakikat, yaitu puasa lahir dan batin secara lebih sempurna. Tidak hanya anggota badan yang dijaga, tetapi juga hati dan pikiran senantiasa terhubung kepada Allah Swt.
Orang yang mencapai tingkatan ini menjadikan seluruh orientasi hidupnya untuk akhirat. Ia berpuasa bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan sebagai wujud cinta, penghambaan, dan kedekatan kepada Allah. Hatinya terjaga dari selain Allah dan dipenuhi dzikir, syukur, serta keikhlasan.
Selain berdasarkan kualitasnya, puasa juga dibagi berdasarkan hukumnya dalam syariat Islam. Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan tanpa alasan syar’i. Di antaranya adalah puasa Ramadan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh setiap tahun, puasa nazar yang diwajibkan atas diri sendiri karena janji kepada Allah, serta puasa qadha sebagai pengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan karena uzur seperti sakit atau safar.
Adapun puasa sunah adalah puasa yang dianjurkan untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah. Di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Tasu’a dan Asyura pada bulan Muharram, puasa Tarwiyah dan Arafah pada bulan Dzulhijjah, serta puasa Senin dan Kamis.
Puasa sunah menjadi pelengkap dan penyempurna puasa wajib, sekaligus bukti kesungguhan seorang hamba dalam meningkatkan kualitas ibadahnya.
Ramadan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang dalam hidup kita. Setiap detiknya adalah peluang untuk memperbaiki diri, menghapus dosa, dan menguatkan hubungan dengan Allah Swt.
Memahami tingkatan dan pembagian puasa seharusnya mendorong kita untuk tidak berhenti pada puasa syariat semata. Kita diajak untuk terus meningkatkan kualitas puasa sehingga puasa benar-benar mengantarkan kita pada derajat takwa.
Semoga Ramadan yang kita jalani bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi momentum perubahan diri menuju pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah Swt.(*).
(Nik Hayati adalah Pembina PC Fatayat NU Kudus. Tulisan ini diolah dari materi program Senja Sebelum Tarawih (SASET) kerja sama PC Fatayat NU Kudus dengan stasiun Radio Lokal/Yuli)




































