Dr Nur Said, Dosen UIN Sunan Kudus Raih Maheswara Utama BPIP

0
66
Dr Nur Said, dosen UIN Sunan Kudus dan Sekretaris PCNU Kabupaten Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Dr H Nur Said SAg MA MAg, dosen UIN Sunan Kudus. Dia resmi ditetapkan sebagai salah satu Maheswara Kualifikasi Utama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia Angkatan I Tahun 2025.

Prestasi itu diraih berdasarkan Keputusan Kepala BPIP Nomor 38 Tahun 2025 tentang Maheswara Kualifikasi Utama Angkatan I Tahun 2025.

Dari seluruh peserta yang mengikuti proses seleksi nasional, hanya sebanyak 81 orang yang dinyatakan lulus dan berhak menyandang predikat Maheswara Utama Angkatan Pertama BPIP.

Istilah “Maheswara” merupakan nomenklatur baru yang diperkenalkan BPIP dalam sistem sertifikasi sumber daya manusia Pembinaan Ideologi Pancasila. Secara umum, Maheswara merujuk pada pengajar Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila (Diklat PIP) yang telah memenuhi standar kompetensi, mengikuti pelatihan khusus, dan memperoleh sertifikasi resmi dari BPIP.

Dalam sistem BPIP, kualifikasi Maheswara terdiri atas beberapa jenjang, yaitu Pratama, Madya, dan Utama, yang menunjukkan tingkat kompetensi, pengalaman, dan kapasitas pengajar dalam menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Dengan kata lain, keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Prosesnya berlangsung panjang sejak tahun 2024. Ratusan peserta dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan institusi pendidikan di seluruh Indonesia mengikuti proses seleksi administrasi yang ketat.

Setelah dinyatakan lolos administrasi, peserta diwajibkan mengikuti Pelatihan Calon Pengajar Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila atau Training of Trainers (ToT) Maheswara Kualifikasi Utama yang diselenggarakan BPIP.

Pelatihan intensif tersebut berlangsung selama tiga hari pada pertengahan tahun 2025 dengan menghadirkan para narasumber dari BPIP, praktisi pendidikan kebangsaan, serta profesor dan pakar Pancasila dari berbagai perguruan tinggi terkemuka.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan penguatan substansi, metodologi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, serta pengembangan kompetensi pedagogis dalam Pembinaan Ideologi Pancasila.

Usai pelatihan, para peserta masih harus melalui proses evaluasi, asesmen, dan verifikasi kompetensi yang berlangsung selama beberapa bulan. Hasilnya diumumkan pada tahun 2026 dan peserta yang memenuhi seluruh persyaratan dinyatakan lulus serta memperoleh Sertifikat Pengajar Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila yang diterbitkan BPIP.

Sertifikat resmi tersebut mulai diterima para Maheswara Utama melalui pengiriman pos menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

Dr Nur Said termasuk salah satu peserta yang berhasil melewati seluruh tahapan tersebut. Sebagai akademisi yang selama ini menekuni bidang filsafat, pemikiran Islam, dan studi kebangsaan, ia memperoleh kompetensi utama pada bidang Materi Dasar Pembinaan Ideologi Pancasila dengan spesialisasi “Pokok-pokok Pikiran Pancasila”.

Bidang tersebut sangat relevan dengan kapasitas akademiknya sebagai dosen filsafat yang selama bertahun-tahun mengembangkan kajian filsafat Pancasila, filsafat Nusantara, dan pemikiran kebangsaan.

Menurut Petunjuk Teknis Sertifikasi Pengajar Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BPIP Nomor 60 Tahun 2024, pengajar Diklat PIP yang tersertifikasi merupakan bagian penting dalam menjamin mutu pendidikan dan pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila secara nasional.

Pengajar yang telah tersertifikasi memiliki kewenangan untuk mengampu materi dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila sesuai bidang kompetensinya.

Regulasi BPIP juga menegaskan bahwa penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila tidak hanya dilakukan oleh BPIP, tetapi juga dapat dilaksanakan oleh kementerian, lembaga pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan dan pelatihan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial politik, serta berbagai institusi lain yang berkoordinasi dengan BPIP.

Karena itu, keberadaan Maheswara menjadi sangat strategis dalam memperluas jangkauan pembinaan ideologi Pancasila di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ruang lingkup Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila mencakup penguatan pemahaman nilai-nilai dasar Pancasila, sejarah perumusan Pancasila, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, wawasan kebangsaan, ketahanan nasional, aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta berbagai materi tematik sesuai kebutuhan peserta pendidikan dan pelatihan.

Bagi UIN Sunan Kudus, capaian ini menjadi pengakuan nasional atas kontribusi kampus dalam penguatan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila. Keberhasilan Dr Nur Said sebagai Maheswara Utama BPIP diharapkan semakin memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun generasi yang religius, moderat, berkarakter, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Pancasila.

“Ini bukan sekadar capaian personal, tetapi amanah untuk terus mengembangkan pendidikan Pancasila yang dialogis, reflektif, dan kontekstual. Sebagai dosen filsafat, saya melihat Pancasila bukan hanya sebagai dokumen politik, melainkan sebagai sumber nilai yang hidup dan terus relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan di era global,” tutur Dr Nur Said yang juga sekretaris PCNU Kabupaten Kudus tersebut.

Dengan capaian itu, UIN Sunan Kudus kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pengembangan ilmu keislaman, tetapi juga aktif berkontribusi dalam penguatan ideologi Pancasila, moderasi beragama, dan pembangunan karakter kebangsaan Indonesia. (rls/ ros, adb, rid, gie, luh, mail)

 

Comments