Ibadah merupakan unsur pokok dalam setiap agama, termasuk Islam. Dalam ajaran Islam, terdapat berbagai bentuk ibadah. Ada ibadah yang berkaitan dengan harta, seperti zakat, infak, sedekah, fidyah, dan kafarat. Ada pula ibadah yang berkaitan dengan fisik, seperti salat.
Sementara itu, puasa merupakan ibadah yang berkaitan dengan fisik sekaligus memiliki dimensi pengendalian diri yang berdampak pada aspek spiritual dan sosial. Karena puasa merupakan bagian dari ibadah dalam Islam, maka tata cara pelaksanaannya harus mengacu pada tuntunan Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.
Secara bahasa, puasa berasal dari kata shaama – yashuumu – shauman yang berarti menahan diri dari sesuatu. Adapun menurut syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah SWT serta mengharap rida-Nya.
Karena puasa termasuk ibadah, maka dalam pelaksanaannya harus disertai niat. Niat merupakan rukun dalam setiap ibadah.
Tata cara puasa hendaknya merujuk pada praktik puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam pelaksanaannya, puasa memiliki rukun, syarat, dan sunnah.
Di antara amalan yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa adalah berniat, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, makan sahur, menyegerakan berbuka, qiyamul lail, serta membaca Al-Qur’an. Di antara sunah yang sangat ditekankan adalah sahur.
Sahur bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang dianjurkan secara tegas oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Sahih Muslim no. 1836).
Hadits ini menjelaskan bahwa sahur menjadi salah satu pembeda antara puasa umat Islam dan puasa Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Dengan demikian, sahur bukan hanya bermanfaat secara fisik untuk menambah kekuatan saat berpuasa, tetapi juga menjadi syiar dan identitas umat Islam. Bahkan, meskipun hanya dengan seteguk air, sahur tetap dianjurkan karena mengandung keberkahan.
Pada awal diwajibkannya puasa, aturannya cukp ketat. Jika seseorang tertidur setelah berbuka, maka ia tidak boleh lagi makan, minum, atau berhubungan suami istri hingga waktu berbuka keesokan harinya.
Dikisahkan seorang sahabat bernama Qais bin Shirmah tertidur sebelum sempat berbuka karena kelelahan bekerja. Keesokan harinya ia jatuh pingsan akibat lemahnya kondisi tubuh. Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Surah Al-Baqarah ayat 187: “Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
Ayat ini menjadi titik awal diberikannya keringanan (rukhsah) bagi umat Islam, termasuk anjuran sahur sebagai bentuk kasih sayang Allah agar umat-Nya tidak merasa berat dalam menjalankan puasa.
Agar sahur berkualitas secara spiritual, terdapat beberapa sunah yang dicontohkan Nabi, yaitu mengakhirkan waktu sahur mendekati waktu subuh agar stamina tetap terjaga, mengonsumsi kurma sebagaimana sabda Nabi bahwa sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah kurma (HR. Abu Dawud), serta tidak berlebihan dalam makan. Jika tidak berselera makan banyak, tetaplah bersahur walaupun hanya dengan seteguk air untuk meraih keberkahan.
Sains modern membuktikan bahwa pola sahur sesuai sunah memiliki dampak fisiologis yang baik bagi tubuh. Mengakhirkan sahur membantu menjaga cadangan glikogen di hati sehingga dapat mencegah hipoglikemia (penurunan gula darah) yang menyebabkan pusing dan lemas.
Kurma mengandung glukosa alami sebagai sumber energi instan serta serat yang membantu pelepasan energi secara perlahan sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Minum air saat sahur membantu ginjal menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit selama berpuasa. Selain itu, makan pada waktu sahur membantu mempertahankan metabolisme dasar tubuh agar tetap stabil selama puasa.
Untuk memperoleh sahur yang berkualitas, dapat memperhatikan komposisi makanan seperti karbohidrat kompleks (nasi, gandum, atau ubi), protein berkualitas (telur dan ikan), serta buah dan sayur sebagai sumber serat. Hidrasi yang cukup juga penting, misalnya dengan pola 2-4-2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas pada malam hari, dan dua gelas saat sahur.
Sahur yang berkualitas merupakan wujud ketaatan kepada Allah dengan mengikuti sunah Rasulullah SAW sekaligus bentuk tanggung jawab menjaga amanah tubuh secara ilmiah.
Semoga puasa yang kita laksanakan benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa, serta Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan batin untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya dan menerima amal ibadah kita.(*)
(Ana Durrotun Nafisah adalah wakil Ketua III PC Fatayat NU Kudus.Tulisan ini diolah dari materi Program Senja Sebelum Tarawih ( SASET) kerja sama PC Fatayat NU Kudus dengan Stasiun Radio Lokal/Yuli)






































