Menilik Kontribusi Mbah Kholil Bangkalan bagi Bangsa dan Islam di Nusantara (Bagian 1)

0
569

SALAH satu ulama kenamaan di Nusantara yang memiliki sumbangsih besar bagi lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) dan berperan menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme di kalangan santri dalam melawan kolonialisme, adalah Syaikhona Muhammad Kholil (Mbah Kholil) Bangkalan.

Maka tak berlebihan jika kini, ada berbagai kelompok masyarakat yang mendukung dan menghendaki, agar pemerintah Republik Indonesia (RI) memberikan anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada guru para ulama Nusantara tersebut.

Dr Muhaimin M.Pd, ketua tim pengusul dan koordinator kajian akademik dan biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, membuat kajian yang menarik berjudul “Kontribusi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dalam Jejaring Simpul Islam Nusantara dan Penguatan Nasionalisme Ulama-Santri dalam Perjuangan Melawan Kolonialisme di Indonesia Kurun Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20.”

Dalam kajiannya itu dia menyebutkan, bahwa salah satu ulama besar yang berperan penting dalam perlawanan melawan kolonialisme dan  konstruksi Islam Nusantara, yaitu Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

“Eksistensi dan kontribusi Syaikhona Muhammad Kholil dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan, politik, dan sebagainya sangat besar. Kotribusi itu terlihat dalam perlawanan melawan kolonialisme di Indonesia, terutama yang digerakkan oleh ulama dan santri. Simpul-simpul perlawanan, terutama di wilayah tapal kuda, diinisiasi oleh santri-santri Syaikhona Muhammad Kholil,” jelasnya.

Isyarat Pendirian NU 

Kondisi perpolitikan di Timur Tengah, tidak menguntungkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Hijaz, daerah yang melingkupi Mekah dan Madinah yang merupakan pusat Islam, sejak awal berdirinya merupakan jantung kota peradaban Islam Aswaja. Kendati beberapa periode sejarah, Mekah dan Madinah tidak menjadi ibu kota negara.

Tetapi bagaimanapun, kondisi politik Hijaz sangat berpengaruh terhadap kondisi perkembangan Islam Aswaja. Kooptasi paham Wahabi yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Saud, mengubah peta Aswaja di daerah Hijaz. Syarif Husein sebagai penguasa Hijaz, merupakan amir dari Khalifah Usmaniyah yang berpaham sunni. Secara ekstrem, Ibnu Saud yang berkomplot dengan Wahabi, lalu melancarkan pembasmian besar-besaran terhadap para ulama Aswaja serta pembumihangusan terhadap seluruh peradaban Aswaja.

“Para ulama Aswaja yang berada di Indonesia, gelisah dan khawatir terhadap kondisi perpolitikan terakhir di daerah Hijaz ini. Kondisi ini memantik para ulama Aswaja di Indonesia untuk bertemu. Pertemuan-pertemuan penting intens dilakukan, baik di Jawa  ataupun Madura. Beberapa ulama yang intens melakukan pertemuan yaitu Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Ridlwan, Kiai Alwi, dan lainnya,” terang Dr Muhaimin dalam kajiannya.

Dr Muhaimin menjelaskan, salah satu pertemuan penting yang dilaksanakan di Madura, yaitu pertemuan sekitar oleh 66 ulama yang dilaksanakan di kediaman Kiai Muntaha (menantu Mbah Kholil Bangkalan) di Jengkebuen dalam kurun 1920 M –sebagaimana diungkap oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Para ulama bahkan bermukim di kediaman Kiai Muntaha selama satu bulan.

Para ulama gelisah melihat Geopolitik Hijaz; kooptasi Wahabi menggulingkan Syarif Husein, kebijakan Wahabi atas kebebasan bermazhab, larangan mazhab selain Wahabi,  pengrusakan dan penghancuran situs-situs Islam, serta melemahnya kekuatan Turki Utsmani sebagai kekhalifahan Islam Aswaja.

Namun para ulama (bisa) merasa tenang, lantaran Syaikhona Kholil yang notabene  tidak mengikuti pertemuan, tetapi telah memberikan jawaban atas materi diskusi dan kegelisahan itu. Hingga para ulama bisa pulang dengan lega.

Kurun waktu 1921, diskursus keilmuan Islam di Hindia Belanda semakin tajam. Terjadi perdebatan keras antara kalangan tradisional dan modernis. Kalangan modernis semakin intens mempertanyakan masalah-masalah khilafiyah; tentang mazhab, ijtihad, tauhid, fikih, hingga amaliyah yang mengakulturasi dalam kebudayaan dan keberagamaan masyarakat. Perdebatan-perdebatan itu kian ramai, hingga menimbulkan perselisihan di antara umat  Islam, bahkan mengancam persatuan umat Islam.

Pada giliran selanjutnya, 1924, para ulama sepakat membentuk Komite Khilafat bersamaan dengan keruntuhan Turki Utsmani. Bersamaan dengan runtuhnya Turki Utsmani pada 3 Maret tahun 1924, Umat Islam Indonesia mengadakan sebuah komite Khilafat. Harapannya, tercipta persatuan umat Islam, yang kemudian dapat menjadi estafet kekhalifahan Islam.

Namun persatuan yang diharapkan dengan adanya Komite Khilafat ini, tidak membuahkan hasil. Sebab, pandangan kalangan tradisional tidak sejalan dengan kalangan modernis, yang bersikukuh menolak praktik-praktik keberagamaan. Akhirnya pada 1926, KH Wahab Hasbullah menarik diri dari Komite Khilafat.

Selanjutnya, sekira awal 1924, di tengah kegelisahan massif kaum pesantren, Kiai Hasyim Asy’ari terus berikhtiar, bermunajat dan beristikharah untuk mendapat petunjuk dan isyarat. Akan tetapi petunjuk dan isyarat yang diharapkan tak kunjung datang. Isyarat dan inspirasi justru datang dari Mbah Kholil Bangkalan. Mbah Kholil Bangkalan memanggil Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat kepada Kiai Hasyim Asy’ari, seraya berpesan sebuah ayat:

Kiai As’ad dengan patuh mengantarkan tongkat dan pesan Mbah Kholil kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Setelah menerima tongkat ini, Kiai Hasyim berujar bahwa Kiai Hasyim mantap untuk mendirikan sebuah organisasi yang dapat mewadahi pemikiran dan gerakan kalangan pesantren.

Lalu sekira pengujung akhir 1924, Kiai As’ad kembali dipanggil oleh Mbah Kholil Bangkalan untuk mengantarkan tasbih kepada Kiai Hasyim Asy’ari, seraya membacakan sebuah bacaan:

Kiai As’ad lalu membungkukkan kepalanya menerima pengalungan tasbih langsung dari Mbah Kholil Bangkalan. Dengan cara itu pula Kiai As’ad  menyerahkannya kepada Kiai Hasyim Asya’ari. Lantas Kiai Hasyim Asy’ari berujar bahwa siapa saja yang melawan ulama (dalam organisasi ini) akan hancur.

Kemudian pada periode 1924-1926, pertemuan-pertemuan para ulama, intens dilakukan. Akhirnya dalam rapat yang digelar pada 31 Januari 1926, disepakati membentuk Komite Hijaz, yaitu komite yang ditugaskan untuk menyampaikan aspirasi kalangan Aswaja pada penguasa Arab yang baru, Raja Ibn Saud. Komite Hijaz ini dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanaim al-Amir al-Misri.

Aspirasi Komite Hijaz tersebut tertuang dalam Risalah Komite Hijaz yang terdiri atas lima aspirasi, di antaranya meminta kepada Raja Ibnu Sa’ud untuk tetap melakukan kebebasan bermazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) serta meminta semua hukum yang berlaku di tanah Hijaz ditulis sebagai undang – undang, supaya tidak terjadi pelanggaran hanya karena belum ditulisnya undang-undang tersebut.

Dalam menjalankan tugas diplomasinya, Kiai Wahab Hasbullan dan Syaikh Ahmad Ghanaim berhasil menyakinkan Raja Ibn Saud, untuk menerima aspirasi kalangan Islam Tradisional (Pesantren). Namun, muncul permasalahan, atas nama   siapakah Komite Hijaz berangkat. “Pertemuan itu akhirnya menyepakati, Komite Hijaz berangkat atas nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’. Dengan demikian, pada malam itu juga, lahirlah organisasi Nahdlatul Ulama’,” terang Dr Muhaimin dalam kajiannya. (mail, gie, luh/ ros, rid, adb)

 

 

Comments