Memaknai Tujuan Hidup

0
185

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Abbas Mahmud Al-‘Aqqad (1889-1964) menulis:  صغير يطلب الكبرا= Anak kecil ingin menjadi dewasa. شيخ ود لو صغيرا = Orang tua ingin kembali muda.  ورب المال في تعب= Orang berharta dalam kepayahan.  وفي تعب من افتقرا  =  Dan dalam kepayahan itu ia semakin faqir/berkekurangan.  وخال يشتهي عملا = Orang nganggur rasanya melantur.  وذو عمل به ضجرا = Orang yang bekerja bosan dengan pekerjaannya. ويشقى المرء منهزما.  Orang menjadi sedih dan susah jika kalah. ولا يرتاح منتصرا. Orang yang menang tidak mencapai ketenangan. ولم يرضى بلاعقب. Orang tidak rela karena tidak mempunyai pengikut.  فا ن يعقب و لا وزرا. Maka jika ia mempunyai pengikut tidak mampu betanggung jawab.

Kebanyakan manusia yang hidup tanpa  iman-islam,  arah hidupnya hanya  duniawi/sekular yang terbatas. Maka mereka mudah defisit harapan ketika capaian dunianya mengalami stagnasi apalagi kolaps. Mereka frustasi, putus harapan dan banyak yang  bunuh diri. Alangkah baiknya  jikalau kita  renungkan tiga hal sbb:

  1. Maa Ghaayatu Hayaatika?

Apakah tujuan hidup kalian? Kalau jawabnya untuk makan (?) Tadi pagi sudah makan. Kemarin sudah juga. Nanti sore makan, besok pagi makan. Lalu kapan selesainya? Ya belum selesai kalau belum disuap debu alias meninggal dunia. Kalau hidup hanya mau minum, kapan juga selesainya? Belum akan selesai kalau belum dihadapkan kiblat alias mati. Demikian juga kalau hidup untuk coitus. Takkan selesai kalau belum andropous dan kemudian wafat.

Lalu apa yang menjadi tujuan hidup? Dia adalah doa seorang muslim yang kemudian dijadikan visi. Yaitu:

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وفنا عذاب النار. (QS. 2: 201).

Dikatakan visi=vision=impian yang jauh. Memang harus visionair=tinggi, tetapi harus visibel=terjangkau. Jika doa itu kita jadikan visi, semoga kita akan menuai hasilnya di dunia dan akhirat.

  1. Maa Khitthatu Hayaatika?

Apakah program hidup kalian? Jika program kita hanya memprogram untuk esok pagi, atau nanti sore. Alangkah lebih pendeknya hidup ini. Seorang yang cerdas mungkin bisa mendesain jangka pendek untuk hidup setahun. Pejabat mendesain pembangunan jangka menengah lima tahun, bahkan ada yang mendesain untuk 25 tahun.

Akan tetapi, Nabi Muhammad itu semua baru mulai cerdas. Yang cerdas, Nabi memberikan tuntunan kepada umat Islam untuk mendesain kehidupan setelah wafat. Nabi bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد االموت والعاجز من اتبع هواها وتمنى على الله.

Artinya: Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Adapun orang yang lemah akal adalah orang yang menfmgikuti hawa nafsunya dan berangan-angan  kepada Allah (At-Tirmidzi No 2383).

  1. Maa Shiraathu Hayaatika?

Apakah jalan hidup kalian? Jalan hidup adalah obor kehidupan. Manusia memang dibekali insting beragama sekaligus akal. Manusia adalah homo religous, makhluk beragama. Manusia mungkin saja hidup telanjang tidak berbudaya. Tetapi mereka selalu beragama. Sampai Will Durant menyebut agama itu seperti manusia 100 nyawa. Sekali dipenggal hidup lagi. Dipenggal lagi, hidup lagi. Begitulah agama, di negeri ateis sekalipun. Meskipun di sana ada Undang-Undang yang aneh dan lucu: “Freedom of worship and freedom of anti religion propagation.”

Ada pula yang merasa jalannya sudah benar, padahal salah. Merasa sudah adil, tetapi ternyata hanya dipengaruhi emosinya sendiri. Allah berfirman:

الذين ضل سعيهم في الحيوة الدنياوهم يحسبون انهم يحسنون صنعا . Artinya: Orang- orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia,  namun mereka menganggap dirinya telah berbuat kebaikan (QS. 18: 104). Dan, jalan kebenaran itu adalah Al-Qur’an dengan semua yang mengiringinya. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments