KH Ahmad Charir Sebut Islam Nusantara Dirindukan Dunia

0
351
KH Ahmad Charir menyampaikan tausiyah

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Arab, merindukan suasana keislaman di Indonesia yang toleran, rukun, dan damai. Namun ada sebagian orang Indonesia malah sok kearab-araban, dan kurang tepat dalam meneladani esensi Islam dan akhlak Nabi.

“Tidak ada yang salah dengan kearab-araban, namun perlu digarisbawahi, bahwa keislaman kita ini justru dirindukan umat Islam seluruh dunia. Misalnya PBNU, mendapat permintaan imam masjid dari sejumlah negara,” tutur Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Boyolali, KH Ahmad Charir.

KH Ahmad Charir menyampaikan hal tersebut dalam peringatan malam ke-40 wafatnya KH Subur Aditama, di kompleks Pesantren Nurul Quran, Teter, Simo, Boyolali, Kamis (12/5/2022) malam lalu. Dia berharap, keluarga beserta santri merawat dengan penuh kesungguhan peninggalan KH Subur Aditama, baik pondok pesantren maupun amaliyah ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).

“Amaliyah peringatan tiga hari, tujuh hari, 40 hari dan seterusnya, itu perlu dijaga sebagai tradisi baik, untuk mendoakan yang telah meninggal dunia. Yang menciptakan budaya dan kebiasaan –kebiasaan itu adalah Walisongo berdasar hadis, termasuk bacaan al-Quran dan zikirnya,” tutur Kiai Charir.

Disampaikannya, berdasar sejumlah penelitian akademisi, tradisi 3 hari, 7 hari, dan 40 hari dari kematian seseorang itu tidak ada di agama Hindu dan kitabnya. “Di India tradisi itu juga tidak ada,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan, bahwa Islam tanpa dirawat budaya, belum tentu bisa berkembang dengan baik. “Banyak contoh di Negara lain yang Islamnya ‘hancur’ karena Islam tidak ditopang budaya yang kuat,” ungkapnya.

Warga menghadiri peringatan malam ke-40 wafatnya KH Subur Aditama, di kompleks Pesantren Nurul Quran

Dalam pandangan Kiai Charir, metodologi penyebaran Islam Aswaja di Indonesia yang toleran dan ‘berdamai’ dengan tradisi serta tali-temali sampai Rasulullah, menjadikan Islam di Indonesia dapat diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk Nusantara dan bertahan lama.

“Tradisi keagamaan yang dibungkus dengan budaya dan tidak bertentangan dengan syariat, dapat dijadikan sarana ampuh membangun silaturahmi dan kebersamaan warga. Maka rutinan tahlilan malam Jumat yang diadakan warga NU, bisa menjadi jimat,” paparnya dalam acara yang dihadiri pula oleh pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Boyolali. (siswanto ar/ ros, adb)

Comments