“Hadirkan” Hamzah Sahal di Seri Terakhir Diklat GLM

0
249
Hamzah Sahal, narasumber seri terakhir Diklat GLM LP Ma’arif PWNU Jateng

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Tim Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP Ma’arif PWNU Jateng menyelenggarakan webinar Diklat GLM ke-16 melalui aplikasi zoom, Senin (10/8/2020). Pada kesempatan itu, mengusung tema “NU dan Politik Media”.

Dalam webinar seri terakhir ini, Sekretaris PWNU Jateng, KH. Hudallah Ridwan Naim, dalam prakatanya mengapresiasi kegiatan itu. “Meski di tengah pandemi, LP Ma’arif PWNU Jateng tetap melakukan kegiatan seperti ini. NU dan media sangat erat kaitannya, sudah jelas seperti ini, melalui aplikasi zoom, dapat menghadirkan Mas Hamzah Sahal,” katanya.

Disampailannya, media sebagai alat, bergantung bagaimana kita mengembangkannya. “Dengan media seperti ini bukan tanpa problem. Informasi dari berbagai media, baik online, koran, media sosial, dan sejenisnya bisa diserap. Namun ada keterbatasan untuk klarifikasi (tabayun),” terangnya.

Dikatakannya, peran media sangat penting sebagai sumber informasi dan pengetahuan. “Informasi tentang negara, agama, kebudayaan semua bisa didapat dari media. Pertanyaannya adalah, informasi yang diproduksi media ini independen atau digerakkan oleh kekuatan tertentu, itulah yang perlu didalami,” paparnya.

Founder Alif.id sekaligus pegiat media NU, Hamzah Sahal, menyampaikan materi “Wajah NU di Media”. Dia mengawali dengan mengulas sejarah literasi, tradisi tulis-menulis, hingga turats di kalangan kiai-kiai NU.

Dia menyontohkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang menulis banyak kitab. “Juga para kiai lain semisal Mbah Soleh Darat, Kiai Mahfud Shiddiq, Gus Dur, Mahbub Djunaidi, Ahmad Tohari, dan lainnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, sebelum media massa berkembang begitu pesat, NU memiliki beberapa media seperti Suara Nahdlatul Ulama, Utusan Nahdlatul Ulama, Berita Nahdlatul Ulama, Suara Ansor, Majalah Suluh Nahdlatul Ulama yang mengiringi berdirinya LP Ma’arif NU, lalu LINO dan lainnya.

“Uniknya itu hampir tiap media ada dan melatarbelakangi berdirinya Banom atau lembaga NU,” jelasnya. “Tradisi literasi kiai-kiai NU itu sudah terbangun sejak dulu. Banyak kiai NU menulis kitab kuning, nulis dengan aksara pegon, berkembang di media majalah pemberitaan, menjadi jurnalis, dan hingga kini berkembang di media digital,” paparnya.

Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng, R. Andi Irawan, menjelaskan, materi NU dan Politik media. “Media massa saat ini memang dikuasai tiga kelompok besar. Perang ideologi itu yang pertama adalah dikuasai kaum kapitalis. Media dijadikan hiburan, film, gosip, horor, seks, dan tontonan lainnya. Mereka murni untuk bisnis, industri,
Kedua adalah ideologi dakwah, di mana banyak terjadi perebutan makna dan peran.

“Ideologi ini saat ini mengarah pada penguasaan media yang menyuguhkan ceramah, dengan narasi yang cenderung radikal, jihadi, bukan Islam santun,” tegas dia.

Ketiga, ideologi kekuasaan yang mengharuskan ada momunikasi politik. “Itu bisa dilihat dari yang terjadi di Indonesia saat musim politik,” ungkapnya diamini Hamidulloh Ibda, koordinator GLM. (aklis/ ibd, ros, adb, rid)

Comments