Habib Bidin : Majelis Sholawat Jangan Sekadar Label dan Jangan Dikotori

0
2559
Selapanan Jum’at kliwonan Majelis Az-zahir Pekalongan

PEKALONGAN, Suaranahdliyin.com – Majelis sholawat akan memberikan banyak manfaat tidak hanya kepada jamaah, tetapi juga daerah sekitar dan alam semesta. Sayangnya dalam majelis seperti itu pula terkadang dicemari oleh oknum tertentu untuk berlaku maksiat.

Menanggapi hal tersebut, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf (Habib Bidin) memberi nasihat agar tidak menganggap majelis sholawat sebagai label belaka. Tetapi juga harus tahu dan meneladani akhlak Rasulullah sehingga tercipta sikap dan kepribadian yang baik dalam diri.

“Majelis seperti ini ada karena kita sadar kita membutuhkan syafaat. Majelis seperti ini jangan hanya sekadar simbol,” ujarnya dalam Rutinan Majelis Az-Zahir Malam Jumat Kliwon, Kamis (05/12/19).

Pertanyaannya, lanjut Habib Bidin, akhlaknya Nabi ada di mana? Ingatmu kepada Rasulullah kapan dan di mana? Sejauh mana kita bisa meneladani perilaku dan akhlak beliau?

“Pernahkah kita setelah bangun tidur langsung ingat Rasulullah, sebagaimana beliau yang selalu mengingat kita, umatnya?” kata Habib Bidin.

Habib Bidin emudian memaparkan bahwa jalan untuk sampai kepada Allah hanya satu. Tidak ada jalan lain terkecuali bernama Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

“Ridla Allah lewat jalan Muhammad, Berkah Allah lewat Muhammad, semuanya bergantung pada Nabi Muhammad,” ujarnya.

Habib Bidin mengingatkan agar semua jamaah pecinta sholawat bisa menjaga sikap ketika mengikuti majelis sholawat. Jangan malah mengotorinya dengan maksiat seperti pacaran, jogetan dan lain sebagainya.

“Tolong kalau belum siap ke majelis sholawat, di rumah saja dulu tidak apa-apa. Jangan dipaksakan lalu mengotori majelis sholawat dengan maksiat,” pintanya.

Pada kesempatan itu, Habib Bidin juga mengulas manfaat yang didapat sebab membaca riwayat orang saleh dan Rasulullah.

“Berkat sholawat, diganti dengan rahmat, diganti dengan perdamaian, diganti dengan berkah oleh Allah,” doa Habib Bidin.

Habib Bidin menjelaskan siapa yang membaca riwayat orang saleh itu seakan menjadi tentaranya Allah di muka bumi. Tentara itu lah yang akan menghalau fitnah dan musuh-musuh Allah di bumi.

“Setiap hari tidak pernah bosan. Gunanya apa? Untuk menghalau fitnah atau orang-orang yang ingin merusak negeri kita tercinta Indonesia,” doanya diamini jamaah yang hadir.

Dengan begitu pula, imbuh Habib Bidin, semua orang bisa berdakwah. Sebab yang berdakwah sebenarnya bukan hanya ulama, penceramah, atau pun da’i tetapi semua orang yang hadir ke majelis ilmu, dzikir dan shalawat juga dihitung berdakwah.

“Semua panjenengan yang hadir ini apabila khusyuk juga disebut sebagai tentaranya Allah untuk menghalau musuhnya, juga disebut berdakwah,” jelas cucu Habib Abu Bakar Assegaf Gresik ini.(rid/adb)

Comments